Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Mengkritisi ‘Makna Agama’ Ala Smith

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Oktober 2010 09:14 9:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Oktober 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Wilfred Cantwell Smith adalah sejarawan asal Toronto, Kanada. Beliau telah menulis sebuah buku, The meaning and end of religion, yang menggegerkan penganut agama di seantoro jagat raya.
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ‘Memburu Makna Agama’. Dalam bukunya, Smith berusaha merobohkan pondasi-pondasi pemahaman yang dianggap telah mapan dan matang, oleh mayoritas penganut agama di muka bumi. Dia mempertanyakan ulang penggunaan kata agama, untuk menunjuk agama-agama yang ada saat ini.
Sebagai sejarawan, Smith berusaha membuat keraguan dan kerancuan akan arti ‘agama’, bila dilihat dari sudut historisnya. Olehnya itu, menurut penulis, buku itu lebih tepat diterjemahkan menjadi ‘Membunuh Makna Agama’. Karena Smith tidak bermaksud untuk membunuh esensi dan eksistensi dari agama itu sendiri, tapi mengakhiri penggunaan istilah ‘agama’ untuk menunjuk dan menjastifikasi agama tertentu, yang terkesan telah melembaga dan menjadi ideologi negara.
Menurut Smith, Kata ‘Religion’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia ‘Agama’, telah mengalami proses reifikasi. Istilah ‘Religion’ diambil dari bahasa latin ‘Religio’, namun diserap ke dalam bahasa Ingris, sehingga mengalami perubahan konotasi.
Kata ‘Religion ‘(agama) inilah yang menjadi tolak ukur penelitian Smith. Dia mengkritik penggunaan ‘religion’ terhadap semua agama yang ada saat ini. Dia memaparkan bagaimana ‘Religion’ diadopsi dan diselewengkan artinya oleh agama Kristen. Agama Kristen (Christianity) telah melewati proses reifikasi bahasa, sehingga menjadi agama Kristen (Christianity).
Pada mulanya, tepatnya abad ke-15, agama ini, namanya bukanlah Christianity, namun Faith (iman). Dan kata ‘Faith’ (iman) lebih dominan penggunaanya untuk menunjuk agama kristen, hingga abad 17. Tapi, pada abad ke-17, istilah ‘Religion’ (Agama) menjadi dominan di kalangan kristen dan umumnya mereka mengunakan ‘Religion’ untuk menunjuk agama Kristen.
Di sisi lain, ‘Faith’ telah mengalami proses dekreasiasi dalam penggunaanya. Proses ini terus berlangsung, ‘Religion’ senantiasa dominan untuk menunjuk agama Kristen, hingga abad ke-18. Pada abad ini, muncullah istilah Christianity (agama Kristen), yang sebelumnya kurang dominan penggunaanya. Istilah Christianity (agama kristen) terus berlanjut hingga sekarang.
Jadi, agama Kristen telah melewati beberapa fase peristilahan untuk menunjuk agama itu. Mulai dari Faith, Religion dan terakhir Christianity. Istilah Christianity inilah yang dominan penggunaanya saat ini, dibanding Faith dan Religion. Itulah mengapa Smith mengatakan bahwa penggunaan ‘Religion’ (dalam bahasa indonesia; agama) telah berakhir dan perlu dikaji ulang. Beliau mengkritik keras penggunaan ‘Religion’ untuk menunjuk agama Kristen, apalagi agama-agama yang lain.
Selanjutnya, menurut Smith, Dalam Islam, kata ‘Din’ juga telah mengalami proses reifikasi makna. Pada awalnya, alqur’an menggunakan kata ‘Faith’ (iman) untuk menunjuk agama Islam. Namun istilah Faith dalam Islam mengalami proses reifikasi hingga menjadi ‘Din’, pada abad ke-14. Sejak itu, penggunaan ‘Din’ (agama) menjadi dominan di kalangan pemeluk agama Islam, untuk menunjuk agama islam itu sendiri.
Terlepas apakah pengamatan Smith diterima atau tidak, penulis mencoba mengajukan beberapa argumen dan analisis untuk mempertanyakan ulang konsep Smith tentang ‘Din’ dalam Islam.
Dalam al-Quran kata ‘Din’ tidak pernah digunakan dalam bentuk jamak (plural; Adyan). Ketika al-Qur’an menggunakan kata ‘Din’ maka yang dimaksud adalah Islam. Al-Quran tidak pernah menggunakan Din untuk menunjuk agama selain Islam. Biasanya, orang arab menggunakan ahiran (suffix) –iyyah untuk menunjuk agama selain Islam. Seperti: Masihiyyah untuk menunjuk agama Kristen, Yahudiyyah untuk agama Yahudi. Jadi, kiranya apa yang dipaparkan oleh Smith perlu dikaji secara mendalam.
Kemudian konsep ‘Din’ telah sempurna, ketika wahyu terakhir turun kepada Nabi Saw. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al Maidah, 3).
Jadi kurang tepat kiranya, jika Smith beranggapan bahwa pada mulanya kata ‘Iman’ adalah kata yang digunakan untuk menunjuk agama Islam.
Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uskup Agung Sebut Israel Bukan Tanah Perjanjian
Tulisan selanjutnya Raja Abdullah: Saudi Arabia Milik Seluruh Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade

Berita
21 Juli 2026 18:02
Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat

Terbaru

  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?