Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

A. Hassan, Jilbab dan Polemik dengan Majalah Aliran Baroe

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Januari 2021 08:34 8:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Januari 2021 16:12
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | JIKA  di Indonesia saat ini sudah sangat semarak dan ramai pemakain jilbab, maka sudah seyogianya tidak melupakan jasa-jasa pejuang jilbab di Indonesia. Di antara para pejuang itu, nama A. Hassan sangat layak untuk diangkat.

Pada tahun 30-an (A. Hassan, Jilbab, 1984: V) dikisahkan betapa besar tantangan untuk menerapkan jilbab untuk wanita muslimah. Rumah-tumah wanita berjilbab anggota Persatuan Islam (Persis) Bandung sampai dilempari batu. Bahkan, sekolah yang didirikan Persis di Pameungpeuk sampai ditutup penguasa.

Sampai akhirnya A. Hassan turun tangan untuk berdialog dengan pihak bupati setempat. Bahkan, kalau dibaca dalam sejarah Indonesia, hingga tahun 1980-an pemakaian jilbab masih dianggap kontroversial dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Namun, alhamdulillah, sekarang semua sudah bisa menikmati kebebasan mengenakan jilbab.

Baca: 30 Tahun Perjuangan Melawan Larangan Jilbab [1]

Tantangan yang dihadapi oleh A. Hassan, Persatuan Islam dan yang sepaham pada waktu itu bukan saja dari penguasa, tapi muncul juga dari kalangan internal umat Islam sendiri yang menganggap jilbab tidak wajib. Sebagian bahkan menganggap urusan khilafiyah biasa.

Sebagai contoh, polemik A. Hassan dan majalah Al-Lisan-nya dengan majalah Aliran Baroe yang dipimpin Asa Bafagih. Dalam buku A. Hassan “Risalah Kudung: Dua Bahagian Tammat” (1954) diterangkan bagaimana polemik ini berjalan.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Risalah yang disusun A. Hassan ini sebagai respon terhadap artikel-artikel yang diterbikan majalah Aliran Baroe pada edisi 17-36 yang pada intinya menganggap kudung tidak wajib. Kumpulan artikel itu kemudian diterbitkan pada bulan Oktober 1941. Sayangnya, artikel masalah kerudung pada nomer 17, 18 dan 21 –yang dinilai kontroversial oleh A. Hassan—tidak dimuat di dalamnya.

Bukan saja menerbitkan risalah bantahan melalui Al-Lisan, A. Hassan pada akhirnya juga menerbitkan buku berjudul “Risalah Kudung”. Beliau tak segan-segan untuk menyampaikan kesediaan berdebat dengan Tuan Husain Bakri yang kabarnya pernah ‘menantang’ A. Hassan.

Baca: Jam’iyyah Persis, Politik Nasional dan Sejarah

Dalam penutupan buku itu, A. Hassan menulis;

“Kalau betul merasa ada di fihak kebenaran, djanganlah takut bertemu muka di satu madjlis jang teratur dengan pakai djuri dan anggautanja.”

Sebelum menyebutkan secara singkat kritikan-kritikan A. Hassan yang dimuat dalam Al-Lisan, tentunya penulis berusaha mencari sumber-sumber asli majalah Aliran Baroe. Alhamdulillah, ada tiga majalah Aliran Baroe yang saya koleksi, yaitu: edisi nomer 19, 20 dan 23.

Dari majalah itu, sedikit terkonfirmasi bahwa memang ada serial masalah kerudung dibahas dalam majalah besutan tokoh peranakan Arab yang dekat dengan P.A.I. ini.  Di rubrik yang disebut “Timbangan” ada tajuk khusus yang berjudul “Mas’alah Koedoeng”. Dalam edisi ke-23 (hal. 6 dan 7) ada kritikan kepada A. Hassan dan Al-Lisan-nya dengan judul “Toean Hasan Bandoeng. Tjaranja bertoekar pikiran.” Juga pada halaman 11, yang berjudul “Al-Lisan Contra Aliran Baroe! Menggunakan “Alat Koeno” dalam peperangan sekarang. Menghantjoerkan balatentara sendiri!”

