Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, memang pribadi mempesona nan memukau. Selalu dibicarakan dengan benar, dan pula dibicarakan dengan tidak sebenarnya.
Anies menjadi dua sisi menarik. Baik bagi yang memberitakan dengan sebenarnya, itu semata apresiasi atas karya yang dibuatnya. Tapi bagi yang memberitakan dengan tidak sebenarnya, Anies itu juga menguntungkan.
Anies bisa membuat sebagian pihak mendapatkan keuntungan darinya, itu di tengah kesulitan mendapatkan pekerjaan. Anies memberi pekerjaan, meski dirinya diberitakan dengan tidak sebenaranya, dicaci maki, dan bahkan sekalipun dengan fitnah keji.
Para buzzerRp, memang dibayar untuk bicara tentang Anies dengan tidak sebenarnya. Makin ngawur bicaranya, nominal yang diterimanya makin lumayan. Setidaknya bisa buat beli lauk makan bersama istri, sewa kost, dan membeli popok pempes buat sang bayi.
Pekerjaan yang Anies berikan, tentu bukan pekerjaan yang langsung darinya, tapi dari mereka yang mengupah untuk bicara tentang diri Anies dengan tidak sebenarnya. Mengolok-olok bahkan sampai tahap rasisme segala.
Anies sejak awal menjabat sebagai Gubernur DKI, tidak terlepas dibicarakan, sekali lagi, bagai dua mata sisi pembicaraan atasnya: apresiasi sewajarnya, dan caci maki tanpa henti. Mungkin baru Anies yang diperlakukan demikian, tidak pada gubernur atau pejabat lainnya.
Tidak perlu dibahas kenapa Anies diperlakukan dengan tidak wajar itu, memang agak panjang dan rada sulit menjelaskannya. Itu seperti sulit menjelaskan –maaf– bentuk kentut, tapi bisa dirasa kehadirannya jika hidung terasa menyengat bau tak sedap.
Baca: Anies Presiden, Jakarta Bebas Banjir, In Syaa Allah
Tapi ada yang coba menariknya pada tahun 2024, dan itu perhelatan Pilpres, di mana Anies dianggap bisa jadi batu sandungan dari mereka yang tidak ingin tersaingi. Pastilah mereka yang tidak ingin bersaing dengannya bukanlah seorang demokrat. Mereka kumpulan kepentingan oligarki, yang menganggap bersaing dengan Anies di Pilpres itu tidaklah mudah.
Maka menggiring opini buruk tentang Anies lewat para buzzerRp terus digalakkan, berharap pikiran publik jadi terbentuk, bahwa Anies bukan pilihan tepat untuk memimpin negeri ini.
Para buzzerRp itu terus mengasa kreativitasnya untuk menyerang Anies, juga tentu mendengar arahan dari “kakak pembina”, bicara sesuai yang dipesan.
Tapi untuk para buzzerRp senior, maka boleh memilih tema sendiri, sesekali saja jika dianggap kosentrasi pada tema tertentu dianggap lebih perlu, maka pengarahan itu yang dijalankan.
Maka tema pembusukkan pada Anies pun jadi lebih variatif. Sayang sekali banjir di Jakarta kemarin tidak berpanjang harinya. Cuma tidak lebih dari 24 jam banjir sudah surut. Sayang juga tidak ada pawang penahan surut banjir, sehingga banjir bisa bertahan agak lamaan dikit, syukur jika bisa sepekan atau dua pekan.
Belum sempat menggoreng banjir Jakarta, agar dompet bisa sedikit terisi, tapi air hujan enggan berdiam diri lebih lama lagi. Kasihan juga mereka, jika bayaran belum sempat dibayarkan. Gigit jari deh sambil ngedumel nyumpahi Tuhan, kenapa kok hujan tidak dibuat turun berhari-hari.
Saham DKI Jakarta, dan Gorengan Para Buzzer
Saat Presiden keluarkan Perpres Nomor 10, Tahun 2021, tentang pelegalan investasi miras. Maka para buzzerRp memuji-muji kebijakan Pak Jokowi itu, yang dianggapnya membangkitkan ekonomi daerah, dan dipilihnya empat wilayah, kata buzzerRp, itu memang sesuai dengan kearifan lokal.
Kreativitas meyakinkan bahwa apa yang dilakukan Pak Jokowi, selaku presiden, sampai menyebut sesuai dengan kearifan lokal, itu sungguh kreativitas dengan narasi menggelikan. Mabuk kok kearifan lokal… He-he-hee…
Saat Presiden Jokowi terkoreksi dengan kebijakan yang diambilnya, lalu mencabut lampiran Perpres itu, para buzzerRp itu mbelesek gak bersuara. Lagi-lagi belum banyak cuan yang didapat eh malah Pak Jokowi membatalkan proyek itu. Gagal maneh… gagal maneh…
Lalu dalam beberapa hari ini, para buzzerRp dapat lagi order untuk fitnah Anies. Ya, ini memang order untuk memfitnah Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Apa itu?
Pak Anies Baswedan dan Pak Sandiaga Salahuddin Uno, saat kampanye Pilgub DKI Jakarta di 2017 yang lalu, dalam kampanyenya menjanjikan banyak hal. Satu persatu janji-janji kampanye itu dipenuhinya.
Tapi ada satu janji yang belum bisa dipenuhinya, karena terganjal izin dari DPRD DKI Jakarta. Itu tentang pelepasan saham DKI Jakarta pada PT Delta Djakarta, Tbk. Ini perusahaan produsen bir Anker. Saham mayoritasnya 58,3 persen dikuasai San Miguel Malaysia Pte Ltd, yang teraviliasi dengan San Miguel Grup (Filipina).
Perusahaan bir ini ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda, pada tahun 1932, dengan nama Archipel Brouwerij NV, lalu berganti nama NV De Oranje Brouwerij.
Saat nasionalisasi perusahaan-perusahaan tinggalan Belanda di tahun 50an, perusahaan bir ini dikelolah pemerintah pusat. Tahun 1970 diserahkan pada Pemprov DKI Jakarta, itu di era Ali Sadikin gubernurnya.
Tahun 1984 pabrik bir melantai di pasar modal. Maka masuklah raksasa perusahaan bir dunia San Miguel Filipina, menguasai saham mayoritas (58,3 persen), dan saham DKI 26,25 persen. Saham sisanya dimiliki publik.
Pelepasan saham pada PT Delta Djakarta, inilah ganjalan janji Anies saat kampanye Pilkada lalu yang belum terpenuhi. Janji ini ingin dipenuhinya. Sudah 3 kali surat permintaan pelepasan itu dilayangkan Pemprov DKI pada DPRD DKI Jakarta, tapi tidak digubris.
Dengan congkaknya ketua dewan yang berasal dari PDI Perjuangan itu mengatakan, selama ketua DPRD dirinya ia tidak akan melepas penjualan saham di PT Delta itu. Ini bukan masalah halal-haram, jangan ditarik-tarik pada masalah agama tertentu, katanya.
Politisi PDIP itu mengatakan, PT Delta Djakarta tidak pernah mendapatkan hibah dari Pemprov DKI. Justru perusahaan dengan emiten saham DLTA tersebut keberadaanya menguntungkan Pemprov DKI karena selalu membagikan dividen. https://t.co/2Zc5NNlLM8
— Hidayatullah.com (@hidcom) March 3, 2021
Tambahnya, “Ini ada apa? Ada apa orang yang menggebu-gebu untuk menjual PT Delta,” ujar Prasetio Edi Marsudi, Ketua DPRD DKI Jakarta, Selasa, 2 Maret.
Baca: Rasisme, Anies Baswedan, dan Jejak Darah Kepahlawanan
Semuanya sudah jelas, bahwa Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta, berupaya memenuhi janjinya untuk melepas saham di perusahaan bir itu, tapi terganjal oleh ketua dewannya, yang cuma berpikir bahwa perusahaan itu menguntungkan.
Tapi Anies melihatnya dari sudut lainnya, bahwa tidak etis pemda memiliki saham diperusahaan bir. Menurut Anies, deviden yang didapat dari perusahaan itu tidaklah signifikan. Hanya Rp 81,9 miliar. Nominal yang tidak ada apa-apanya dibanding APBD Jakarta yang Rp 89 triliun.
Lanjut Anies, nilai yang didapat dari perusahaan PT Delta itu tidak beda jauh dari pajak yang didapat dari Alexis, tempat maksiat esek-esek, yang ditutupnya beberapa bulan setelah ia terpilih sebagai gubernur. Menutup Alexis, kata Anies, tidak menjadikan masalah apa-apa dengan keuangan DKI Jakarta.
Maka tampak dihadapan publik sebuah pertarungan antara moral yang bersandar pada etis, dan itu spiritual versus amoral yang cuma bersandar pada keuntungan tidak seberapa tapi mengorbankan moral bangsa.
Maka kerja buzzerRp, itu membalik opini seolah Anies jadi pihak yang tidak ingin menjual saham di perusahaan bir itu. Sedang ketua dewan yang bersikeras tidak akan menjualnya tidaklah diikut sertakan dalam hiruk pikuk opini yang diciptakan. Meme-meme bertebaran dicipta, membalik persoalan yang ada, dan Anies jadi pihak yang disebut amoral tapi berkedok moralis.
Opini jahat dari para buzzerRp, yang menyebar narasi fitnah, itu mudah menghalaunya dengan bukti-bukti kesungguhan gubernur Anies untuk melepasnya. Ini janji serius, bukan kaleng-kaleng. Tiga surat yang dilayangkan, dan belum ditanggapi oleh dewan, itu bukti kesungguhan yang mustahil bisa disangkal. Dan juga pernyataan ketua dewan sendiri yang mengatakan akan mempertahankan perusahaan bir itu.
Tapi ya lagi-lagi, para buzzerRp kan cuma manusia bayaran, yang mau bekerja apa saja meski sekalipun harus memfitnah. Lapar perut dan ingin hidup lebih sejahtera tampaknya jadi pilihannya. Negeri ini belum bisa memberi pekerjaan yang layak pada para buzzerRp itu, kecuali pekerjaan dengan upah memiriskan, “memakan daging saudaranya sendiri”. Jijik ahh… (*)
Kolomnis, tinggal di Surabaya