Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Paus Fransiskus Kunjungi Myanmar, Tak Satupun Sebut kata “Rohingya”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2017 14:23 2:23 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2017 14:23
Bagikan
Aung San Suu Kyi menyambut Paus Fransiskus
Bagikan

Hidayatullah.cm–Pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus tiba di Myanmar hari Senin 27 November 2017 dalam kunjungan selama empat hari.  Paus menyinggung situasi terkini di mana minoritas Muslim dari negara bagian Rakhine  diperlakukan sebagai orang asing  namun tak satupun mengucapkan kata “Rohingya”.

”Masa depan Myanmar harus damai, damai berdasarkan penghormatan terhadap martabat dan hak setiap anggota masyarakat, menghormati setiap kelompok etnis dan identitasnya, menghormati peraturan undang-undang, dan menghormati tatanan demokratis yang memungkinkan masing-masing individu dan setiap kelompok—tidak ada yang dikecualikan—untuk menawarkan kontribusi yang sah untuk kepentingan bersama,” katanya, seperti dikutip Reuters.

Paus Fransiskus bertemu dengan Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing dan bertemu Aung Suu Kyi yang berlangsung beberapa jam.

“Perbedaan agama tidak perlu menjadi sumber perpecahan dan ketidakpercayaan, namun harusnya menjadi kekuatan untuk persatuan, pengampunan, toleransi dan pembentukan bangsa yang bijak,” imbuh Fransiskus yang dalam pidatonya sama sekali tidak menyebut kata ‘Rohingya’.

Sebelum ke Myanmar, para pemimpin gereja Katolik negeri itupun telah mengimbau Paus Fransiskus untuk tidak menyebutkan kata “Rohingya” karena dikhawatirkan akan memicu kemarahan warga setempat. Ini dikarenakan sebagian besar warga Myanmar tidak menganggap Rohingya sebagai warga asli Myanmar, melainkan menyebut mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Baca: Paus Fransiskus Dapat Hadiah Lamborghini

Paus Fransiskus sebelumnya dilaporkan telah mengindikasikan bahwa dirinya akan menuruti imbauan tersebut.

Bahkan selama pertemuannya dengan Aung San Suu Kyi, Paus ke-266 itu sama sekali tidak memasukkan kata  “Rohingya”

Namun ia menggantinya dengan krisis kemanusiaan di Myanmar yang sudah begitu gawat.

Sebagaimana diketahui, kata ‘Rohingya’ adalah hal yang tak diinginkan militer dan masyarakat Myanmar, karena berarti sebuah pengakuan entitas Muslim.

Sejak 1982, Myanmar telah menghapus Rohingya dari daftar kewarganegraan, dan menyebut mereka sebagai “Bengalis” kata olok-olok untuk etnis Muslim yang telah hidup selama ratusan tahun di Rakhine.

“Kedamaian hanya bisa dicapai melalui penghormatan akan hak asasi dan keadilan. Termasuk kepada setiap etnis dan identitas mereka,” kata Fransiskus dilansir kantor berita AFP.

Senada dengan Fransiskus, Suu Kyi dalam pidatonya juga sama sekali tak menyebut Rohingya.

Dia menyebut krisis di Rakhine hanyalah satu dari segala tantangan yang tengah dihadapi pemerintahannya.

“Kami membangun pemerintahan yang berlandaskan pada perdamaian dengan melindungi hak, toleransi, dan memastikan keamanan setiap etnis yang ada,” tutur Suu Kyi.

Baca: Kejamnya Militer Myanmar, Pasang Ranjau Darat untuk Warga Rohingya

Sebelum bertemu Suu Kyi, Fransiskus berada di ibu kota lama Myanmar, Yangon, untuk bertatap muka dengan panglima militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, Senin (27/11/2017).

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 15 menit itu, Hlaing meyakinkan Sri Paus operasi militer yang dilakukannya tidak berlandaskan pada diskriminasi agama atau etnis tertentu.

Hlaing berkata, operasi itu untuk membasmi ‘teroris’ yang berdiam di Rakhine. Sementara di saat yang sama, ratusan ribu etnis Muslim mengungsi akibat kekerasan militer, bahkan aksi pembakaran dan pemerkosaan.

Kedatangannya ke Myanmar diharapkan kalangan pegiat HAM dan dunia internasional  bisa menekan  pemerintah dan militer setempat. Namun, Jenderal Min Aung Hlaing kepada Paus Fransiskus mengatakan, tidak ada diskriminasi agama di negaranya yang dilakukan melalui tindakan militer.

Hingga saat ini sudah lebih 600 ribu lebih pengungsi Rohingya melarikan diri ke Bangladesh akibat adanya kekerasan yang disebut PBB sebagai pembersihan etnis.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aung Suu KyiBangladeshgereja katolikJenderal Min Aung Hlaingmyanmarpaus Fransiskuspembersihan etnisRakhineRohingyaRoma
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pseudo Science dan Ranjau Akidah
Tulisan selanjutnya Pembantu Ahmadinejad Gelapkan Jutaan Euro dari Negara-Negara Non-Blok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Berita
17 Oktober 2026 09:35
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?