Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kenang Kepemimpinan Mubarak, Israel Sebut Teman Sejati

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 26 Februari 2020 12:47 12:47 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 26 Februari 2020 12:47
Bagikan
Mantan PM Israel Shimon Peres - Hosni Mubarak.jpg
Bagikan

Hidayatullah.com-Israel mengenang kepergian mantan presiden Mesir Hosni Mubarak. Dalam pernyataannya untuk menandai meninggalnya mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkannya sebagai “seorang pemimpin yang membawa rakyatnya menuju perdamaian dan keamanan, untuk berdamai dengan Israel.”

Netanyahu menyebut Mubarak sebagai teman sejatinya. “Saya bertemu dengannya berkali-kali. Saya terkesan dengan komitmennya; kami akan terus mengikuti jalan bersama ini. Saya ingin menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Sisi, kepada keluarga Mubarak dan kepada rakyat Mesir,” katanya dikutip BBC, Selasa (25/2/2020)

Reaksi aktivis Pro-demokrasi

Sementara itu, para aktivis pro-demorkasi yang membantu menggulingkan Hosni Mubarak pada tahun 2011 ikut menanggapi kematiannya di media sosial.

“Pembantai yang korup telah meninggal tanpa benar-benar bertanggungjawab terhadap kejahatannya,” aktivis Mesir Hossam al-Hamlawy menulis di Facebook.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Di tong sampah sejarah, dan mudah-mudahan Sisi akan menerima akhir yang pantas karena pembantaiannya,” kata Hossam, merujuk pada Presiden Mesir saat ini Abdul Fattah al-Sisi, yang secara luas dituduh bahkan lebih represif daripada Mubarak. Hosni Mubarak dikenal sebagai pemimpin bertangan besi, dengan keras menumpas aksi protes terhadap kepemimpinannya.

Pada Agustus 2013, setidaknya 817 pendemo dibunuh oleh pasukan keamanan dalam sebuah demonstrasi duduk rakyat Mesir. Menurut Human Rights Watch (HRW), serangan itu sebagai salah satu “pembantaian pendemo terbesar dalam satu hari.”

Mubarak digulingkan dalam demonstrasi pro-demokrasi pada Februari 2011. Dia adalah diktator Arab kedua yang jatuh dalam gelombang demonstrasi rakyat di kawasan Timur Tengah yang dikenal sebagai “Arab Spring atau Musim Semi Arab”.

Diktator itu ditahan selama enam tahun atas dakwaan korupsi menyusul penggulingannya. Dia menghabiskan sebagian besar masa tahanannya di rumah sakit militer. Pada tahun 2012, dia dijatuhi hukuman seumur hidup karena keterlibatannya dalam pembantaian pendemo selama demonstrasi Januari 2011. Dia kemudian dibebaskan dari tuduhan itu.

Amnesty International mengatakan setidaknya 840 orang terbunuh dan lebih dari 6.000 terluka selama 18 hari demonstrasi jalan di Mesir.

“Kejatuhannya pada tahun 2011 memberi banyak harapan ketika dia dicerca,” tulis Timothy Kaldas di Twitter, yang mengambil bagian dalam demonstrasi, dan saat ini menjadi peneliti non-Residen di The Tahrir Institute yang bermarkas di Washington DC.

 

“Dia hidup untuk melihat seorang diktator yang lebih brutal menggantikannya yang telah begitu banyak hal buruk sehingga banyak orang sekarang merindukan Mubarak,” kata Kaldas. “Dia meninggal dengan tangan. Para pendemo yang rezimnya bunuh tidak seberuntung itu.”

Para pendukung Mubarak mengenang masa kepresidenannya sebagai periode yang stabilitas dan moderasi. Sangat kontras dengan turbulensi politik dan kesulitan ekonomi yang terjadi setelah Arab Spring.

Tetapi para kritik mengatakan penindasannya telah merampas kehidupan politik Mesir, membuka jalan bagi kekacauan dalam dekade terakhir.

“Sejarawan akan membedah warisannya,” tweet akademisi H.A. Hellyer. “Terus terang, 9 tahun setelah perlawanan #Jan25 berhasil mendorongnya dari kekuasaan, tetapi gagal untuk merevolusi politik Mesir. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah: banyak kekacauan pada dekade terakhi adalah karena kepemimpinan Muabrak,” katanya dikutip BBC.

Muhammad Hosni Sayyid Mubarakmeninggal para hari Selasa (25/2). Menurut TV nasional Mesir,  sebelum meninggal, ia sempat menjalani operasi.  Mantan presiden berusia 91 tahun memerintah Mesir selama 30 tahun dengan tangan besi, hingga akhirnya digulingkan tahun 2011 dalam aksi jalanan saat Musim Semi Arab. Mubarak adalah sekutu dekat Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah, yang selama ini bersama-sama mengekang kelompok perjuangan pembebasan Palestina.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab springBenyamin NetanyahuHosni MubarakisraelMesirMusim Semi Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sinergikan Ekskul Pramuka di Sekolah dengan Mitigasi Bencana
Tulisan selanjutnya KBRI Imbau WNI di Kroasia Tingkatkan Kewaspadaan terkait Virus Corona

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Kolom

Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat

Kolom
2 Juli 2026 13:30
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober

Terbaru

  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?