Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | MERASA digdaya, itu banyak sebab. Dan lebih pada sokongan lingkungan. Merasa bisa lakukan apa saja, selalu bersandar pada pelindung.
Sikap digdaya itu akhir-akhir ini muncul disebagian masyarakat. Lalu orang bisa melihat perubahan itu, perubahan pada laku perangainya.
Perubahan saat hukum dilanggar, tidak ada perangkat hukum yang bisa mencegah, menangkap dan menghukumnya. Jumawa lagaknya.
Menjelmah jadi manusia digdaya sesungguhnya. Menjadi manusia terlindungi. Hukum pun berpihak tanpa reserve. Tidak ada yang menyentuhnya.
Karenanya, hukum lalu menjadi tumpul jika disasarkan padanya, meski ia jelas salah dipandangan hukum, tapi tidak dipandangan kekuasaan.
Sang digdaya itu perangainya selalu menantang, bahkan mengolok tokoh garis lurus dengan tidak selayaknya. Agama dipersekusi dengan canda dan hinaan.
Perangai digdaya ini cuma sikap yang diada-adakan. Punya tugas khusus menyerang tokoh kritis agar takut bersuara, lalu memilih hidup dengan mulut terkunci.
Perangai digdaya, sikap jumawa, itu sebenarnya manusia jadi-jadian yang diadakan, bertingkah lagak penuh kekuatan pengendali.
Manusia jadi-jadian itu akan bangkrut pada saat kekuatan penyokongnya runtuh, ia akan berserakan bagai tikus membusuk penuh belatung.
Masa itu pun akan datang, tampaknya tidak lama lagi, bagai malam berganti siang menjelang. Kehidupan lalu menjadi normal tanpa ada yang merasa digdaya.
Berbahagialah insan yang hidup di masa itu. Saling hormat dan tepa selira sewajarnya. Tak muncul narasi kebun binatang diumbar di ruang publik.
Aku berharap masih terjaga di masa itu, masa kritisisme disikapi sewajarnya, dituturkan guna maslahat pada komunitas beradab. (*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya