Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Muslim Terhormat dan Politik Aliran

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Januari 2018 16:28 4:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Januari 2018 05:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

 

APA itu Muslim terhormat, bukankah setiap Muslim itu terhormat? Harusnya setiap Muslim tanpa label terhormat pun, dia sudah terhormat.

Lalu kenapa mesti dilabeli terhormat, jika setiap Muslim itu terhormat? Itu sekadar membedakannya dengan Muslim yang telah menanggalkan sikap terhormatnya di hadapan kepentingan duniawi.

Karenanya, kita melihat Muslim yang bekerja tidak untuk kepentingan umat, tapi dari kepentingan kelompok lain, dan itu ditukar dengan kepentingan pribadinya semata guna pemenuhan hajatnya. Inilah Muslim yang runtuh, dan karenanya dia menanggalkan sikap terhormatnya sebagai seorang Muslim.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Tarik menarik antara kepentingan duniawi hingga menanggalkan sikap terhormat itu menjadikan Muslim tampak tidak terhormat di hadapan musuh-musuh Islam. Dia tampak sebagaimana Muslim yang terbeli, tergadai label terhormatnya di hadapan kekuasaan.

Tercerabutnya label terhormat pada Muslim itu menyasar seluruh lapisan. Tampak di kalangan umat kebanyakan, itu karena pemimpin umat telah mencontohkan sikap-sikap tidak terpuji. Menggadaikan agama di bidang politik, ekonomi, sosial dan lainnya. Itulah izzah umat yang hilang.

***

Fenomena politik, ekonomi, sosial dan lainnya yang tampak di sekitar kita adalah kekalahan Muslim, meskipun Muslim berada dalam mayoritas.

Baca: Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan Islam Politik

Muslim kalah di mana-mana, dan jika menang di satu aspek maka dia tak ubahnya Muslim yang telah tercerabut sikap terhormatnya. Muslim yang hadir bekerja bukan untuk kepentingan umat yang memilihnya, yang berharap padanya.

Tak pantas terkejut jika produk politik dan hukum yang dihasilkan adalah kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak untuk kepentingan umat Islam. Untuk kepentingan kelompok yang sebenarnya bertentangan dengan agama.

Agama cuma sebagai sarana ritual semata, agama tidak dihadirkan saat yang bersangkutan mengambil kebijakan strategis untuk kemaslahatan umat.

Inilah fenomena yang mau tidak mau kita hadapi dan jalani. Suka atau tidak. Kebijakan yang menafikan agama hadir di tengah-tengah kita, kasus LGBT yang “dimenangkan” atau setidaknya dijadikan celah kemenangan. Itu mengagetkan kita semua.

Maka umat ke depan tidak perlu kaget lagi jika disuguhi kebijakan-kebijakan yang mengebiri agama, meletakkan agama di bawah nalar kepentingan duniawi.

Akhir-akhir ini muncul kesadaran di tengah-tengah umat, bahwa ada yang salah dalam hidup keberagamaan kita yang cuma suntuk pada ritual semata, tapi lalai atau dilalaikan pada hal-hal strategis yang mestinya umat hadir.

Baca: Politik Sekular versus Politik Islam

Maka ungkapan almarhum Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri dan salah satu pendiri Partai Masyumi, pernah mengatakan, lebih kurang demikian, “Islam ibadah diberi ruang seluas-luasnya, Islam berekonomi mulai diawasi, dan Islam politik harus dijauhkan …”

Pernyataan Mohammad Natsir di atas menjadi relevan melihat kondisi umat Islam saat ini. Dalam perspektif yang tidak sama persis tapi dengan rasa yang sama. Tidak ada larangan untuk berpolitik, yang ada adalah para politisi Muslim kebanyakan telah kehilangan kehormatannya.

