Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Di Mana Ada Perjuangan, Di Situ Ada Pertolongan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Mei 2018 10:32 10:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Mei 2018 10:32
Bagikan
Seorang dai pedalaman
Bagikan

Sebuah tugas dakwah datang dari atasan saya tahun 1990-an. Saya bersama beberapa teman harus pergi ke Balikpapan,  Kalimantan Timur, untuk menghadiri musyawarah bersama di lembaga dakwah tempat saya berkhidmat.

Sebagaimana yang berlaku selama itu, setiap kali mendapat amanah dakwah, lembaga tidak pernah mengakomodasi keperluan para kader. Hatta tiket keberangkatan.

Bukan karena tidak ingin memvasilitasi. Tapi memang keadaan keuangan lembaga belum mampu mencukupi itu semua.

Meski demikian, tak memupus semangat juang para aktivis lembaga itu. Setali tiga uang, mereka sama sekali tidak menyoal apa lagi sampai menuntut kebijakan itu.

Prinsip yang dipegang ketika mendapat amanah tugas dakwah; “Sami’naa wa atha’naa” (Kami dengar dan kami taat).

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Begitu juga dengan saya. Namun, terjadi kemasghulan dalam diri waktu itu. Pasalnya, setelah dihitung-hitung uang di saku hanya cukup untuk untuk tiket keberangkatan.

Baca: Kisah Nyata: Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!

Di lain sisi, saya harus meninggalkan istri dan dua anak saya. Tanpa sepeser uang pun. Karena nggak ada yang tersisa, bila jadi dibelikan tiket keberangkatan

Sesampainya di rumah, saya ajak mesyawarah istri. Saya sampaikan kepadanya tentang amanah dakwah yang baru saya terima, sekaligus informasi tentang kondisi keuangan.

Ah, memang benar janji Allah dan Rasul-Nya, bahwa istri shalihah adalah perhiasan terindah di muka bumi ini, karena akan mampu menyenangkan, membahagiakan, bahkan menyejukkan hati sang suami.

Itulah yang saya rasakan, ketika mendengar jawabannya;

“Bismillah, mas. Berangkat saja laksanakan amanah. Insya Allah, Allah yang akan mencukupi rezeki kami di sini,” ucapnya lembut.

Entahlah. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan hati saat itu. Ada kebahagiaan, keharuan, semua bercampuraduk.

Baca: Bantuan Itu Datang Setelah Shalat Tahajud

Di atas itu semua, saya bersyukur kepada Allah dianugerahi istri yang senantiasa mendukung perjuangan dakwah ini, dalam kondisi apapun. Ini adalah nikmat luar biasa.

H-1 dari hari keberangkatan, saya bersama kawan-kawab sudah beranjak dari rumah ke kampus, yang jaraknya puluhan kilo meter. Tujuannya untuk merumuskan ide-ide yang akan disampaikan dalam forum di Balikpapan.

Karena iman belum sekokoh Nabi Ibrahim, yang ikhlas meninggalkan istri dan anaknya yang masih dalam buaian, di padang sahara nan tak ada nuansa kehidupan, tetap saja benak diliputi pikiran nasib anak-istri ditinggal tanpa bekal.

“Makan apa mereka di rumah?” Itulah satu di antara pertanyaan yang mengusik.

Tak tega membayangkan kondisi mereka, karena melihat waktu keberangkatan masih cukup lama, maka saya pamit izin untuk pulang barang sebentar, guna melihat keadaan keluarga di rumah.

Astaghfirullahal azhim. Kepada Allah saya meminta ampun atas kelemahan iman ini.

Baca: Pertolongan Allah Tak Pernah Telat

Sesampai di halaman rumah, terasa ada keganjalan. Saya mencium aroma masakan lezat dari dalam.

“Lho, ini kok aroma masakan enak. Dari mana mereka dapat?” Bisik batin.

Selepas mengucapkan salam dan masuk ke rumah, laa haulaa wa laa quwwata illa billahil azhim, ternyata benar. Telah tersaji masakan udang windu yang mampu mengundang selera makan.

“Dik, ini dari mana uang, kok bisa masak seperti ini?” Silidik saya kepada istri.

Tersingkaplah ‘teka-teki’ itu. Ternyata tak lama saya meninggalkan rumah, datang seorang sahabat, mencari saya.

Dia seorang pengusaha udang windu. Sering mengalami kerugian. Berdomisili di Kabupaten lain. Selama bisnis, ia sering mengalami kerugiaan. Bertepatan waktu, rupanya ia mendapat keuntungan.

Biidz nillah, dalam kemudahan rezeki itu, ia justru mencari saya, dan ingin berbagi kebahagiaan. Padahal, saya sama dia belum lama berkenalan. Bahkan, baru sekali saja berjumpa.

Tapi, itulah kuasa Allah, yang memutar-balikkan hati. Kata istri, selain memberi oleh-oleh berupa udang hasil panen, ia juga memberi sangu sebesar 200 ribu.

Untuk ukuran 1990-an, jumlah demikian itu sudah cukup banyak.

Terhadap nikmat Allah yang demikian ini, saya senantuasa bersyukur, dan meyakini sekali bahwa;

“Barang siapa membantu agama Allah, maka Allah pun akan mencurahkan bantuannya kepada hamba itu (intanshurullaha yanshurkum.).”

Akhirnya, saya pun berangkat menunaikan tugas, terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan pikuran dan hati yang tenang hingga saat ini. “Al-Hamdulillah ‘alaa kulli haal!”*/Sebagaiman yang dikisahkan Ustad Fulan, dai berdomisili di Surabaya, dalam sebuah sambutan di Kampus Hidayatullah, Panceng, Gresik. Diceritakan ulang Khairul Hibri

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bantuanbantuan Allahdaidai pedalamandakwahistri sholihahkemudahanperjuanganpertolongan Allahtugas dakwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya gencatan senjata Paraguay Memindahkan Kedutaannya di Israel ke Baitul Maqdis
Tulisan selanjutnya AFKN Luncurkan Kapal Dakwah Bahtera Mardhatillah Nuu Waar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?