Oleh: Amira Abo el-Fetouh
PEMBANTAIAN Raba’a Al-Adawiyya dan Al-Nahda masih membayang-bayangi pikiran saya, dan hati saya menolak melepaskannya. Lima tahun yang berlalu tidak dapat membalikkan halaman di mana bagian itu berada, karena bagian itu tidak seperti bagian lain; sebuah bagian yang tidak ada bandingannya dalam sejarah Mesir. Itu adalah sebuah tempat gelap yang menyelubungi sekelilingnya dengan kegelapan; bagian di mana hati nurani Mesir mati dan terkubur di depan mata seluruh dunia.
Hati nurani dari mastermind dibalik pembantaian telah mati, begitu juga hati nurani para petugas yang melaksanakannya, menarik pelatuk dan membunuh rekan Mesir ‘tidak bersenjata dan lemah’ mereka yang tidak memiliki apapun untuk melindungi diri mereka dari hujan peluru. Hati nurani orang-orang Mesir yang menghasut pembunuhan dan turun ke jalan untuk bernyanyi dan menari di atas jasad-jasad yang terbakar, menyanyikan Teslam El-Ayadi (Diberkatilah tanganmu) untuk para tentara, juga telah mati. Demikian pula hati nurani mereka yang duduk di depan televisi menyaksikan api dan asap memenuhi langit dan tanah dipenuhi dengan jasad dan darah orang-orang tak bersalah dan tidak melakukan apapun.
Saya bahkan bisa mengatakan hati nurani dunia telah mati pasca hari menentukan itu, karena sejauh ini kecaman dan kutukan pembantaian terhadap pembantaian abad ini ragu-ragu dan lembut. Almarhum Raja Abdullah dari Arab Saudi bahkan mendukung pertumpahan darah ini. Bagaimana dia tidak mendukungnya ketika dia adalah sponsor dan pendukung utama finansial dari kudeta militer 3 Juli 2013 di Mesir?
Bagaimana saya bisa melupakan apa yang terjadi di Raba’a Al-Adawiya dan Al-Nahda Square, pembantaian terburuk dalam sejarah modern, ketika ribuan dibunuh hanya dalam beberapa jam saja? Bagaimana Saya bisa melupakan penipuan “jalur aman” di mana itu adalah jaring yang mereka lemparkan untuk menangkap para demonstran tak bersenjata bertujuan untuk membunuh mereka? Bagaimana Saya bisa melupakan kebrutalan mereka menyingkirkan peralatan medis yang digunakan untuk merawat korban luka di rumah sakit lapangan? Bagaimana bisa Saya melupakan kekejian mereka membakar rumah sakit yang sama untuk membakar jasad-jasad para martir di dalamnya? Bagaimana Saya bisa melupakan kekejaman mereka yang membakar Masjid Raba’a Al-Adawiya? Bagaimana Saya bisa melupakan otak-otak yang berhamburan dari kepala para korban? Bagaimana Saya bisa melupakan teriakan anak-anak kecil dan ketakutan mereka dan horor dari peluru dan api? Bagaimana Saya bisa melupakan seorang ibu tua yang menangis sembari memeluk anak laki-lakinya, “Mereka membunuhmu dan mereka tidak mengetahui bahwa kamu adalah tempat aku bergantung setelah ayahmu tiada”? Bagaimana Saya bisa melupakan seorang pemuda yang berdiri di depan jasad ibunya dan mengatakan, “Aku mohon padamu, bangunlah”? Bagaimana Saya bisa melupakan semua pemandangan mengerikan ini? Bagi Saya waktu telah berbenti sejak 14 Agustus 2013, hari kelam dalam sejarah Mesir, yang tidak pernah menyaksikan pembantaian seperti itu.
Para pelaku pembantaian masih hidup dan sehat, serta hidup mewah. Mereka tidak dibawa ke pengadilan meski fakta bahwa pembantaian dilakukan di depan pandangan penuh dunia dan telah kejahatan yang dilakukan hari itu diketahui. Anehnya, pengadilan Mesir yang dulunya bermartabat menjatuhi hukuman mati mereka yang selamat dari demonstrasi Raba’a Al-Adawiya dan Al-Nahda sebagai jalan untuk menangkap mereka yang lolos dari pembunuhan hanya untuk menumpahkan darah mereka di bangku pengadilan.
Baca: Masjid Rabi’ah Al Adawiyah ikut Jadi Korban Pembakaran
Lima tahun telah berlalu sejak peristiwa Raba’a Al-Adawiya dan Al-Nahda, namun masih ada banyak rahasia dan misteri yang belum terpecahkan. Bahkan Dr Mohamed ElBaradei, yang merupakan Wakil Presiden Mesir sementara kala itu, yang ditunjuk sebagai formalitas oleh pemimpin kudeta, tidak mengungkapkan apa yang harus dia ketahui di balik pintu-pintu ruangan yang tertutup di mana pembantaian direncanakan. Dia dengan senang hati menyerahkan pengunduran dirinya setelah pembantaian terjadi dan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk mereka. Dia kemudian mengemasi tasnya dan pergi untuk selamanya, hanya memposting beberapa tweet di sana-sini dan melakukan sejumlah wawancara televisi di mana dia berusaha membebaskan dirinya dari tanggung jawab apa pun atas apa yang terjadi pada hari itu.
