Oleh: Muhammad Syafii Kudo
Hidayatullah.com | BEBERAPA waktu yang lalu publik tanah air digegerkan oleh kasus pembakaran mobil mewah biduanita Via Vallen di rumahnya, Sidoarjo, Jawa Timur. Belakangan diketahui bahwa pelakunya adalah seorang pria asal Jawa Barat yang merupakan penggemar berat biduanita yang sedang naik daun tersebut.
Dia melakukannya untuk mencari perhatian sang idola karena perjuangannya selama hampir dua minggu-an tidak ada tanda-tanda mendapatkan hasil. Sebab sang idola ternyata belum juga mau menemuinya.
Sebelum pelaku membakar mobil, dia juga sudah melakukan aksi vandalisme dengan mencoret-coret tembok di depan rumah Via Vallen untuk mengungkapkan apa yang terpendam di dalam hatinya. Menarik melihat kasus “cinta gila” ala penggemar Via Vallen tersebut. Bahwa adagium cinta memang buta jelas kentara adanya dalam kasus tersebut.
Bayangkan, demi bertemu sang idola di kampung halamannya, si penggemar rela “nggandol” dari satu truk ke truk yang lain mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Dan masih ditambah pula dengan keadaan ekonomi si pelaku yang jauh dari kata layak, namun semua itu kalah dengan kekuatan “cinta” kepada sang idola.
Jika dalam kasus cinta buta kepada ihwal keduniawiaan saja seorang manusia bisa berbuat senekat itu, maka bagaimana pula pengorbanan kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada duniawi, tentu harusnya lebih “nekat” lagi.
Orang Shaleh dan Orang Salah
Di dalam sejarah manusia, ada kisah-kisah pengorbanan cinta luar biasa yang dilakukan oleh seorang manusia kepada manusia lainnya yang terekam dengan apik oleh zaman. Yaitu kisah-kisah pengorbanan para Sahabat Nabi kepada Rasulullah ﷺ yang bahkan diakui oleh para musuh dakwah Nabi sendiri.
Mereka mengatakan bahwa tidak ada manusia yang rela berkorban sebegitu besarnya bahkan dengan nyawa sekalipun kepada manusia yang lain seperti yang dilakukan oleh para Sahabat Nabi kepada Rasulullah ﷺ .
Khubaib Bin Adi Ra pernah ditanya oleh Kafir Quraisy yang menawannya, “Apakah kau rela menukar posisimu saat ini dengan Muhammad ?” Khubaib yang sudah sangat lemah karena mengalami berbagai siksa musuh Allah tersebut seketika bangkit dan lantang menjawab, “Demi Allah jangankan menggantikan posisiku saat ini, jika seandainya Rasulullah tertusuk duri kecil sekalipun sedangkan aku berada di rumahku tentu aku tak akan rela. Aku tak rela jika Rasulullah ﷺ tersakiti.”
Para Kafir Quraisy yang sangat benci kepada Nabi pun kagum dengan kerelaaan berkorban para Sahabat Nabi kepada Nabi Muhammad ﷺ tersebut.
Dan masih banyak lagi kisah pengorbanan para pecinta Nabi Muhammad ﷺ baik dari kalangan Sahabat yang mulia maupun dari umatnya hingga hari ini yang tentu tak akan cukup untuk ditulis di sini.
Dari sini kita bisa belajar hikmah bahwasannya ada beda antara cinta kepada idola keduniawiaan dengan cinta kepada hal ukhrawiah. Jika seseorang mencintai artis idola bisa berbuat ngawur kepada sang idola karena cintanya, namun pecinta Nabi Muhammad ﷺ tidak demikian adanya.
Dulu ada kisah John Lenon yang dibunuh oleh penggemar beratnya, dia ditembak oleh Mark David Chapman setelah si penggemar tersebut mendapat tanda tangannya. Ada pula para artis dunia yang kehidupan pribadinya diteror oleh aksi-aksi penggemar beratnya, lalu ada artis idola yang merasa sudah tidak memiliki privasi akibat ulah para penggemarnya yang kebablasan.
Bahkan ada pula artis idola yang dijadikan sesembahan oleh para penggemarnya selayak Tuhan seperti yang dilakukan oleh beberapa penggemar Maradona. Hal itu semua tidak akan didapati dalam kisah pengorbanan cinta para pecinta Nabi Muhammad ﷺ.
Karena bagi mereka sekalipun berkorban nyawa demi Nabi adalah hal biasa, namun mereka masih memiliki akal waras. Mereka tak mungkin menteror kehidupan pribadi Nabi, melakukan aksi vandalisme kepada Nabi, atau bahkan menyembah Nabi dengan alasan cinta seperti yang dilakukan oleh agama tertentu kepada para Nabinya.
Para pecinta Nabi Muhammad ﷺ adalah orang-orang yang sudah terdidik akhlak dan adabnya yang akhirnya menghasilkan cinta yang murni di dalam hati mereka. Sehingga dalam mencintai dan berkorban demi Nabi tetap akan dilakukan dengan cara yang sesuai dengan bingkai syariat, bukan mengumbar cinta berdasarkan syahwat duniawi seperti yang dilakukan oleh sebagian penggemar idola-idola keduniawiaan tersebut.
“Tidak beriman seseorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (HR. Muslim dan Nasa’i).
Hadits tersebut adalah pakem bagi setiap orang beriman dalam masalah kecintaannya kepada manusia lain. Jika cinta kepada diri sendiri dan semua manusia “wajib” dikalahkan demi cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ ini dijalankan dengan sebenarnya, maka tidak akan pernah ada cerita seorang manusia berbuat nekat dan gila demi artis idola sekalipun.
Imam al-Qadhi ‘Iyadh berkata; “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaannya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah ﷺ adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah ﷺ yang utama adalah (dengan) meneladani beliau ﷺ, mengamalkan sunahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.” (dalam Asy-Syifa Bita’riifi Huquuqil Mushthafa (2/24).
Ada hadits yang menyatakan bahwa seseorang kelak bersama orang yang dicintai. Di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, juz 7, halaman 51, dinyatakan, bahwa makna hadits, “Seseorang bersama yang dicintainya pada hari kiamat” ini bersifat umum dan mencakup semua bentuk cinta, baik kepada orang shaleh maupun orang salah. Jadi jangan salah memilih idola. Jangan keliru melabuhkan cinta. Sebab konsekuensinya sangat berat. Yaitu kebersamaan sang pecinta dengan yang dicintai kelak di akhirat. Entah itu di Surga atau di Neraka. Intinya, cinta karena landasan iman membawa kita ke Surga, tapi cinta karena nafsu bisa menggelincirkan kita ke Neraka.
Semoga kita tidak salah dalam mencinta dan selalu mencintai orang shaleh dan keshalehan sehingga kita bersama orang-orang shaleh di Surga kelak. Dan terutama semoga kita dianggap layak mendampingi Rasulullah ﷺ kelak di Surga-Nya. Wallahu A’lam.*
Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan