Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kisah Syeikh Ali Jaber, Ulama Arab Saudi yang Memilih Berdakwah di Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Januari 2021 11:25 11:25 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Januari 2021 11:25
Bagikan
Syeikh Ali Jaber, pendakwah asal Madinah, Arab Saudi
Bagikan

Hidayatullah.com | NAMA lengkapnya Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, panggilan populernya Syeikh Ali Jaber. Tinggalnya Syeikh Ali Jaber di Indonesia sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan. Kisah tersebut bermula dengan berniat mencari serta mengumpulkan nasab keturunan dari keluarganya di tahun 2008. Sebelum itu, pria kelahiran Madinah, 3 Februari 1976 ini, memperoleh informasi sebagian keluarganya ada yang dari Indonesia.

“Keluarga besar kami ternyata ada yang berasal dari Indonesia, seperti Lombok, Surabaya, dan Jakarta. Jadi, saya punya saudara yang berasal dari kakek, seperti di Hadratul Maut, Madinah, dan Indonesia,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menjelang akhir 2008, Syeikh Ali Jaber datang ke Indonesia dengan niat ingin menjalin silaturahim dengan keluarganya. Saat itu, pertama kalinya ia bertemu dengan keluarganya yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Selatan. Tepat di sebelah rumah dinas Kedutaan Besar Amerika Serikat. “Alhamdulillah, mereka sangat senang bisa bertemu saya, yang juga termasuk salah satu dari keluarga mereka. Meskipun, kami tidak pernah bertemu sebelumnya,” ungkap lelaki yang lahir dan besar di Madinah dengan wajah bahagia.

Karena salah satu di antara mereka ada yang bisa berbahasa Arab dengan baik, kata Syeikh Ali Jaber, maka ia pun nyambung ketika berkomunikasi. Bahkan, ia sering berbincang di waktu sore hari. Hingga pada suatu kesempatan, ketika mendekati waktu maghrib ia diajak untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib di Masjid Agung Sunda Kelapa. “Kebetulan saat itu ada ketua takmir masjid, dan langsung mengenalkan saya kepada beliau. Akhirnya saya diminta untuk menjadi imam shalat Maghrib,” kata Syeikh Ali.

Ketika ia menjadi imam shalat Maghrib, ketua takmir merasa senang bisa mendengar suara khas bacaan al-Qur’an dari Madinah. Dari situ, lanjutnya, ketua takmir meminta Syeikh Ali untuk menjadi imam shalat Tarawih dan penceramah di Masjid Agung Sunda Kelapa selama bulan Ramadhan.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

“Dari situlah saya mulai kenal Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sering datang untuk shalat Tarawih, berbuka puasa, dan i’tikaf,” kenangnya.

Baca: Syeikh Ali Jaber: Hafal Qur’an itu Penting, Tapi …

Alhamdulillah melalui Jusuf Kalla juga, ulama yang dikenal sejak menjadi juri program acara “Tahfidz Quran” di sebuah stasiun televisi swasta ini, mendapatkan izin tinggal di Indonesia. Kemudian, Syeikh Ali yang biasanya menghabiskan bulan Ramadhan di Tanah Suci, lebih memilih berdakwah di Indonesia.

Syeikh Ali Jaber menyayangkan, Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim, namun masih banyak yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. “Itulah salah satu sebab yang membuat saya lebih fokus untuk memperhatikan para penghafal al-Qur’an di Indonesia, termasuk juga tunanetra,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, masih sedikit sekali jumlah para penghafal al-Qur’an di Indonesia. Bahkan mereka yang mengajar al-Qur’an rata-rata juga belum hafal al-Qur’an hingga 30 juz. “Ketika ada sebuah lembaga Islam dari negara Arab datang ke Indonesia untuk mencari penghafal al-Qur’an itu susah. Padahal, calon yang sesuai untuk dijadikan imam dan pemimpin adalah para penghafal al-Qur’an,” ungkap lelaki yang hafal al-Qur’an 30 juz pada usia 11 tahun.

