Hidayatullah.com–Bising suasana balapan liar di luar Masjid At Tin Taman Mini Indonesia Indah Kamis (09/08/2012) dini hari. Namun, lampu-lampu dinding di masjid itu telah menyentuh para penghidup malam. Ada sekat pemisah antara ruangan ikhwan (pria) dan akhwat (wanita). Gelap di tengah masjid berubah menjadi ruangan yang temaram.
Saat semua masih tertidur, ada seorang kakek di sebelah kanan masjid masih terus membaca Al-Qur’an. Di belakang kakek itu, nampak Ulil tertidur pulas.
Nampaknya tak ada tempat paling nikmat be-tahajud selain di bawah lampu temaram itu. Tepat, di belakang Ulil, hidayatullah.com menuntaskan 8 rakaat tahajud dan 3 witir.
Tak lama, ada Lelaki berbaju koko putih terbangun di sampingnya. Beberapa kali ia mencolek Ulil.
“Bangun, ,waktunya sahur,” ujarnya berulang kali.
Malam ini, Ulil sedang beritikaf di masjid At Tin. Di kala yang lain menghabiskan waktu balapan motor liar diluar Masjid At Tin malam itu, Ulil Justru menghabiskan waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dan menghidupkan malam dengan tahajud.
Ini bukan Ulil yang dikenal aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Ulil yang ini bukan si Ulil Abshar Abdala. Tapi Al Amiral Ulil Amri, atau biasa dipanggil Ulil oleh teman-temannya di SMP 20 Jakarta.
“Pengen (karena kesadaran) sendiri, pengen dapat pahala,” jawabnya kepada hidayatullah.com ketika ditanya alasan dan tujuan ikut i’tikaf.
Bagi Ulil, Ramadhan adalah waktu di mana ia selalu melatih diri untuk dekat dengan Allah. Pergaulannya di sekolah yang rentan akan kelabilan membuat dia ingin mengikuti jejak sang kakak, yang dinilai sosok teladan yang selalu mengajarkannya tentang menjalankan aturan agama.
Kakanya, tak lain adalah Al Aziz, lelaki yang masih tercatat sebagai mahasiswa Gunadarma jurusan Teknik Elektro. Azis mengaku tak pernah ridho jika adiknya, Ulil, hidup jauh dari agama. Aziz sendiri mengaku, sudah ikut pengajian di sekolahnya.
“Dari SMA sudah ikut Liqo’, sampai sekarang juga alhamdulillah masih liqo’,” jelas lelaki tinggi berkacamata itu.
Liqo;, istilah beken dari nama lain pengajian kelompok tarbiyah, hal yang diakui Aziz telah membuat dia lebih mengenal Islam.
Ramadhan ini, Aziz dan Ulil memiliki target ingin menggapai malam Lailatul Qadr. Karenanya, kedua kakak-beradik ini ingin menjadi pribadi yang baru di hari yang Fitri nanti.
Mereka ingin menjadi generasi Islam yang bertambah dan bertambah sholeh. Senyum dan haru sepantasnya menguatkan kita. Di saat banyak anak muda terlena dengan kehidupan dunia, ada anak-anak muda berharap bisa menjaga agamanya.
Semoga Alla menjadikan dua bersaudara ini menjadi pembela agama yang Agung ini.*