Hidayatullah.com—Lebih dari lima puluh organisasi militer di Suriah dan Iraq mengklaim mereka sedang melakukan training dan berjuang melawan kelompoko Islamic State (ISIS/ISIL atau Daisy).
Banyak diantaranya adalah sebuah cabang angkatan bersenjata dari partai politik atau kelompok individu. Beberapa adalah grup yang sudah ada, beberapa adalah grup baru.
Belum lama ini, Phillip Smyth, peneliti di Washington Institute for Near East Policy, mengatakan pada jurnal The Washington Institute, selama perang berkecamuk, terdapat 10.000 orang Iraq serta sekitar lima sampai tujuh ribu tentara Hizbullah yang masuk ke Suriah. [Baca: Peneliti: Iran Sudah Lama Lakukan Rekrutmen Ribuan Milisi ke Suriah]
Sementara itu, kekalahan demi kekalahan rezim Bashar membuat Pemerintah Iran semakin tegas menyatakan pembelaannya sampai titik akhir pada rezim tangan besi yang melawan rakyanya sendiri ini.
“Iran akan tetap berada di sisi Suriah dan pemerintahnya sampai akhir perjuangan,” demikian disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani sebagaimana dikutip media Iran, IRNA belum lama ini. [Baca: Presiden Iran: ”Kami Akan Mendukung Assad Sampai Titik Akhir”]
Ini adalah lima diantaranya milisi asing Syiah yang diterjunkan ke Suriah mendukung Bashar al Asaad.
Kitaib Al-Imam Ali
Kelompok ini merupakan angakatan bersenjata di bawah kelompok Harakat al-Iraq al-Islamiyah yang masih belia. Mereka datang secara tiba-tiba dan para anggotanya bersenjata cukup canggih. Mereka cukup aktif di daerah Amerli, Tuz, dan Diyala, bertempur bersama angkatan bersenjata Iraq Syiah lainnya, dan mereka semua adalah perwakilan dari Iran.
Sekertaris jendral grup ini adalah Shebl al-Zaidi, dulunya adalah figur penting dalam Tentara Mahdi pimpinan Muqtada al-Sadr. Al-Zaidi sempat dipenjara selama masa pendudukan Amerika di Iraq, lantas dilepaskan pemerintah Iraq pada 2010.
Kelompok ini dikaitkan dengan Korps Keamanan Iran, Angkatan Bersenjata Qods, setelah al-Zaidi tampak bersama Qasem Soleimaini, komandan Korps Keamanan. Tidak hanya Iran, Iraq tampaknya juga memiliki hubungan dengan grup ini setelah al-Zaidi terpotret menaiki salah satu helikopter militer milik Iraq dan salah satu komandan lapangan Al-Imam Ali, Abu Azrael, mengoperasikan senjata helikopter lainnya.

Muhandis dan Angkatan Bersenjata Qods
Levitt dan Smyth mengecap grup ini sebagai salah satu ekstrimis atas track record salah satu pimpinannya, Muhandis alias Jamal Jaafar Muhammad Ali. Meski begitu, mereka juga mencatat bahwa kelompok ini telah bekerja untuk Iran dalam jangka waktu yang cukup lama.
Muhandis pertama kali dikenal sebagai salah satu anggota Partai Dawa Iraq yang berkejasama dengan Hizbullah untuk mengebom Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait pada 1983 dan percobaan pembunuhan emir Kuwait pada 1985. Muhandis kemudian memimpin Korps Badr, cabang militant dari Supreme Council for the Islamic Revolution in Iraq (SCIRI). Korps Badr tidak hanya membantu Iran selama Perang Iran-Iraq, namun juga aksi sabotase dan terorisme yang menarget rezim Saddam Hussein. Muhandis bekerja untuk Angkatan Bersenjata Qods dan militan Syiah Iraq yang menentang Saddam.
Pada tahun 1990-an, Muhandis digantikan oleh Abu Mustafa al-Sheibani sebagai komandan Korps Badr. Saat itu, Muhandis telah memiliki kewarganegaraan Iran dan menjadi penasehat untuk komandan Angkatan Bersenjata Qods, Solemani.
Model Kataib Hizbullah
Iran tidak hanya menyokong Korps Badr dan Tentara Mahdi, namun juga SCIRI dan Muqtada al-Sadr. Saat Korps Badr berganti nama menjadi Organisasi Badr agar bisa masuk ke ranah politik, Iran mendorong mereka yang ekstrim untuk membentuk kelompok militan mereka sendiri. Baik Sheibani maupun Muhandis akhirnya putus hubungan dengan Badr dan membentuk kelompok mereka sendiri.
Pada 2007, Muhandis membentuk Kataib Hizbullah (Brigade Hizbullah, atau KH). Karena kaitannya dengan Partai Dawa dan Angkatan Bersenjata Qods, tidak mengherankan bahwa mereka mendapatkan training secara professional dan peralatan canggih jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok wakil Iran di Iraq lainnya. Meskipun secara teknis, KH dan kelompok Hizbullah di Libanon berbeda, pada akhirnya mereka saling berhubungan lewat Unit 3800, sebuah unit dari milisi Hizbullah Libanon yang memberikan persenjataan dan pelatihan kepada grup-grup militan Syiah Iraq.
Pada Juli 2009, Departemen Keuangan Amerika Serikat mem-blacklist Muhandis dan KH dengan alasan “melakukan, mengarahkan, mendukung, atau memperlihatkan tanda-tanda aksi kekerasan melawan Koalisi dan Angkatan Pertahanan Iraq.” Keduanya disahkan lewat Perintah Eksekutif 13438,yang menarget para kelompok militan dan pemberontak serta para suporternya. KH juga ada dalam daftar Organisasi Teroris Asing milik Departemen Luar Negeri Amerika.*/Tika Af’idah, dari berbagai sumber (bersambung)