Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Masihkah Ramadan Bersama Kita?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 September 2012 08:07 8:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 September 2012 08:07
Bagikan
Bagikan

RAMADHAN tahun ini telah berlalu. Hari-hari di bulan Syawal sedang kita lalui. Sungguh beruntung orang-orang mukmin yang hari-harinya bersama Ramadhan. Ia merasakan dekapan Ramadhan dalam malam-malam yang penuh kesyahduan. Larut dalam untaian tilawah Alquran, berdzikir dan bercumbu dalam khusyuknya salat malam. Kegersangan spritual ia isi dengan sungguh dalam beribadah sebagai tanda keinsafan. Ada sebuah kesadaran yang mencuat dari lubuk hati yang dalam, bahwa tidak ada jaminan untuk bersua dengan Ramadhan tahun depan.

Alangkah merana sang pendosa. Mata hatinya terkunci untuk menatap keberkahan yang ditaburkan Ramadhan. Ia hidup tetapi tidak memiliki kehidupan. Selama Ramadhan jiwanya tersiksa. Ia terpenjara oleh nafsu buruk dan pikiran kumuh. Karena ia tak tahu dan tak mau tahu dengan Ramadhan, celah Ramadhan pun masih ia sempatkan untuk menabur kemaksiatan. Padahal, sekali saja dari hembusan nafasnya berhenti, berarti usai baginya kehidupan ini.

Jujur saja. Banyak perubahan yang dirasakan oleh kita selama bulan Ramadhan. Tiba-tiba secara pribadi tingkat kesolehan kita meningkat. Berbagai bentuk ibadah, seperti shalat malam (tarawih), tilawah Al-Quran, sedekah, dan mendatangi masjid atau mushalla begitu mudah untuk dilakukan. Ucapan dan tutur kata dijaga. Sikap malu untuk berbuat maksiat begitu terasa.

Lihat pula dalam konteks bernegara. Setiap insan seakan tersadar bahwa kemaksiatan bukan persoalan individu orang. Setiap kita ternyata memiliki hubungan emosional dan harus empati dengan kehadiran orang lain. Nilai rasa dan penghargaan muncul. Maka, tempat-tempat maksiat dirazia dan ditutup sebagai bentuk penghormatan terhadap pesta spritualitas Ramadhan umat Islam. Program televisi dan tampilan artis pun berubah memberi kesan kepedulian. Dan, semua kita mampu membuktikan makna toleransi yang sejati.

Namun, pertanyaan menyeruak kepermukaan. Apakah ini tanda keinsafan kita atau malah menegaskan sikap kita yang pragmatis dan hedonis? Di mana segala sesuatu diukur dari aji mumpung dan memanfaatkan apa yang sedang ada di depan mata. Bagi pedagang, Ramadhan adalah lembaran uang dari kepentingan bisnis dan ekonomi. Bagi pejabat, Ramadhan adalah ajang publikasi diri dan tebar pesona dengan balutan aneka bantuan untuk yang miskin. Bagi yang miskin, Ramadhan menggiatkan diri untuk meminta-minta belas kasihan kepada sang pemberi. Dan, Ramadhan hanya dijadikan singgah pertobatan yang menutup segala kemunafikan diri.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Masihkah Ramadhan dengan nilai-nilai keutamaannya bersama kita? Pertanyaan ini sederhana, namun butuh tanggung jawab besar. Untuk itu, mari kita renungi kembali sebuah ayat Alquran yang selalu akrab ditelinga kita selama Ramadhan, yakni Surat Albaqarah ayat 183. “Semangat” kata-kata yang terdapat dalam ayat ini layak menjadi renungan untuk memaknai puasa yang telah kita kerjakan dan Ramadhan yang telah pergi.

Pertama, kata amanu. Ia juga disebut sebagai prinsip dan komitmen. Dengan itulah kita menjalankan ibadah puasa. Tanpa itu yang ada hanyalah keraguan dan sia-sianya puasa. Ia harus dijaga dan diperbaharui setiap saat. Sebab iman mengalami fluktuasi (naik-turun) pada diri seseorang. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW mengingatkan untuk senantiasa memperbaharui keimanan (jaddidu imaanakum), yaitu dengan ketaatan. Hanya dengan keimanan yang mantaplah puasa akan melahirkan kader Ramadhan yang militan dalam peningkatan diri. Inilah rahasia ungkapan Yaa ayyuhallaziina aamanu yang harus diperhatikan.

Kedua, kata kutiba yang berarti ditulis, dalam ayat diartikan diwajibkan. Sesuatu yang ditulis tentu meninggalkan bekas. Puasa harus memberi bekas terhadap diri kita. Ia harus mampu mengubah kepribadian kita untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Bekas itu bisa ditunjukkan dengan sikap lebih sabar, tawakkal, disiplin, dan tawadhu’. Akhlak mulia harus melekat pada diri kita sebagai hasil “tulisan” Ramadhan. Inilah rahasia kata kutiba. Allah SWT tidak memilih kata furida (yang difardhukan) atau ujiba (yang diwajibkan) dalam hal ini. Allahu a’lam.

Ketiga, kata as shiyam yang berarti puasa. Dengan puasa diharapkan mampu mengendalikan dan menjaga diri kita. Oleh sebab itu puasa juga bermakna al imsak (menahan). Orang yang mampu menahan diri (sabar) akan mampu menguasai keadaan. Hal itu akan melahirkan sikap proforsional dalam tindakan. Dan itu menunjukkan kejernihan berpikir dan ketenangan jiwa dalam menghadapi persoalan. Inilah yang disebut dengan kecerdasan emosional (Emotional Intellegence).

Keempat, kata qablikum yang berarti sebelum kamu. Puasa harus membuat kita lebih peduli dan mau belajar dengan orang lain. Inilah rahasia ungkapan kama kutiba ‘alallazina min qablikum. Puasa bukan ibadah baru. Ia telah diwajibkan oleh Allah SWT kepada orang-orang sebelum kita. Ungkapan ini secara psikologis mengajak kita untuk tidak merasa sendirian dan susah dalam beribadah. Jika ini disadari, sungguh puasa Ramadhan akan terasa mudah dan bermakna, sekaligus memunculkan kepekaan sosial yang luar biasa.

Kelima, kata tattaqun. Puasa harus diorientasikan atau diproyeksikan untuk menggapai ketakwaan (la’allakum tattaqun). Inilah ‘gawang’ Ramadhan yang harus dituju dari sasaran ‘bola’ puasa kita. Jika akhir suatu usaha memiliki target yang jelas, biasanya membawa dampak semangat luar biasa dalam usaha itu. Dengan takwa akan terbedakanlah mana hamba yang mulia dan hina dihadapan Allah SWT (QS. Al Hujarat: 13). Dan sungguh, urusan dan rezeki orang bertakwa akan dimudahkan oleh Allah SWT.

Inilah nilai puasa yang dapat dipetik dari semangat untaian kata Surat Albaqarah ayat 183 yang semoga menginspirasi dan mempengaruhi kita, sehingga hari-hari kita tetap terasa bersama Ramadhan meskipun ia telah meninggalkan kita untuk tahun ini. Wallahu A’lam.*

Guru MA Pondok Pesantren KHA Dahlan dan Sekretaris Majelis Tabligh PD. Muhammadiyah
Kuantan Singingi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menag: Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Terbaik di Dunia
Tulisan selanjutnya Pendeta NY: Anak-Anak yang Menggoda Berbuat Cabul

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?