Namun, dia tidak menunjuk mereka yang melakukan pembantaian dan apa yang terjadi di balik layar, meskipun fakta bahwa sebuah testimoni darinya dapat memicu proses pidana di pengadilan internasional, terutama mengingat bobot politiknya di tingkat global. Dia tidak melakukan tindakan seperti itu, dan tidak mengambil tindakan apa pun untuk menenangkan hati nuraninya.
Mantan Menteri Luar Negeri Qatar, dan Menteri Pertahanan saat ini, ialah Khalid Bin Mohammed Al-Attiyah. Dia membuat pernyataan dalam sebuah wawancara televisi setelah pembantaian mengatakan bahwa terjadi negosiasi antara kedua pihak dan bahwa ElBaradei ditugasi oleh pemerintah yang memimpin kudeta untuk bernegosiasi atas nama pemerintah. Mereka, tampaknya, hampir mencapai solusi damai untuk menghentikan pertumpahan darah, yang inilah mengapa pejabat Qatar itu sehari kemudian terkejut oleh pembantaian itu. Dia mengulangi pernyataannya beberapa bulan lalu dalam wawancara yang berbeda. Jadi siapa yang menghalangi negosiasi dan mencegah solusi damai; yang menginginkan pembantaian untuk menunjukkan kekuatan dan kemampuan mereka untuk mengirim pesan ke pihak lain?
Kami segera mendengar banyak perbincangan setelah pembantaian tentang penuntutan dan tindakan hukum sedang diambil di pengadilan internasional terhadap mereka yang bertanggungjawab; Human Rights Watch bahkan menyebutkan nama para pelaku. Ikhwanul Muslimin mempekerjakan salah satu firma hukum terbesar di Inggris untuk mengajukan gugatan, tapi beberapa mengatakan bahwa itu ditolak dan kemudian orang lain mengatakan bahwa itu akan diajukan di negara lain. Bagaimanapun, kita tidak mendengar apa-apa lagi tentang hal itu.
Saya khawatir ini akan dilupakan, terutama sejak negara ingin menutupi jejak-jejaknya, dan UUD imunitas petugas militer yang dikeluarkan baru-baru ini oleh Dewan Legislatif diloloskan hanya karena takut akan pertanggungjawaban hukum di masa depan, khususnya karena kejahatan semacam ini tidak memiliki undang-undang pembatasan. Pasal 7 dari Statuta Roma, yang menjadi dasar Pengadilan Kejahatan Internasional, mengklasifikasikan apa yang terjadi sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan Pasal 15 dari dokumen yang sama mengharuskan Jaksa Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) untuk menyelidiki kejahatan semacam itu.
Baca: Ulama Al-Azhar Korban dalam Tragedi di Lapangan Rabi’ah Al Adawiyah
Sayangnya, pengadilan itu telah menolak permintaan sejumlah pengacara untuk menyelidiki pembantaian karena mereka tidak dilayangkan atas nama negara Mesir, dimana negara ini bukanlah bagian dari Statuta Roma, yang meliputi yurisdiksi Pengadilan Pidana Internasional (ICC) atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan di wilayah negara-negara anggota atau oleh warga negara anggota.
Investigasi ICC tentang kasus-kasus yang berkaitan dengan Mesir hanya terjadi berdasarkan penerimaan negara atas yurisdiksi pengadilan atau rujukan oleh Dewan Keamanan PBB, yang terjadi untuk Darfur. Sungguh ironis bahwa orang yang tidak setuju untuk menandatangani Statuta Roma adalah Presiden Mohammad Mursi.
Selama berbulan-bulan, beberapa organisasi HAM telah berupaya membuka kasus itu dan memindahkannya melalui Dewan HAM PBB. Jika mereka berhasil, itu akan membuka penyelidikan internasional yang netral ke pembantaian dan mungkin mengarah pada pengadilan para pelaku.
Akhirnya, penting untuk mencatat apapun yang terjadi dalam pembantaian Raba’a Al-Adawiyya dan Al-Nahda dalam bentuk video, foto dan testimoni para saksi mata yang selamat. Mereka perlu dikumpulkan dan diwariskan oleh generasi berikutnya untuk menjaga memori tetap hidup. Apa yang terjadi pada hari itu tidak boleh dilupakan.
Raba’a adalah luka mendalam dalam jiwa kita yang belum sembuh karena para pelaku tidak dibawa ke pengadilan. Al-Qur’an Surat al-Baqarah sudah jelas: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”
Saya menulis artikel ini seolah-olah pembantaian baru saja terjadi. Saya merasa waktu benar-benar berhenti pada tanggal 14 Agustus 2013, hari ketika hati nurani Mesir mati.*
Tulisan ini dimuat oleh Middle East Monitor (MEMO), diterjemahkan Nashirul Haq AR