Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Paralisis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Agustus 2020 09:09 9:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Agustus 2020 09:05
Bagikan
[Ilustrasi] Paralisis atau kelumpuhan
Bagikan

Oleh: Asih Subagyo

 

Hidayatullah.com | HARI-hari ini, ada tambahan kosa kata baru berkenaan melihat situasi saat ini, yaitu statement dari Prof. Dr. Boediono, mantan Wakil Presiden dan seorang akademisi itu. Meski sudah lama bertengger di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi terkesan baru, karena jarang mendengar. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Terasa asing di telinga kita. Diksi yang dimaksud adalah paralisis.

Menurut KBBI, paralisis adalah hilangnya kemampuan untuk bergerak karena cedera atau penyakit pada bagian saraf; kelumpuhan. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa, situasi Indonesia (dan juga negara lain), yang hampir semuanya terdampak Covid-19 itu, bukan sekadar krisis, resesi, atau depresi sekalipun tetapi lebih dari itu.

Dan oleh karenanya, hal ini memicu krisis saat ini akan bersifat multidimensional. Menurut mantan Menko Perekonomian ini, pandemi Covid-19 ini tidak hanya menimbulkan resesi maupun depresi melainkan sebuah kelumpuhan atau paralisis. “Ini bukan sekedar resesi, bukan sekedar depresi, ini paralisis. Suatu sistem yang tiba-tiba saja beku dan ini yang perlu kita pahami” (https://bisnis.tempo.co/read/1376730/komentari-krisis-boediono-bukan-sekedar-resesi-dan-depresi-ini-paralisis).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dari sini dapat dijelaskan bahwa paralisis adalah sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan, karena hampir semua aspek kehidupan menjadi tidak berfungsi secara optimal, dan ini akan menjadi berdampak sistemik, dimana satu sama lain akan saling berpengaruh, sehingga menciptakan “kelumpuhan” aktifitas kehidupan.

Pendapat tersebut di atas, sesungguhnya mempertegas dan memperjelas sekaligus tafsir yang mutakhir dari data yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik, beberapa waktu lalu, bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun 2020 adalah minus -5,32%. Sedangkan pada kuartal I, ekonomi tumbuh 2,97%. Dan data ini, sejatinya menunjukkan grafik menurun jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV tahun 2019 yang 4,97%.

Dengan pertumbuhan yang negatif pada kuartal II 2020, secara teori, Indonesia sudah otomatis masuk ke dalam resesi teknikal. Dimana resesi teknikal merupakan kondisi pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Dan ini sudah terbukti.

Selanjutnya, dengan melihat pondasi ekonomi yang ada, dan juga dipicu oleh situasi global yang sama-sama mengalami konstraksi, maka sangat memungkinkan bahwa pada kuartal III tahun 2020, juga akan mengalami penurunan atau pertumbuhan negatif lagi. Jika kondisi demikian yang terjadi, maka Indonesia akan memasuki jurang resesi yang sesungguhnya, bahkan tidak menutup kemungkinan mengarah kepada depresi ekonomi, jika berlanjut hingga akhir 2020.

Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19, yang masih belum diketahui kapan berakhirnya. Dari sekian prediksi yang ada, yang paling bisa diterima adalah Covid-19 akan berakhir jika vaksin Covid-19 telah diproduksi secara komersial. Dimana secara teoritis, vaksin akan diketemukan sekitar 1,5 hingga 2 tahun sejak virus ini mulai menyebar di Wuhan, China akhir tahun 2019 lalu. Artinya, tahun ini dan tahun depan kontraksi akan terus terjadi. Hal inilah sesungguhnya yang bisa menjelaskan mengapa tidak hanya resesi ekonomi yang terjadi. Akan tetapi bisa mengarah dan memicu terjadinya krisis multidimensi, sebagaimana yang diprediksi oleh para ahli, yang selanjutnya terjadi paralisis itu.

