Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Perjuangan Badi’uzzaman Sa’id Nursi dalam Menjaga Kelestarian Huruf Arab

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Juni 2023 14:47 2:47 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Juni 2023 15:00
Bagikan
Badi’uzzaman Sa’id Nursi
Bagikan

Melalui ‘RISALAH NUR’ Badi’uzzaman Sa’id Nursi melestarikan tulisan Arab sebagai tulisan Al-Qur`an, setelah era sekuler Kemal Attaturk melarang adzan dan bahasa Arab

Hidayatullah.com | SEBELUM penjajahan Eropa dan semacamnya ke negeri-negeri Islam, umat Islam pada umumnya sangat erat hubungannya dengan aksara dan huruf Arab. Di Indonesia ada istilah Arab Pegon atau Arab Melayu. Huruf dan aksaranya tetap Arab tapi bahasanya adalah bahasa setempat.

A. H. Johns, dalam artikelnya berjudul “Penerjemahan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Melayu Sebuah Renungan” mencatat bahwa, “Pada tahun 1600….Di seluruh kawasan nusantara, bahasa Melayu boleh dikatakan hanya ditulis dengan suatu jenis huruf Arab.” (Baca: Henri Chambert-Loir, SADUR Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, 2009: 50).

Ini menunjukkan betapa dominannya penggunaan huruf Arab Melayu. Ini belum terhitung di negara-negara yang mayoritas muslim lainnya. Dalam pandangan Prof. Al-Attas –sebagaimana dalam buku “Islam dan Sekularisme” (1981: 196) cetakan Salman Bandung– menulis bahwa ada hubungan formal, leksikal dan konseptual antara huruf Arab dengan bahasa dari rakyat Islam.

Usaha untuk “romanisasi” atau “latinisasi” huruf atau aksara Arab dari bahasa setempat umat Islam, akan memisahkan hubungan-hubungan tersebut.  Pihak yang harus bertanggung jawab adalah para pemimpin palsu di antara kaum muslimin yang mengabdi pada kepentingan kolonial.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Efeknya ternyata tak sampai di situ, ada juga: dearabisasi, westernisasi serta kebingungan bahasa dan semantik sehingg konsep-konsep penting dalam Islam beserta pandangan hidup (wold view)-nya menjadi kabur.

Di Indonesia, dari usaha intensif kolonial, berhasil menggeser dominasi huruf Arab di tengah-tengah umat Islam. Sehingga wujud dan pelestarian huruf Arab Pegon atau Arab Melayu kian sempit dan kalau pun ada kebanyakan di dunia pesantren tradisional.

***

Kondisinya tak jauh beda dengan Turki di saat kejatuhannya berganti republik. Pasca 1923, saat Kemal Attaturk berkuasa, digencarkan dearabisasi. Bahkan dalam ibadat pun sempat dilarang adzan berbahasa Arab dan seterusnya. Apalagi, huruf-huruf Arabnya.

Dr. Adian Husaini mencatat dalam bukunya “Wajah Peradaban Barat” (272-274) bahwa usaha Kemal At-Taturk sejak awal memang mau menjadikan Turki modern berkiblat ke Barat. Sehingga ada upaya untuk mengganti bancaan shalat dengan bahasa Turki, selain itu mengganti azan dengan bahasa Turki dan lain sebagainya.

Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960) mengalami suasana yang sangat sulit ini. Meski begitu, beliau misalnya dengan RISALAH NUR-nya, mencoba melestarikan tulisan Arab karena dinilai sebagai tulisan Al-Qur`an.

Perhatikan catatan berikut, “Risalah Nur yang mendapat tugas pengabdian untuk menjaga tulisan al- Quran harus disebarkan dengan tulisan al- Quran. Ketika itu penulisan buku dengan menggunakan huruf Arab dilarang dan percetakannya ditutup, sementara Ustadz Badiuzzaman tidak memiliki harta sedikitpun. Para penulis dan penyalin Risalah Nur hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Orang-orang yang menyalin Risalah Nur dibawa ke kantor polisi, disiksa, dan dijebloskan ke penjara.” (Baca: Biografi Badiuzzaman Said Nursi Berdasarkan Tuturannya dan Tulisan Para Muridnya, 2020: 199).

Jadi, untuk menjaga dan melestarikan huruf Arab kala itu sungguh sulit. Meski demikian, segala risiko diambil oleh Sa’id Nursi dan para muridnya.

Mengenai anjuran Sa’id Nursi untuk menjaga kelestarian huruf Arab bisa dibaca dalam karya beliau berjudul “al-Lama’āt”. Ada bab khusus yang dalam bahasa Indonesia diartikan “PENGABDIAN MENJAGA HURUF AL-QUR`AN”. Di mana di antaranya disebutkan bahwa asas dakwah an-Nur adalah : “Pengabdian untuk al-Qur`an.”

Tujuan menjaga huruf Arab sebagaimana penjelasan Said Nursi adalah demikian, “Di antara tugas penting Risalah al-Nur adalah menjaga huruf-huruf Arab yang merupakan tulisan dan aksara yang digunakan di sebagian besar dunia Islam.”

Dengan perjuangan sungguh-sungguh ini, beliau dan para pejuang muslim lain yang sepaham di Turki masih bisa menjaga kelestarian huruf Arab hingga Turki menjadi bentuknya sekarang ini. Usaha-usaha dearabisasi, deislamisasi dan westernisasi dengan meniadakan huruf Arab bisa dibilang gagal.

Dan Badiuzzaman Sa’id Nursi punya andil penting di dalamnya. Bukan saja secara konseptual, tapi sudah dalam ranah aplikatif-konkret.

***

Sebagai tambahan, salah satu bukti konkret penjagaan Said Nursi dan para Thullābun Nūr (para murid Said Nursi), salah satunya Al-Chairat Fondation, saat Al-Qur`an dan pengajarannya dilarang pada era sekuler Attaturk, mereka menggalang dana wakaf untuk membangun percetakan Al-Qur`an.

Hingga saat ini, Al-Qur`an produk percetakaan itu tersebar di 72 negara dunia terutama Afrika yang kurang akses terhadap Al- Quran. Di antara progamnya adalah wakaf Al-Qur`an dengan tema: “DUNIA MEMBACA AL-QUR`AN”.

Ini membuktikan bahwa Said Nursi dan para muridnya berjuang dengan gigih menjaga kelestarian huruf Al-Qur`an atau huruf Arab dengan berbagai cara yang telah disebutkan tadi sehingga huruf-huruf itu –ditengah upaya dearabisasi, deislamisasi dan westernisasi—masih lestari hingga sekarang.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badiuzzaman Said NursiHeadlineKemal AttaturkPilihan RedaksiRISALAH NURSa’id Nursisekularisme Turki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Yakinlah Allah akan Memberikan Hal Terbaik di Waktu Terbaik
Tulisan selanjutnya Bukan Prajurit Biasa, Seorang Pemuda Mesir Tewaskan 3 Tentara Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?