Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Sisi Lain Krisis Diplomasi Qatar versus Saudi dan UEA

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Juni 2017 12:55 12:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Juni 2017 13:52
Bagikan
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani
Bagikan

Oleh:  Huda Jannat                       

 

BANYAK yang menyangka bahwa penyebab utama retaknya hubungan diplomasi antara Qatar dan Negara teluk lainnya adalah seperti apa yang diberitakan oleh media-media massa. Diantaranya dukungan Qatar bagi Ikhwanul Muslimin (IM), bersekutunya Qatar dan Iran dan pernyataan terakhir PM Qatar.

Dengan berat hati saya katakan bahwa penyebab sebenarnya bukanlah semata-mata seperti yang disebutkan di media massa dan media sosial. Apa yang telah beredar di semua media hanyalah pengalihan isu untuk menutupi penyebab sebenarnya.

Selamanya apabila ada krisis atau konfilk di ranah politik maka pasti penyebabnya adalah kepentingan ekonomi atau lebih tepatnya uang. Siapapun sepakat bahwa terputusnya hubungan antara Qatar dan Arab Saudi terjadi setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengunjungi Saudi dan dari kunjungan tersebut ia dapat “oleh-oleh” sebesar 500 milyar dolar AS.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Sebetulnya angka ini tidak benar, karena sebelum Trump mengunjungi Saudi ia meminta kepada tiga Negara teluk untuk iuran kurang lebih sebesar 1,5 triliun dolar AS (1.500 milyar dolar AS). Dan dirinyapun kembali meminta iuran tersebut di atas meja sebelum ia meninggalkan Riyadh.

Donald Trump adalah presiden yang berpikiran layaknya seorang koboy atau pengembala sapi. Dia benar-benar yakin bahwa penghuni Negara-negara teluk baik itu pemerintah ataupun rakyatnya tak lebih dari seekor sapi yang memiliki harta banyak yang tak pantas ia miliki.

Baca: Qatar Buka Suara Pasca Pemutusan Hubungan Diplomatik Negara Teluk

Trump –dengan segala kebencian saya kepadanya– ingin pulang ke negaranya dan dikantongnya ada angka yang sangat besar sebagai oleh-oleh bagi rakyatnya. Angka tersebut yang akan meningkatkan ekonomi Amerika Serikat. Dan Trumppun tahu bahwa yang menjadi kepentingan rakyatnya adalah pertumbuhan ekonomi negaranya.

Hal inilah yang disampaikan Trump melalui tweet terakhirnya, “Saya kembali kepada kalian dengan membawa ratusan milyar dolar dari Timur Tengah,” demikian tulisnya. Dengan pencapaian di bidang ekonomi yang belum pernah di capai oleh presiden sebelumnya selama empat bulan sejak ia berkuasa tersebut Donald Trump ingin membungkam oposisinya.

Tiga Negara Teluk yang diharuskan memenuhi permintaan Donald Trump tadi adalah Qatar, Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Pertanyaannya, kenapa tiga negara tersebut yang diminta Trump untuk “iuran”?  Tidak lain karena pangkalan meliter AS terbesar dan ribuan marinernya ada di tiga negara itu.

Terjadi kesepakatan antara ketiga Negara Teluk tadi untuk membayar “fidyah”-jika benar penggunaan kalimat tersebut, dan memang benar karena mereka membayar untuk mengamankan  tahta kepala Negara mereka-kepada Trump.

Tetapi setelah itu Qatar menarik diri dari kesepakatan tersebut. Hal inilah yang membuat Saudi dan UEA marah dan mendorong mereka untuk balas dendam kepada Emir Qatar secara pribadi melalui pernyaan-pernyataan mereka dan dengan meretas situs-situs berita milik pemerintah Qatar.  Dilanjutkan dengan serangan-serangan informasi yang terus berlangsung hingga saat ini.

Ketiga Negara tadi tidak bisa mengungkapkan sebab yang sebenarnya yang ada dibalik konflik yang terjadi diantara mereka. Karena apabila diungkapkan maka hal ini akan membuat malu semuanya.  Mereka akan malu karena angka satu triliun dolar AS adalah angka yang fantastis dan melebihi anggaran ketiga Negara apabila dijumlahkan. Dan jika angka tersebut diungkapkan ke publik maka akan menyebabkan matinya ekonomi ketiga negara. Bursa-bursa mereka akan jatuh secara dramatis, para investor dan orang kaya akan kehilangan kepercayaan mereka kemudian mereka akan membawa lari harta mereka ke luar. Hal ini sangat mengancam keamanan nasional masing-masing negara ditambah lagi masalah-masalah lain yang akan menimpa ketiga negara tersebut akibat dibayarnya sejumlah uang tadi kepada Presiden AS.

