Banyak Muslim telah berintegrasi dengan sangat baik ke dalam kebiasaan dan budaya Argentina sehingga mereka kehilangan identitas Islam dan Arab mereka
Hidayatullah.com — Berakhir sudah perhelatan Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Argentina keluar menjadi juara usai menjalani pertandingan dramatis melawan Prancis.
Piala Dunia kali ini tidak hanya menampilkan persaingan sepak bola antar negara dunia, namun juga menampilkan keramahan Muslim dan Islam. Hal yang mustahil terjadi jika bukan karena tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar.
Kita juga melihat bagaimana orang non muslim akhirnya tertarik kepada Islam dan bahkan menjadi mualaf ketika Piala Dunia 2022.
Muslim Argentina
Argentina sudah lama dikenal akan kehebatannya di lapangan sepak bola. Dengan luas hampir 2,8 juta kilometer persegi, Argentina adalah negara terbesar kedelapan di dunia.
Negara Amerika Latin ini telah menghasilkan banyak bintang sepak bola selama bertahun-tahun dan terkenal dengan makanan anggurnya yang lezat dan bangunannya yang terkenal di dunia.
Namun, pernahkah kita mendengar tentang Muslim di Argentina? Pernahkah kita memikirkan bahwa di sana ada orang-orang yang mempraktikkan Islam? Mungkin tidak.
Kenapa? Karena minoritas muslim di negara asal Messi itu mendapat perhatian yang jauh lebih sedikit daripada komunitas muslim lain di Eropa atau Amerika Serikat.
Islam adalah agama yang berkembang di Amerika Latin, tetapi para pembuat kebijakan belum menyadari tren ini. Menurut Arsip Data Asosiasi Agama, sekitar dua persen warga Argentina adalah Muslim; pada dasarnya mereka mengakui Islam sebagai agama resmi mereka.
Identifikasi agama tidak dipertanyakan atau dipertimbangkan untuk statistik sensus nasional. Mayoritas warga Argentina beragama Kristen, tetapi sebagai negara sekuler, umat Islam di sana bebas membangun masjid.
Muslim juga bebas melakukan dakwah untuk mengajak orang-orang menuju kebenaran.
Undang-undang melarang diskriminasi agama dan mengharuskan mereka yang dinyatakan bersalah melakukan tindakan diskriminatif untuk membayar ganti rugi atau menjalani hukuman penjara.
Ini adalah sesuatu yang tidak kita lihat di banyak negara lain dan negara yang lebih maju dan dunia pertama, di mana serangan anti-muslim dan tindakan Islamofobia merajalela, dan umat Islam hidup dengan diskriminasi.
Bagaimana Islam masuk ke Argentina?
Akan menarik untuk mengetahui fakta bahwa kehadiran Muslim di Argentina saat ini berasal dari masa penjelajahan Spanyol selama abad ke-15 dan ke-16.
Saat para penjelajah Spanyol melakukan perjalanan ekpedisi melintasi dunia untuk menaklukkan bangsa-bangsa dan membawa mereka di bawah monarki Spanyol, Muslim atau yang mereka sebut Moor dari Semenanjung Iberia di Afrika Utara dan keturunan Spanyol ikut serta dengan kru ekspedisi.
Banyak dari mereka menetap di Argentina karena melarikan diri dari penindasan di Spanyol.
Gereja Katolik Roma dan Kerajaan Spanyol memerintahkan bangsa Moor ini untuk masuk Kristen atau menghadapi pengasingan usai Spanyol secara terbuka melarang praktik Islam pada abad ke-16.
Kerajaan Spanyol dan Portugis merasa tidak aman dan takut, bangsa Moor akan mendorong invasi baru dari Kekhalifahan Utsmaniyyah setelah jatuhnya Konstantinopel.
Jadi banyak (meskipun jumlahnya tidak jelas) muslim yang melarikan diri dari Spanyol dan bergabung menjadi kru di ekspedisi penjelajahan.
Pada abad ke-19, Argentina menyaksikan gelombang besar orang Arab keturunan Suriah dan Libanon masuk ke dalam perbatasannya. Meskipun sebagian besar orang Arab ini bukan muslim, melainkan Arab Kristen.
Dua masjid pertama Argentina dibangun pada tahun 1980an. Masjid pertama dibangun komunitas Syiah dengan dukungan Kedubes Iran dan dibuka pada tahun 1983. Dua tahun kemudian, komunitas Muslim Sunni membangun masjid pertama dengan arsitektur Islam.
Masjid Pusat Budaya dan Islam Raja Fahd, yang selesai dibangun pada tahun 1996 menjadi masjid terbesar di Argentina dan di Amerika Selatan. Pembangunan masjid di tanah seluas 20.000 meter persegi itu mendapat bantuan dari Raja Fahd bin Abdul Aziz, yang merupakan raja Arab Saudi saat itu.
Pusat Budaya dan Islam Raja Fahd tidak hanya berisi masjid, namun juga dua sekolah, satu perpustakaan dan sebuah taman.
