Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ramadhan di Mancanegara

Panasnya bikin Mimisan, Nikmatnya Bisa Umrah

Ahmad
Terakhir diupdate: 31 Juli 2013 07:53 7:53 am
Ahmad
Dipublikasikan 31 Juli 2013 07:53
Bagikan
Suasana Iftar di Madinah.
Bagikan

PENGALAMAN puasa Ramadhan di Madinah saya awali saat masih menjadi  mahasiswa baru yaitu ketika tahun 2006-2007. Awalnya,  berpuasa di Madinah pertama kali cukup sulit, itu dikarenakan kami baru pertama kali merasakan puasa di luar negeri dan Madinah (Saudi Arabia) yang merupakan kota yang cukup panas.

Kebetulan, kala itu musim panas tiba dengan suhu mencapai 45 derajat celcius. Ditambah lagi di Madinah jika musim panas tiba waktu siang lebih lama ketimbang waktu malamnya dan begitu sebaliknya, di musim dingin di mana malam lebih panjang daripada siang, berbeda keadaannya dengan saat kami berpuasa di Indonesia yang memiliki iklim tropis tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin dan perbedaan rentangan waktu antara waktu sahur dan saat berbuka antara bulan/musim yang satu dan yang lainnya tidak jauh berbeda.

Kendala cuaca yang cukup panas ini, tidak jarang beberapa orang mahasiswa mengalami mimisan.

Yang istimewa, puasa di Madinah cukup istimewa, itu disebabkan karena penduduk Madinah merayakan kedatangan bulan tersebut dengan banyak bersedekah dan memberi, puncak kebahagiaan tersebut dapat kita rasakan begitupun halnya dengan jamaah umrah yang saat itu berada di Madinah khususnya di masjid Nabawi, di mana para Muhsinin/faa’ilul khair (dermawan) berlomba-lomba menyajikan hidangan berbuka di sekitar pelataran masjid Nabawi.

Bisa dibilang, soal makanan berlimpah, tak perlu khawatir. Kurma, yoghurt haitsah (sebuah makanan khas Madinah yang terbuat dari roti dan kurma yang dihaluskan dengan mesin seperti blender) dipadu dengan segelas zam-zam dan secangkir kopi Arab (gahwa) atau teh manis hangat, tumpah ruah.

Baca Juga

Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
Seluruh Sopir Taksi Dubai Diberi Uang Bonus Ramadhan

Usai berbuka, para jamaah menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Usahai shalat di masjid Nabi, jamaah keluar ke sekitar pelataran masjid untuk mengantri pembagian makanan berat seperti nasi dan ayam khas Arab (mandi, biryani dll) ataupun ayam broast yang ditemani dengan 1 buah roti shamuli.

Adat antara satu kota dengan kota yang lain di Arab Saudi tidak jauh berbeda, di mana ummat Muslim di Arab Saudi berbuka puasa kemudian shalat dan setelah shalat tidak sedikit yang mencari menu makanan berat seperti di atas, namun ada juga yang menunda makan makanan berat hingga setelah shalat tarawih/witir.

Seperti halnya kegiatan di Indonesia, saat berpuasa mahasiswa  melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti tadarrus, shalat Dhuha dll dan menjelang maghrib berangkat menuju masjid Nabawi dan pulang setelah sholat tarawih/witir. Untuk diketahui bahwa jarak antara kampus Universita Madinah (tempat saya kuliah) dengan masjid Nabawi lebih kurang 8 KM. Jadi pulang pergi mahasiswa harus menggunakan mobil atau bus yang disediakan oleh kampus.

Kegiatan seperti itu merupakan kegiatan mahasiswa dari tanggal 1-19 Ramadhan. Sedang, pada tanggal 19 malam setelah tarawih/witir di masjid Nabawi mahasiswa yang hendak melakukan i’tikaf di masjidil haram bersiap-siap packing (mengemasi, red.) barang dan menyiapkan 2 helai kain ihram untuk digunakan umrah pada hari selanjutnya tanggal 20 Ramadhan.

Usai umrah para mahasiswa mencari tempat untuk i’tikaf di mana tanggal 20 Ramadhan malam (tarawih untuk malam ke-21) sudah mulai masuk 10 hari terakhir untuk menggapai lailatul qadar di masjidil haram, dan di 2 masjid tersebut (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram) pada malam ke 21 melaksanakan shalat sunnah tambahan, yaitu shalaatul qiyaam 11 raka’at 8 tarawih 3 witir.