Baca: Isolasi Qatar Tak Sesaikan Krisis, Erdogan Desak Negara Teluk Cabut Embargo

Hal lain yang menguatakan argumen ini adalah kemarahan Amerika Serikat terhadap Qatar yang tampak setelah Trump meninggalkan Riyadh.

Para politikus Amerika menyerang Qatar tanpa peringatan terlebih dahulu  dan sebagian mereka mengancam akan memindahkan pangkalan meliternya yang ada di Doha ke Negara-negara teluk lainnya atau ke Yordania.

Qatar memang dikenal dengan anggarannya yang besar selain bantuan yang jumlahnya tidak sedikit yang diberikan kepada beberapa kelompok gerakan Islam, baik yang ada di Libya, Suriah, Mesir dan Iraq. Ditambah lagi dengan anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan beberapa stadion karena Qatar akan menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2022.

Qatar hanya berusaha untuk menipu dan bukan menolak. Hal inilah yang membuat Negara-negara arab tetangganya marah. Mereka merasa ditipu dan dihina oleh Emir Qatar sendiri. Serangan balasan mereka pun nampak menyakitkan tetapi dari sisi lain nampak gegabah dan sederahana sehingga membuat sebab yang sebenarnya memjadi kabur.

Memang tidak masuk akal bila seseorang meyakini bahwa UEA dan Arab Saudi mengetahui persekutuan antara Iran dan Qatar sejak tiga hari yang lalu atau meyakini bahwa UEA dan Arab Saudi mengetahui dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin sejak satu atau dua bulan yang lalu. Kita tidak segampang itu meyakini bahwa konflik yang terjadi semata-mata disebabkan oleh koalisi Qatar-Iran.

Baca: Persatuan Ulama Internasional Kecam Pemutusan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Kita sepakat tentang hal ini (koalisi Qatar-Iran), pun Negara-negara teluk sudah benar-benar mengetahuinya dan bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Jika tidak, kenapa mereka tidak marah kepada Emir Kuwait ketika dia menerima kunjungan Presiden Iran dan mengadakan acara penyambutan resmi sebagai ungkapan kegembiraannya atas kunjungan tersebut?.

Dan juga kenapa mereka tidak marah kepada UEA yang nilai perdangangannya dengan Iran mencapai enam milyar dolar AS?

Kenapa mereka juga tidak marah kepada Kerajaan Oman yang merupakan sekutu strategis bagi Iran dan keduanya mempunya hubungan yang sangat istimewa? Semua negara tersebut merupakan anggota Dewan Kerjasama Negara-negara Tdan tergabung dalam beberapa kesepakatan. Kenapa kemarahan itu hanya ditujukan kepada Qatar?

Inilah bukti yang paling besar bahwa peyebab sebenarnya bagi konflik antara ketiga negara sama sekali tidak terkait baik dengan Iran maupun dengan Ikhwanul Muslimin dan Hamas.

Tetapi konflik itu merupakan efek dari kemarahan terhadap Emir Qatar yang melanggar janjinya dan tidak membayar bagiannya kepada Presiden Amerika Serikat sebagmana telah disepakati.

Hari ini Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar berdiskusi dengan Menlu Amerika mengenai konflik yang terjadi. Dan nampaknya krisis itupun akan segera berakhir. Tetapi solusinya tidak lain adalah bersedianya Qatar untuk membayar kepada Amerika dengan merendah seperti Negara lainnya (Arab Saudi & UEA) walupun dengan mencicil sedikit-demi sedikit.*

Penulis adalah wartawan The Quardian. Artikel berbahasa Arab ini diterjemahkan Fadli Maskur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Advigor Liebermanarab saudidaftar terordunia IslamekstrimismefitnahHAMAShubungan diplomatikHuda JannatIkhwanul MusliminIsaelKrisis Diplomasi QatarNegara telukOtoritas Palestinapemimpin ArabQatarterorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB Sebut Yayasan Amal Qatar Lembaga Amal Besar di Dunia Arab
Tulisan selanjutnya Anonymous dan Prox War Ancam Geopolitik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?