Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Kisah Cinta Para Ulama (2)

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 29 Juni 2020 09:34 9:34 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 29 Juni 2020 09:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | BERINTERAKSI dengan pasangan hidup menjadi hal yang amat penting. Bahkan para ulama memandang romantika kehidupan suami-istri adalah bagian dari pengamalan Dien ini.

Para ulama dikenal sebagai ahli ibadah. Namun bukan berarti kehidupan keluarganya kering dari bisikan cinta. Mereka bahkan selalu romantis!

Bagaimana interaksi suami-istri para ulama salafush-shalih? Simak kisah dalam tulisan seri kedua di bawah ini, yang dinukil dari berbagai kitab karya para ulama.

Kisah Cinta Para Ulama (1)

Para Ahli Ibadah pun “Romantis”

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Abu Utsman al-Hirri (289H) adalah seorang ulama Naisabur yang shalih. Suatu saat beliau ditanya, “Wahai Abu Utsman, amalan apa yang engkau harapkan bisa sebagai bekal menghadap Allah dari apa yang telah engkau lakukan?”

Abu Utsman lalu berkisah:

Waktu aku tinggal di ar-Rai, para penduduknya mendesakku agar menikah, namun aku menolaknya. Setelah itu datanglah seorang wanita yang menyatakan, “Wahai Abu Utsman, aku telah jatuh cinta kepadamu, hingga aku tidak bisa tidur. Dan aku memutuskan memohon kepada Allah agar bisa menikah denganmu.”

Aku pun menjawab, “Engkau masih memiliki ayah?”

Wanita itu menjawab, “Ya, dia adalah seorang penjahit.”

Akhirnya, aku berjanji akan menikahinya dan ia pun bergembira. Kemudian dilakukanlah akad nikah dengan para saksinya. Namun setelah resmi menjadi pasangan sah dan melihat fisiknya, aku akhirnya mengetahui bahwa salah satu mata istriku buta dan kakinya pincang, serta memiliki wajah amat buruk. Saat itu aku mengucapkan, “Ya Allah segala puji bagi-Mu atas apa yang engkau takdirkan kepadaku.”

Abu Utsman menjelaskan bahwa keluarganya mencela atas keputusan menikahi wanita itu, “Namun aku tetap berusaha membahagiakan wanita itu. Sampai suatu saat ia menginginkan agar aku tetap bersamanya, maka aku rela meninggalkan majelis demi untuk menjaga perasaannya. Kehidupan yang demikian itu aku jalani hingga 15 tahun dan terkadang aku merasa tersiksa dengan keadaaan demikian. Namun aku sama sekali tidak pernah mengeluhkan hal itu kepadanya, hingga akhirnya ia wafat.”

Abu Utsman pun menutup kisahnya, “Maka dari amalanku, yang aku harap bisa menjadi bekal kepada Allah adalah usahaku untuk menjaga perasaannya.” (Shifat ash-Shafwah, 4/105, 106).

Abu Utsman al-Hirri adalah ulama yang menjaga shalat dan amalan shalih lainnya. Ternyata ia melihat bahwa amalan yang menolongnya kelak bukanlah hal itu, namun usahanya dalam membahagiakan sang istri.

Demikianlah yang terjadi. Meski termasuk golongan ulama dan ahli ibadah, baik dari pihak suami dan istri sangat menjaga hubungan baik keduanya.

Hal yang hampir sama dilakukan oleh Syaikh Abdullah al-Manufi, murid dari Syaikh Khalil, penulis Mukhtashar al-Khalil yang menjadi rujukan fiqih Maliki.  Ulama Mesir yang dikenal sebagai ulama tawadhu’, sungguh-sungguh berkhidmat kepada gurunya hingga wafat. Ulama yang selalu menjaga makanan yang dikonsumsi serta selalu menjaga perkataan dan perbuatan di hadapan sang istri.

Syaikh Abdullah al-Manufi sendiri menikah dengan seorang budak perempuan yang sudah tua, yang selalu keluar ingus dari hidungnya. Meski demikian, Syaikh Abdullah selalu menyiapkan sandal untuk istrinya tersebut. Ia bahkan pernah mengatakan kepada istrinya, “Tolong maafkan saya, saya tidak pantas menjadi suami Anda.” (al-Kawakib ad-Durriyah, 3/41).

Para ahli ibadah amat menjaga perasaan pasangan. Begitupun para ahli ibadah dari kalangan wanita, semisal Ummu Huraisy. Ia amat berhati-hati dengan makanan yang dikonsumsi.

Ummu Huraisy dinikahi oleh seorang tentara yang memperoleh gaji dari negara. Demi kehati-hatiannya, ia memilih tidak makan dari gaji suaminya, namun makan dari jerih payahnya sendiri.

Jika sang suami datang, Ummu Huraisy memperlihatkan seolah-olah sedang makan. Ia meletakkan piring makanan di depannya, namun jari-jarinya selalu berada di luar piring tersebut. (Shifat ash-Shafwah, 4/39).

Kisah di atas tidak otomatis menunjukkan bahwa Ummu Huraisy menganggap gaji suaminya yang berasal dari penguasa adalah harta yang haram. Ini karena sebagian ulama dan ahli ibadah memilih wara’ (berhati-hati) terhadap harta dari penguasa. Ummu Huraisy berusaha mengikuti nasihat ulama tanpa harus mengecewakan suaminya.

Kisah lain. Suatu hari Ahmad bin Abu al-Hiwari dikhitbhah oleh seorang wanita yang bernama Rabi’ah. Ulama ahlli ibadah ini sebenarnya kurang berminat menikah. “Demi Allah, aku tidak memiliki minat terhadap wanita karena kesibukanku terhadap kondisi diriku sendiri,” katanya.

Rabi’ah menjawab, “Demi Allah, aku lebih sibuk terhadap diriku sendiri dibanding dirimu. Dan aku sendiri tidak memiliki syahwat terhadap laki-laki. Hanya saja aku memiliki harta banyak peninggalan dari suamiku dan aku ingin membelanjakannya untuk saudaraku ahli ibadah. Aku mengetahui bahwa engkau orang shalih, hal itu aku lakukan agar menjadi jalanku menuju Allah.”

Ahmad kemudian meminta waktu untuk meminta izin kepada guru beliau. Ternyata sang guru menjawab, “Nikahilah dia. Sesungguhnya dia adalah wali Allah, perkataannya adalah perkataan para shiddiqin.”

Akhirnya Ahmad menikahi Rabi’ah. Tidak hanya itu, Ahmad juga menikah dengan tiga wanita lainnya. Sedangkan Rabi’ah memberikan makanan-makanan yang lezat dan memperlakukan Ahmad dengan baik, dan mengatakan, “Pergilah dengan aktivitas dan tenagamu kepada para istrimu.” (Thabaqat al-Auliya, hal 26).* Toriq/ Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2017

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintaJendela KeluargaKisah Cinta UlamamenikahparentingRomantis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sudan Menutup Ibukota Antisipasi Peringatan 30 Juni
Tulisan selanjutnya PKS Desak BPK Audit Keuangan PLN yang Berutang Rp 500 Triliun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?