Maka muncullah kesadaran “perlawanan” melihat fenomena yang ada. Kesadaran pentingnya Muslim berpolitik, berekonomi, dan beribadah dengan “kehormatan” yang seharusnya. Di sinilah Politik Aliran menjadi pilihan yang diharapkan bisa menyatukan mayoritas umat di tengah kepungan berbagai persoalan yang ada.

Politik Aliran di alam demokrasi adalah hal yang biasa, dan itu dimungkinkan. Itulah bisa jadi bentuk perlawanan umat meraih izzah yang hilang selama ini. Umat mesti disatukan gerak langkahnya mewarnai perjalanan individu dan keumatan.

***

Aksi 212 [di tahun 2016], yang menghimpun berjuta umat pada satu titik adalah fenomena yang begitu dahsyat. Tidak pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, bahkan dunia, konon lebih dari 7 juta manusia berkumpul dan menggelorakan semangat keadilan.

Maka Aksi 212 itu energinya masih terasa hingga lebih dari setahun kemudian, dan entah sampai waktu kapan energi itu mampu diberdayakan sebagai kekuatan umat Islam “memproklamirkan” Politik Aliran.

Politik Aliran tentu tidak semata dimaknai pada aspek politik praktis, tapi energinya bisa disalurkan ke ranah ekonomi, sosial-kemasyarakatan yang lebih luas. Dan itu dimungkinkan jika energi itu dikelola secara baik dan profesional.

Politik Aliran, yang energinya diperluas itu, bisa menjadi kekuatan umat berdaya di tengah kepungan hegemoni ekonomi yang hanya dikuasai segelintir manusia, yang mengendalikan perekonomian dari hulu ke hilir. Maka gerakan membeli produk-produk hasil umat Islam dan di toko-toko/lapak-lapak umat Islam muncul di tengah-tengah kesadaran umat demi pemberdayaan ekonomi umat.

Koperasi 212 dan mart-mart yang dihasilkan oleh energi Aksi 212 mulai menemukan bentuknya. Setidaknya umat tersadarkan dari tidur panjangnya, bahwa semuanya harus dimulai. Tidak ada kata terlambat untuk mulai meraih kejayaan ekonomi mikro yang merupakan alas bagi perekonomian bangsa.

Karenanya, Politik Aliran menyasar kepentingan semua aspek yang berkaitan dengan hajat umat dan keumatan. Tidak dimaknai sempit dengan hanya menyasar perebutan kekuasaan semata. Seluruh aspek kehidupan mesti diberdayakan, dan itu dilakukan secara terencana, terukur dan memilih prioritas utama untuk dikedepankan. Energi 212

itu adalah hikmah di balik semua peristiwa atas ketidakadilan dan ketimpangan yang dialami dan dirasakan umat. Maka tugas ulama yang masih bersikap lurus, wajib terus menggelorakan semangat untuk umat mendapatkan kehormatannya kembali.

Politik Aliran, kehadirannya oleh kelompok tertentu distigma dengan negatif. Dan itu wajar. Sebagaimana H.O.S. Tjokroaminoto saat mendirikan gerakan Syarikat Islam (SI) pun distigma oleh pemerintah kolonialis Belanda dengan stigma yang sama. SI jalan terus dan melahirkan tokoh-tokoh pergerakan tingkat nasional yang dalam sejarahnya memerdekakan negeri ini dari cengkeraman penjajah.

Tidak mustahil Politik Aliran yang mendapatkan energi dari Aksi 212 itu akan melahirkan para politisi, pengusaha, teknokrat Muslim yang handal, yang bekerja untuk kepentingan umat dan negara tercinta.*

Pemerhati Sosial dan Keagamaan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi 212aliranekonomiislamMohammad NatsirMuslim Terhormatpartai IslamPolitik Aliranpolitisi Muslimsosial
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Langkah Kaki Mencari Rezeki
Tulisan selanjutnya Diharapkan Rutin Digelar, Khitanan-Pengobatan Gratis di Pedalaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Berita
31 Agustus 2026 21:23
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?