Pada hari biasa yaitu malam 1-20 Ramadhan jumlah raka’at shalat tarawih di 2 masjid (Masjidil Haram dan masjid Nabawi) dengan total berjumlah 23 (20 tarawih dan 3 witir) namun pada 10 malam terakhir Ramadhan jumlah raka’at di 2 masjid berubah menjadi 31 raka’at dengan rincian (20 rakaat tarawih setelah isya tanpa witir kemudian istirahat, dilanjutkan malam hari jam 01.00, 8 raka’at qiyaam 3 raka’at witir).

Untuk mengingatkan bangun sahur di Madinah dilakukan dengan cara 2 adzan. Adzan pertama untuk membangunkan sahur dan adzan berikutnya 1 jam sebelum adzan yang kedua yaitu adzan subuh.

Bersilaturrahmi

Umumnya para mahasiswa Indonesia di Madinah bertelebaran di Makkah al Mukarramah, karena biasanya selama 10 hari terkhir banyak mahasiswa yang memilih umrah atau langsung beri’tikaf  di masjid tersebut.

Saat berlebaran kami tidak di Madinah namun kami berlebaran di Makkah, karena sebagian mahasiswa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di masjid Nabawi di Madinah sedang sebagian yang lain melaksanakan i’tikaf di Masjidil Haram di Makkah.

Tak seperti di Indonesia, saat lebaran Saudi terasa asing karena sepi. Namun ramainya justru sebulan penuh, selama Ramadhan.

Bagi kami melaksanakan Idul Fitri yang sepi semua tergantikan dengan adanya kawan-kawan mahasiswa yang ada di sekitar kami. Kadang kami berlebaran bersama-sama kawan-kawan TKI yang ada di Arab Saudi karena memang TKI jumlahnya terbesar di Saudi. Jadi tidak jarang kami dapatkan tawaran mampir untuk berlebaran di rumahnya.

Ada juga beberap kawan mahasiwa yang merayakan lebaran di Jeddah seperti kami sendiri di Sharafiyyah Khaleed bin Al-Waled Street, Jeddah, KSA.

Ada juga yang tetap memilih di Madinah bersama-sama mahasiswa-mahasiswa yang lainnya. Atau di rumah para senior yang telah membawa istri dan keluarga di Madinah. Bahkan ada yang hanya merayakannya di kampus Universitas Islam Madinah saja.

Umumnya para mahasiwa di Makkah dan Madinah akan bergegas menuju Jeddah untuk bersilaturrahim dengan pejabat Indonesia yang bertugas di Konsulat Jenderal RI di Jeddah.

Di Jeddah, kerinduan kami akan tanah air cukup terobati, apalagi jika sudah disajikan makanan khas Indonesia oleh pihak KJRI. Wow, selasa di rumah sendiri.

Nikmat libur lebaran terasa lebih menyenangkan ketika kami diajak oleh Sstaff Lokal KJRI Jeddah mancing di pantai Jeddah yang terkenal dengan sebutan Al-Hamraa’.

Kami tinggal di Jeddah cukup lama sebab liburan di kampus juga lumayan panjang ketika Idul Fithri tiba, terlebih para masyayikh (para syeikh) dosen-dosen juga mudik di kampung mereka sendiri-sendiri, sebagaimana halnya  warga Indonesia.*/Jihad El-Banna Quthuby, Mahasiswa S2 jurusan Dakwah, Universitas Islam Madinah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jeddahmasakan khasrakaatRamadhan di MadinahSaudiumrahUniversitas Madinahwitir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PPI Yaman akan Gelar Simposium Nasional Kebangsaan
Tulisan selanjutnya Ditahan di Fasilitas Militer, Mursy Dikunjungi Uni Eropa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ramadhan di Mancanegara

70.000 Jamaah Berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk Shalat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

9 Mei 2021 11:22
Ramadhan di Mancanegara

Hadapi Gelombong Kedua Covid-19, Mesir Melakukan Penguncian jelang Hari Raya Idul Fitri

6 Mei 2021 14:00
Ramadhan di Mancanegara

Usia 72 Tahun Tak Halangi Nenek Ini Khatam Al-Quran Meski Gunakan Kaca Pembesar

30 April 2021 10:59
Ramadhan di Mancanegara

Bek Leicester City Berterima Kasih pada Lawan Main setelah Diizinkannya Berbuka Puasa

28 April 2021 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?