Selain itu, terdapat pula sejumlah masjid di Argentina. Termasuk dua masjid di Cordoba, dua masjid di Mar del Plata dan satu masjid di El Bolson.
Muslim pada awalnya diabaikan oleh penduduk Argentina sampai tahun 1989 dengan terpilihnya tokoh kontroversial Carlos Menem sebagai presiden.
Menem dibesarkan oleh dua migran Suriah dan dia menjadi presiden pertama berdarah Arab. Meski Menem pada awalnya Muslim, ia kemudian murtad dan masuk kristen hanya karena ingin menjadi presiden.
Biarpun begitu, ia masih memiliki perhatian kepada Muslim Argentina. Menem termasuk mereka yang menyumbang untuk masjid Raja Fahd dengan menjual tanahnya seluas delapan hektar.
Banyak Muslim Argentina melihat masjid ini juga sebagai warisan dari Menem.
Problematika Muslim Argentina
Buenos Aires, kota terbesar di Argentina, menjadi saksi bagaimana sebuah agama yang tidak dilestarikan bisa sekarat dan pada akhirnya akan mati.
Selama abad ke-19 dan 20 sekitar setengah juta Muslim bermigrasi ke Argentina, tetapi meskipun pertumbuhan populasi, jumlah mereka yang mengakui dirinya sebagai Muslim jumlahnya stagnan. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan, mengapa jumlah Muslim tidak bertambah?
Ada beberapa alasan yang bisa kami temukan. Pertama, banyak Muslim Argentina menikah beda agama, sementara anak hanya memiliki satu orang tua Muslim dan tidak mengenal bahasa Arab sebagai bahasa pertama mereka.
Hal ini menyebabkan banyak dari mereka tidak mengetahui cara membaca atau mempelajari Al Quran, sementara anak-anak ini pada dasarnya berbicara bahasa Spanyol sebagai bahasa pertama mereka. Sementara akses ke literatur dan pengetahuan Islam dan bahkan transliterasi dan terjemahan Alquran tidak tersedia secara bebas.
Kurangnya pusat studi agama seperti madrasah juga menjadi masalah serius karena tidak adanya tempat yang menampung pemuda-pemudi yang tertarik dengan Islam..
Banyak Muslim telah berintegrasi dengan sangat baik ke dalam kebiasaan dan budaya Argentina sehingga mereka kehilangan identitas Islam dan Arab mereka. Ini adalah peringatan yang telah diajarkan kepada kita dalam Islam.
Agar kita tetap teguh pada keyakinan dan tradisi kita meskipun berada di sekitar orang-orang dari keyakinan dan budaya lain. Jika tidak, kita pada akhirnya akan mengikuti dan meniru mereka dalam setiap aspek kehidupan.
Jumlah Muslim yang mempraktekkan Islam tergolong sedikit. Di masjid-masjid besar pada hari Jumat, jamaah sholat Jum’at tidak lebih dari 20 orang, jumlah yang sangat rendah untuk sebuah negara yang memiliki setidaknya satu setengah juta Muslim.
Pada tahun 2011 pemerintah meloloskan undang-undang untuk mengizinkan wanita Muslim mengenakan jilbab di depan umum tanpa menghadapi penganiayaan. Selain itu, wanita Muslim diperbolehkan menggunakan foto berhijab untuk KTP.
Undang-undang ini menyatakan kebebasan beragama dan berekspresi di Amerika Latin. Ada lebih sedikit ketakutan di antara orang-orang Argentina tentang Islam daripada di Amerika Serikat atau Eropa, tetapi Islamofobia dan dampak negatif dari media Barat telah mempersulit sebagian Muslim Argentina untuk mempraktikkan agama mereka.
Di sisi lain ada umat Islam di antara mereka yang masih memegang teguh keyakinan dan tradisi Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Saat ini ada urgensi di antara beberapa Muslim Argentina untuk memiliki konsep pendidikan Islam berbahasa Spanyol yang dapat diandalkan untuk melayani semakin banyak pemuda yang hanya berbicara satu bahasa.
Generasi muda yang penuh rasa ingin tahu dan keingintahuan belajar untuk mendambakan pengetahuan dalam bahasa yang nyaman bagi mereka. Faktor pendukung penting bagi Islam yang sedang dieksplorasi di Amerika Latin adalah peran pemerintah dan rakyat untuk tidak mencemari sifat asli Islam yaitu toleransi, perdamaian dan kebaikan.*
Zaman Revolusi Media | Media lemah, da’wah lemah, ummat ikut lemah. Media kuat, da’wah kuat dan ummat ikut kuat
Langkah Nyata | Waqafkan sebagian harta kita untuk media, demi menjernihkan akal dan hati manusia
Yuk Ikut.. Waqaf Dakwah Media
Rekening Waqaf Media Hidayatullah:
BCA 128072.0000 Yayasan Baitul Maal Hidayatullah
BSI (Kode 451) 717.8181.879 Dompet Dakwah Media