Sejak mendapatkan izin tinggal di Indonesia, Syeikh Ali Jaber merasa semakin tertarik untuk berdakwah di Indonesia. Tak heran ia sering tampil ceramah, baik di mimbar maupun dalam forum majelis taklim. Padahal, saat itu ia belum mahir berbicara bahasa Indonesia dengan baik. Sementara itu, karena jamaahnya masyarakat Indonesia, maka menuntut ia harus bisa berbicara dengan bahasa Indonesia.

Untuk itu, selama setahun di Indonesia, meski masih pulang pergi ke Madinah, ia menyempatkan untuk mempelajari bahasa Indonesia. “Alhamdulillah, saya belajar dengan mendengar orang bicara kemudian saya praktikkan langsung, begitu seterusnya,” ucapnya.

Awalnya, tambah Ali, dirinya sering ditertawakan ketika mencoba bicara bahasa Indonesia, tetapi ia tidak pernah mempedulikannya. “Kalau pengucapannya salah baru saya minta dikoreksi,” imbuhnya.

Baca: Syekh Ali Jaber, Usia 11 Tahun Sudah Hafal al-Qu`an

Ali meyakini bahwa kemudahan dalam berbahasa itu akan diperoleh dari keberkahan menghafal al-Qur’an. Menurutnya, al-Qur’an itu menjadi sumber kemudahan untuk belajar apa saja. Maka, sambungnya, ketika ia mulai belajar bahasa Indonesia, tidak ada kesulitan yang membuatnya putus asa untuk belajar.

“Pertama, kalau kita sudah belajar al-Qur’an, maka saya yakini akan mudah. Kedua, yang memudahkan saya selain al-Qur’an, adalah tauhid yang kuat,” kata pria yang kini telah mahir berbicara bahasa Indonesia tanpa mengikuti kursus.

Di sisi lain, Syeikh Ali Jaber mengatakan, Islam di Indonesia merupakan Islam keturunan. Maksudnya, di saat orangtua Islam maka anak-anak pun ikut Islam, dan seterusnya. “Islam di Indonesia kebanyakan hanya sebuah nama, sementara perilaku sehari-hari masih jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Sebagian besar dari masyarakat Muslim di Indonesia belum mengerti ajaran Islam secara mendalam, apalagi terkait dengan ibadah sehari-hari.

Untuk itu, Syeikh Ali Jaber memberikan masukan kepada Muslim di Indonesia supaya jangan menjadikan Islam hanya karena keturunan, tetapi menjadikan Islam sebagai tahapan proses untuk belajar dan terus belajar. Serta berupaya untuk selalu mengimplementasikan secara langsung apa saja yang telah dipelajari dari Islam, supaya masyarakat mengetahui bagaimana Islam yang sebenarnya.

Baca: Syeikh Ali Jaber Wafat Sudah Negatif Covid-19, Setelah 2 Pekan Dirawat karena Dinyatakan Positif

Setelah puluhan tahun berdakwah dan mengajarkan al-Qur’an di Indonesia, beliau pun wafat pada Kamis (14/01/2021) pagi di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta. Sebelum wafat, Syekh Ali dirawat dua pekan lebih setelah dinyatakan positif Covid-19.

Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber, Habib Abdurrahman Alhabsyi, menerangkan, almarhum wafat setelah dinyatakan negatif Covid-19. “Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau. Semoga diterima segala amal shaleh beliau,” ujar Habib Abdurrahman dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/01/2021).* Ibnu Sumari/dikutip dari Suara Hidayatullah dengan penyesuaian redaksi hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab saudidaidakwahSyeikh Ali Jaberulama kena Covid-19
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Syeikh Ali Jaber Wafat Sudah Negatif Covid-19, Setelah 2 Pekan Dirawat karena Dinyatakan Positif
Tulisan selanjutnya Inggris Melarang Impor dari China Terkait dengan Tenaga Kerja Paksa Muslim Uighur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?