SAMBIL mengemudi mobil ke kantor, yang sering saya lakukan adalah mendengarkan kaset bacaan ayat-ayat suci al-Quran oleh qari terkenal Masjidil Haram, Makkah, Syeikh Abdulrahman Al-Sudais. Tapi mendengar sang Syeikh membaca ayat-ayat suci al-Quran di bulan Ramadhan membawa dampak tersendiri yang sulit digambarkan, di banding bulan-bulan lain.
Mendengar dan mengamati di bulan Ramadhan, hati terasa benar-benar sejak. Kalammullah itu meresap jauh ke lubuk hati paling dalam sehingga tak sadar kelopak mata sering berlinang air mata.
Barangkali inilah kelebihan bulan Ramadhan seperti dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai bulan ampunan dosa, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Juga bulan yang bisa membentuk hati manusia yang keras menjadi selembut sutera.
Syeikh Abdulraham Al-Sudais telah dikaruniai Allah dengan suara yang merdu. Saya menyukai bacaan beliau sudah lebih 20 tahun, kaset-kasetnya banyak saya simpan.
Pernah berangan-angan untuk bertemu beliau, dan alhamdulillah Allah Subhanahu Wata’ala telah memperkenankan hajat itu, pada Musim haji 2006 dapat melihat dari dekat imam terkenal Masjidil Haram itu serta berkesempatan mengerjakan shalat dengan berimamkan beliau selama berada di Tanah Haram.
Malam lalu, perkampungan Ramadhan (Qaryah Ramadhan), Dataran Stadium Sulan Muhammad Ke-IV, Kota Bharu, Kelantan, saya melihat dengan takjub, dua wanita Inggris sedang duduk di belakang jamaah Muslimah yang tengah shalat tarawih melihat umat Islam sedang beribadah. Anak-anak mereka yang berusia sekitar empat dan lima tahun dibiarkan berlari-lari di ruang kosong antara batas jamaah.
Dari penampilan, terutama pakaiannya, mungkin mereka bukan wanita Muslim, kebetulan, saya hanya singgah di Qaryah Ramadhan semata-mata tertarik dengan situasi perkampungan Ramadhan yang dibuat Pemerintah Negeri Kelantan sejak 6 tahun tahun dengan bercirikan “Padang Arafah” di Makkah.
Situasi seperti ini tidak ada di tempat lain. Di sini jamaah shalat dalam tenda besar, ber AC, yang bisa memuat lebih dari dua ribu jamaah, sementara di luar tenda juga tersedia tikar.
Entah apa yang membuat wanita Inggris itu tertarik. Boleh jadi saat melintas lokasi itu, mereka mendengar alunan bacaan ayat-ayat suci al-Quran oleh qari yang diundang khusus dari Mesir untuk menjadi imam shalat sunat tarawih sepanjang Ramadhan ini. Suara sang qari’ memang punya kemiripan dengan Syeikh Abdulrahman Al Sudais.
Wanita Inggris itu lantas tertarik dan duduk-dukuk di situ dengan santai.
Banyak jamaah yang hadir dan lalu lalang memperhatikan gelagat wanita asal Eropa tersebut dengan sekuntum senyum.
Usai shalat tarawih, saya mendapati kembali wanita itu. Lebih tekejut lagi, saya sudah mendapatinya sudah dengan mengenakan kerudung dan tengah berpotret dengan para jamaah shalat.
Sementara saya membisikkan sebuah doa dan harapan; semoga di bulan Ramadhan yang penuh barakkah ini Allah Subhanahu Wata’ala memberikannya hidayah dengan menyinari mereka dengan cahaya Islam suatu hari nanti. Amin.*/Rossem, Kelantan, Malaysia