Secara teori, krisis multidimensional adalah suatu situasi dimana bangsa dan negeri dilanda oleh beraneka-ragam permasalahan dan pertentangan besar maupun kecil dan berbagai keruwetan di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan juga kebobrokan moral. Krisis ini, saat ini telah dan sedang terus memporak-porandakan berbagai sendi-sendi penting kehidupan bangsa. Begitu hebatnya krisis yang bersegi banyak ini, sehingga banyak orang kuatir dan jika penanganannya tidak tepat, tidak menutup kemungkinan akan memicu terjadinya disintegrasi negara dan bangsa. Atau dengan kata lain membayangkan masa yang serba gelap di kemudian hari. Karena begitu besarnya kekacauan yang akan timbul di berbagai bidang itu.

Melihat realitas di atas, kita harus memposisikan diri sebagai aktor, merepresentasikan diri sebagai subyek, bukan obyek. Karena, sebagai salah satu komponen umat maka sudah selayaknya kita mampu merespons kondisi ini dengan kapasitas diri kita masing-masing.

Kita harus bergerak, tidak bisa tinggal diam dan abai dengan permasalahan kebangsaan, karena ini adalah realitas permasalahan umat. Sebab, krisis multidimensional ini, pasti juga akan berpengaruh terhadap diri kita. Sehingga dalam merespons situasi kekinian itu, semestinya dibingkai dalam kerangka membangun kekuatan umat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Dengan demikian maka, kita tidak shock (gagap) lagi ketika terjadi turbulensi di berbagai bidang, di kemudian hari. Karena, sejak jauh hari kita sudah mengantisipasi dan mempersiapkan diri.

Kesadaran ini harus dibangun oleh setiap individu, sehingga menjadi kesadaran kolektif dan seterusnya. Karena, ke depan, problematika di berbagai sektor itu, akan mewarnai dan membersamai kehidupan kita. Sehingga tidak cukup hanya berdamai dengan kehidupan baru (new normal) itu, namun bagaimana kita menjadi lolos sekaligus jadi pemenangnya.

Kembali ke masalah paralisis, jika terjadi kondisi stroke atau kelumpuhan sebagaimana yang digambarkan di atas, maka kita berusaha semaksimal mungkin, untuk tidak ikut-ikutan lumpuh. Sebenarnya ini kewajiban Negara, tetapi secara umat dan warga negara tidak bisa kita berlepas tangan. Karena secara langsung atau tidak, dampaknya akan sampai juga ke kita. Oleh karenanya, kita harus tetap berdiri kokoh. Siap bertarung dan memenangkannya. Meski ketika mengalami kondisi ini, mungkin kita akan terhuyung-huyung juga. Namun kita harus senantiasa “waras” dan waspada. Karena sebagaimana dijelaskan di atas, situasi yang uncertainly ini berpotensi akan berkepanjangan. Dan sekali lagi, karena masalahnya multidimensi, maka kita juga harus mempersiapkan diri melampaui apa yang dihadapi.

Secara sunatullah, masing-masing kita mesti berikhtiar mempersiapkan diri dengan pendekatan kekinian dan komprehensif, sesuai dengan tantangan dan problematika yang dihadapi. Agar tetap survive, sudah barang tentu menjaga imunitas tubuh dan melaksanakan protokol kesehatan tetap menjadi prioritas. Demikian halnya model kemandirian dalam ekonomi dengan memproduksi dan menkonsumsi produk lokal, terutama milik orang-orang terdekat, dan sebagainya.

Selanjutnya setelah ikhtiar kita lakukan semaksimal mungkin, maka bertawakal dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala adalah sebuah keharusan. Sehingga takdir apapun yang kita terima, itulah yang terbaik buat kita. Wallahu a’lam.*

Ketua Bidang Perekoniam DPP Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:covid-19ekonomiindonesiakrisis ekonomiparalisisresesi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Krisis Mali: Presiden dan Perdana Menteri Ditangkap oleh Pasukan Pemberontak
Tulisan selanjutnya Sholat di Masjid Al-Aqsa Seharusnya Tidak Menjadi Dalih Normalisasi dengan ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza

Berita
29 Agustus 2026 08:29
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?