Pada edisi tersebut A. Hassan disebut marah atas tindakan P.A.I tidak turut campur pada masala furu’ padahal dalam acara undangan pengantin, para istri kalangan P.A.I. melenyapan tradisi “telor-teloran”. Perbedaan pendapat ini sudah bertahun-tahun. Maka P.A.I tidak mau ikut “bertjakar-tjakar”.

Baca:  Ahmadiyah Versus A Hassan

A Hassan digambarkan sebagai sosok yang marah jika pendapatnya tak diikuti. Bertindak seperti badut-badutan; mengeluarkan banyolan mesum; disebut akal keling (istilah yang terkenal di Surabaya yang berarti tidak ksatria); kalau tulisan dikritik suka ngeles bahwa itu tulisan inisial M.S., S.A. dan seterusnya; tergesah-gersah dan lain-lainnya.

Sedangkan dalam artikel berikutnya, disebutkan polemik antara Al-Lisan dan P.A.I. Aliran Baroe tak terima ketika majalahnya dinamai “Qaliloel-Iman”. Mereka merasa digempur A. Hassan, merasa dinista, bahwa pembesar P.A.I. A.R. Baswedan pun tidak luput dari serangan A. Hassan. Tapi, semua itu dihadapi mereka dengan cara yang santun, tidak seperti A. Hassan (menurut majalah Aliran Baroe).

Tuduhan-tuduhan tersebut, ketika dibaca langsung dalam buku A. Hassan  “Risalah Kudung” (1954) memang disebutkan oleh beliau. Beliau dituduh sebagai ulama yang suka cakar-cakaran, dicap sebagai pemecah, terlalu perhatian masalah furu’ dan lain sebagainya. Tapi, kata A. Hassan mereka tidak adil dalam menilai. Ketika orang lain membahas masalah furu’, justru dianggap sebagai sebagai bahan untuk berpikir dan lain sebagainya.

Secara jujur kalau saya bandingkan setelah membaca langsung di majalah Aliaran Baroe dan buku A. Hassan, ada ketimpangan. Di Aliran Baroe malah banyak cercaan dan celaan kepada A. Hassan, sedangkan bantahan yang bersifat ilmiah sangat minim dikeluarkan.

Baca:  Ketika A. Hassan Berdebat dengan Orang Ahmadiyah

Sedangkan A. Hassan, dengan sangat tangkas menunjukkan poin-poin kekeliruan dan kesalahan majalah Aliran Baroe sejak nomer 17, berikut kritik dan jawabannya. Menurut catatan beliau, dalam tulisan Aliran Baroe ada kesalahan referensi, ketidak jujuran, kedustaan, lemahnya pemahaman bahasa, salah mengartikan kata Arab dan seterusnya.

Lebih lengkapnya bisa dibaca dalam buku A. Hassan ini. Kesan yang timbul, mereka terlihat lemah dalam dasar-dasar keagamaan.

Untuk mempertahankan pendapatnya, A. Hassan siap debat kapan saja, bahkan menawarkan dan mengikuti cara yang dibuat mereka. Maka tak mengherankan jika A. Hassan menulis:

“Oleh sebab masalah ini penting dan masih ada lagi alasan-alasan jang boleh dikemukakan dari sana dan sini, maka kami harap supaja golongan “Aliran Baroe” dan Sjaichul-Islam serta Muftinja sampai kepada ekor-ekornjam incluisief tuan Husain Bakri, Pekalongan, suka bertemu dengan kami dalam satu pertemuan jang sjarat-sjaratnja boleh fihak ,,Aliran Baroe” atur sendiri dengan pantas buat dua-dia fihak.” (1954: 70).*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanAL Lisankudungmajalah al Lisanperjuangan jilbabPersis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Covid-19: Seluruh Masjid di Perlis Kembali Hentikan Shalat Berjamaah
Tulisan selanjutnya Wakil Gubernur Bangsamoro Meninggal Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?