AKU tidak pernah paham betul mengapa sampai bisa kecanduan rokok. Tetapi, yang kuingat satu, lingkungan dimana aku tumbuh besar, nyaris semua orang dewasanya selalu merokok setiap hari. Dan, nampaknya mereka begitu merasa gagah dengan menyedot bendar berasap itu.
Sejak kecil aku sangat penasaran dengan benda sepanjang 9 sentimeter itu. Perlahan-lahan, aku pun mencoba. Tentu itu aku lakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab orang tuaku pasti tidak mau melihat aku sudah merokok.
Hal itu aku lakukan sampai berstatus siswa SMA. Hingga akhirnya, saat itu aku mulai berani mendeklarasikan diri bahwa aku dewasa dan aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk merokok, termasuk di hadapan orang tuaku.
Aku pun seperti mendapatkan angin kemerdekaan. “Kini tak akan ada lagi yang menegurku melakukan hobi orang-orang “gagah” ini. Aku sudah bisa diterima dikomunitas orang dewasa dengan segenap hobi dan perilakunya,” pikirku waktu itu.
Benar saja, aku semakin terperangkap dengan buaian rokok. Sampai-sampai tidak kusadari bahwa aku telah menjadi budak rokok daripada penikmat rokok. Bagaimana tidak, bangun tidur yang kucari pertama adalah rokok. Habis makan, tanganku selallu sibuk memeriksa kantong celana, dimana kusimpan rokok semalam. Bahkan, naik motor pun, ada yang ganjil rasanya jika sela jemari kiriku tidak menjepit batang rokok.
Begitu aku jalani hidupku sepanjang 8 tahun, mulai dari 2004 sampai 2012. Satu pengalaman yang tak pernah kulupa adalah ketika aku yang asli Subang Jawa Barat dan sedang kuliah di Bandung harus pulang ke Subang.
Kala itu, uangku tinggal 10 ribu, sedang aku harus segera pulang dan saat itu aku belum makan seharian. Sempat terjadi perang sengit dalam benakku.
Kalau aku makan, aku tidak bisa merokok dan tidak bisa pulang. Kalau aku merokok aku tidak bisa makan dan tidak bisa pulang.
Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan beli rokok dua batang, dan karena lapar yang tak bisa kutahan, aku beli makan dan kembali membeli rokok, hingga 10 ribu itu habis untuk makan dan beli rokok dua kali. Dampaknya, pulang gagal, uang habis, makan pun cuma sekali. Ya, itulah siksaan rokok terhadap hidupku yang paling tak bisa kulupakan.
Doa Orang tua
Alhamdulillah, berkat doa orang tua, akhirnya aku mendapat hidayah dari Allah. Kala itu aku sudah duduk di semester akhir. Pikiranku kosong dan tentu saja uang tidak bisa dihabiskan hanya untuk menuruti keinginan diri merokok.
Ini juga aneh, aku juga tidak tahu persis kenapa kemudian tiba-tiba muncul lintasan dalam hati untuk segera menata diri.
Akhirnya aku menetapkan diri untuk kembali mengamalkan ajaran yang kuterima kala masih kecil. Shalat lima waktu, kembali membaca Al-Qur’an dan berusaha sesering mungkin ke masjid. Meskipun malasnya minta ampun kala itu.
Aku terus bertahan, sampai akhirnya selama tiga bulan aku jalani semua itu, rupanya berdampak pada kebiasaanku merokok. Aku berusaha memantabkan diri untuk talak tiga dengan benda 9 sentimeter itu.
Namun, jangan dikira mudah. Akalku belum benar-benar bebas dari penjajahan pemikiran masa lalu. “Ah, kenapa berhenti merokok, nanti kamu disebut sok baik, sok bersih dan kamu bakal gak bisa punya banyak teman lagi,” pikirku saat itu. Syukurnya, aku bergeming dengan suara negatif batinku sendiri.
Sampai akhirnya, kala aku mengikuti sebuah kajian di masjid, dimana manusia harus menghitung amal baik dan amal buruknya, entah kenapa sepulang dari masjid aku langsung mengambil pulpen dan membuat dua kolom.
Kolom kiri aku beri tulisan “Alasan mengapa aku harus merokok.” Kolom kedua ku beri tulisan “Alasan mengapa harus berhenti merokok.”
Sumpah, hal yang paling sulit aku lakukan saat itu adalah mengisi kolom kiri. Sungguh tidak ada alasan yang membuat tanganku bergerak menuliskan sesuatu mengapa aku harus merokok. Aku bertahan, dan sangat ingin mengisi kolom kiri itu. Sempat terlintas, “Agar mudah bergaul,” tetapi, orang yang tidak merokok pergaulannya juga bagus. Aku pun terhenti dan tidak bisa menulis, kecuali dengan alasan yang kurang logis.
Setelah beberapa saat bertahan, akhirnya aku kepikir untuk mencoba mengisi kolom kanan. Subhanallah, dengan lancar dan cepat tanganku menulis alasan penting mengapa aku harus berhenti merokok. Aku ingat ada sekitar 20 nomor mengapa aku harus berhenti merokok.
Sejak itu, aku pun mantab memproklamasikan diri merdeka dari jajahan rokok! Alhamdulillah, kini aku sudah menikah dan menanti kelahiran anak pertama dari istri tercinta. Aku berharap kisah ini bisa memberikan kekuatan diri untuk siapa saja yang masih terjajah oleh ilusi nikmatnya merokok dan ingin segera memproklamasikan diri bebas dari jajahan rokok.*/Seperti disampaikan oleh Ramlan kepada hidayatullah.com