Hidayatullah.com- Anggota Peneliti Rumah Dakwah Riau, Roni Candra membenarkan berita tentang kebiasaan sejumlah kaum perempuan di Pekanbaru, yang menggandeng para imigran Syiah (menetap di rumah detensi imigran yang berlokasi di belakang Purna MTQ, Pekanbaru.red) sebagai pasangan kencan.
Roni menuturkan dari hasil pemantauan yang dilakukan tim peneliti Rumah Dakwah Riau, apa yang para imigran lakukan memang besar terindikasi ke arah praktek prostitusi atau tindakan amoral.
“Indikasi ke arah prositutsi sangat banyak, biasanya mereka (para imigran Syiah) didatangi dekat penampungan-penampungan dan dijemput menggunakan mobil,” kata Roni kepada hidayatullah.com, Kamis (12/03/2015).
Roni juga menyampaikan jika pihaknya sudah mengunjungi Kepala Rudenim Pekanbaru. Namun, lanjutnya, dengan banyaknya laporan dari berbagai pihak maupun media yang telah memberitakan kasus itu, respon Kepala Imigrasi sampai saat ini masih biasa saja.
“Tanggapan Kepala Rudenim normatif saja, jika ada warga yang melihat langsung laporkan saja,” ujar Roni yang juga aktif sebagai Humas Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Pekanbaru.
Sementara itu, Roni menyampaikan sikap Pemerintah Daerah sendiri terkait kasus tindakan amoral imigran Syiah baru sebatas melakukan razia-razia saja.
“Ada sebuah café di sekitaran jalan tangkuban perahu, di mana café tersebut memang banyak menampung para imigran itu, tempat mereka ngumpul dan kegiatannya mengindikasikan ke arah prositusi atau tindakan amoral. Bahkan saya dapat laporan dari warga sekitar, café tersebut milik warga Iran yang menikah dengan warga Pekanbaru,” pungkas Roni.
Hingga saat ini kedatangan imigran gelap dari sejumlah negara di Pekanbaru, Riau, semakin menjadi persoalan. Jumlah imigran yang konon sudah mencapai angka 1.000 orang banyak sorotan berbagai pihak, tak terkecuali pemerintah daerah setempat. [Baca: Imigran Timteng di Pekanbaru Resahkan Masyarakat]
Pasalnya, mereka bisa bebas berkeliaran bebas di jalan-jalan dan ada kabar tak sedap yang tersiar. Ada di antara mereka yang disebut terlibat dalam praktik ilegal, semacam prostitusi, penyebaran ajaran Syiah. Belakangan muncul pula kabar tentang kebiasaan sejumlah kaum perempuan di Pekanbaru yang menggandeng para imigran itu sebagai teman kencan.*