Hidayatullah.com– Politisi asal Sulawesi Selatan, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, mengajak umat Islam untuk memasang target-target selama Ramadhan 1440H ini. Mulai target pribadi, target keluarga, target ke masyarakat, hingga secara lebih luas bagi bangsa dan negara.
“Harus ada target-target prestasi kita, secara pribadi, keluarga juga kelembagaan bahkan sampai ke tingkat masyarakat,” ujarnya saat memberi kuliah subuh di sebuah masjid di Kota Depok, Jawa Barat, pada 1 Ramadhan 1440H, Senin (06/05/2019).
Senator DPD RI ini menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan suci yang sangat luar biasa. Ini kesempatan bagi umat Islam untuk memujahadahkan kemenangan. Baik kemenangan dalam skala kecil, skala nasional, bahkan internasional.
Aziz pun mengajak umat untuk senantiasa berdoa bagi kebaikan Indonesia ini. Doakan bangsa ini agar diselamatkan dari orang-orang yang dzalim, misalnya, sehingga Indonesia diberi kemenangan.
“Kita harus benar-benar mujahadahkan,” ajaknya.
Aziz mengingatkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Negeri ini pun didirikan oleh para ulama. Sehingga, umat Islam sudah sepatutnya menjaga negeri ini.
Ia pun menyindir orang-orang yang tidak memperdulikan urusan politik di negeri ini.
“Ada orang yang tidak terlalu serius soal negara. Dikiranya negara ini negara thogut yang dibikin oleh orang bahlul. Padahal negara ini didirikan oleh para ulama,” tegasnya.
Yang terpenting pula, Aziz mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan Ramadhan, secara khusus dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan Al-Qur’an.
Aziz menyebut, ada tiga hal menonjol pada Ramadhan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pertama, keseriusan dalam melakukan tilawah, tadarus, dan tadabbur Al-Qur’an. Kedua, kemenangan umat Islam dalam Perang Badar. Ketiga, Fathul Makkah atau Pembebasan Makkah.
Ia menjelaskan, ketiga interaksi dengan Al-Qur’an itu harus jadi kesibukan utama di Ramadhan, itu belum termasuk yang keempat, yaitu mengamalkannya, yang juga penting.
Menurutnya, walau hanya dibaca tanpa mengerti artinya itu sudah bagus, sudah memberi makan bagi rohani seorang Muslim, sebab wahyu merupakan makanan bagi rohani. “Makanan rohani kita yang pertama itu adalah Al-Qur’an,” ujarnya di depan beratus-ratus jamaah.
Ia mengatakan, jika seorang Muslim tidak membaca Al-Qur’an, maka rohaninya bisa mati. “Kalau tak tertarik mempelajari Al-Qur’an, itu hatinya sudah terkunci.”
Selain membaca, lebih ideal lagi jika Al-Qur’an jika didaras dan ditadabburi, merenungkan ayat demi ayatnya.
“Kelas kita tidak boleh hanya sampai membaca Al-Qur’an, harus sampe ke tingkat tadabbur,” ajaknya menyemangati para hadirin.
Menyinggung Perang Badar, Aziz menuturkan bahwa pada saat umat Islam menghadapi kaum kafir yang jumlahnya berlipat-lipat lebih banyak. Sehingga, sempat muncul perasaan ketakutan dari barisan Muslim. Hingga kemudian Rasulullah memanjatkan doa meminta pertolongan kepada Allah.
Umat Islam pun dimenangkan dalam Perang Badar berkat bantuan-Nya. “Ada pertolongan Allah. Ini perang paling legendaris,” jelas Aziz.
Merefleksikan Perang Badar yang terjadi di bulan puasa tersebut, Aziz menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan spiritual, tapi juga harus ada prestasi-prestasi di bidang lain yang harus dicapai, termasuk prestasi fisik.
“Mudahan mudahan saja nanti pada tanggal 22 Mei nanti kita juga akan mencapai kemenangan umat Islam sesuai Ijtima Ulama 1, 2, dan 3,” harapnya seraya disambut pekikan takbir.*