Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Muqtada al Sadr, Tokoh Syiah yang Memenangkan Pemilu Iraq

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2021 08:00 8:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Oktober 2021 21:00
Bagikan
Pemimpin Syiah Iraq Moqtada al-Sadr
Bagikan

Hidayatullah.com | DI Iraq, koalisi partai-partai yang dijalankan oleh Muqtada Al Sadr, yang dikenal sebagai blok Sadrist, dipersiapkan untuk memainkan peran King Maker. Ia  mengorganisir basis pendukung yang besar untuk mengamankan lebih dari 70 kursi di Dewan Perwakilan yang beranggotakan 329 orang.

Seperti dalam pemilihan nasional terakhir pada tahun 2018, Al Sadr tampaknya mendapat manfaat dari jumlah pemilih yang sangat rendah, kata Komisi Pemilihan Tinggi Independen Iraq.

Al Sadr dan AS

Latar belakang dan kebijakan Al Sadr menempatkannya sebagai favorit di antara mereka yang memprioritaskan kedaulatan dan kemerdekaan Iraq dari intervensi Iran dan keterlibatan AS di negara itu. Pemilihan Umum Iraq menunjukkan keuntungan bagi blok Muqtada Al Sadr saat suara akhir telah dihitung.

Saat Saddam dijatuhkan tahun 2003, oleh invasi pimpinan AS, Al Sadr pernah mengatakan pada 60 menit CBS: “Ular kecil telah pergi dan ular besar telah datang,” demikian kata Al Sadr, mengacu pada Amerika Serikat (AS).

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Gerakan Sadrist yang diciptakan oleh ayah dan ayah mertuanya – keduanya dibunuh oleh rezim Saddam – membedakan dirinya dari gerakan keagamaan Syiah lainnya dengan berfokus pada membantu rakyat Iraq yang paling miskin, daripada hanya menghabiskan waktu untuk menghakimi masalah-masalah ulama.

Ini memenangkan banyak pendukung setia mereka selama pemerintahan Saddam Hussein sebelum 2003, ketika ekonomi Iraq runtuh di bawah sanksi internasional.  Sebagai penganut Syiah, mereka melihat AS dan sekutu baratnya berusaha mengubah masyarakat Iraq dengan cara yang bertentangan dengan doktrin unik mereka tentang sosialisme dan kesalehan agama.

Jutaan orang Iraq, terutama petani Syiah miskin dari Iraq selatan dan pengungsi lokal Syiah yang melarikan diri ke daerah kumuh selama pemberontakan yang kacau melawan Saddam pada 1990-an, dengan sungguh-sungguh mengikuti perintah Al Sadr untuk melawan apa yang disebutnya “pendudukan”.

Sebagai imbalan, gerakannya mendukung keluarga miskin, sementara loyalis Sadr menyerang AS dan pasukan internasional lainnya, termasuk Angkatan Darat Inggris.  Gerakan tersebut akhirnya memaksa Angkatan Darat Inggris mundur dari kota kaya minyak Basra, tahun 2007.

Ini adalah langkah yang terlalu jauh untuk saingan beratnya, Perdana Menteri saat itu Nouri Al Maliki. Di mana kala itu, Al Maliki memerintahkan tentara Iraq untuk merebut kembali kota itu.

Al Sadr kemudian melarikan diri ke Iran selama beberapa tahun, sebelum kembali ke Iraq berjanji untuk memainkan peran sebagai pemimpin politik, bukan lagi panglima perang.

Penculikan Muslim Sunni

Selama invasi pimpinan AS, milisi bersenjata Al Sadr, Jaish Al Mahdi, melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan asing dan secara luas dituduh melakukan penculikan massal dan pembunuhan ribuan warga sipil. Menurut The National, kebanyakan mereka adalah kelompok Sunni yang dituduh memiliki hubungan dengan Partai Baath.

Banyak korban berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Sementara kaum Syiah yang menentang milisinya juga diancam atau dibunuh.

Episode yang paling terkenal selama saat itu adalah pengambilalihan Jaish Al Mahdi dari Departemen Kesehatan pada tahun 2006. Menteri Kesehatan Ali al-Shemari menyalahkan Muqtada al-Sadr karena milisinya Jaih Al Mahdi dipersalahkan karena membunuh dari Muslim Sunni.

Jaish Al Mahdi dituduh membunuh kelompok Sunni dan saingan lainnya di bangsal rumah sakit. Kehidupan warga Iraq, terutama di Baghdad dan kota-kota di pusat negara itu, menjadi semakin tidak dapat dipertahankan. Banyak sekolah gagal dibuka pada bulan September, dan para profesional  terutama profesor, dokter, politisi, dan jurnalis jatuh ke pembunuh sektarian dengan kecepatan yang menakjubkan.

AFP melaporkam aksi balas dendam  telah dilaporkan terjadi pada kelompok Sunni oleh Syiah.  PBB menyebutkan  jumlah pembunuhan pada Oktober lebih dari tiga kali lipat, sebanyak 1.216  dan 840 lebih banyak dari 2.870 anggota militer AS yang tewas selama perang.

Hubungannya dengan Iran dan milisi Syiah

Sadar akan kontroversi yang berkembang seputar gerakannya, Muqtada Al Sadr mencoba di tahun-tahun berikutnya untuk menggambarkan dirinya sebagai non-sektarian dan mendukung pasukan resmi pemerintah, daripada kebanyakan milisi di Iraq. Tapi dia tidak pernah sepenuhnya memutuskan hubungan dengan kelompok paramiliter Syiah.

Al Sadr juga telah menjalin hubungan dengan berbagai pemimpin Sunni sejak kekerasan sektarian yang mengguncang negara itu antara tahun 2005 dan 2009. Pada hari Senin, dia memperbaharui sambutannya di semua kedutaan di Iraq selama mereka menghindari urusan internal dan proses politik Iraq.

Dalam pidatonya, Al Sadr juga menikam milisi “perlawanan” gadungan yang didukung Iran. “Bahkan jika mereka yang mengklaim perlawanan atau semacamnya, sudah waktunya bagi rakyat untuk hidup damai, tanpa pendudukan, terorisme, milisi dan penculikan,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Hamdi Malik, seorang rekan di Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, mengatakan pidato Al Sadr menekankan “Iraq” dari bloknya.

“Dia menyebut bloknya yang terbesar dan menggambarkannya sebagai ‘blok Iraq, bukan timur atau Barat’, mengacu pada Iran dan Amerika Serikat,” kata Dr Malik.

Partai Al Sadr mengklaim kemenangan dalam pemilihan nasional dan para pendukungnya merayakannya di jalan-jalan Baghdad pada Senin malam, meskipun penghitungan suara sedang berlangsung. “Hari ini adalah hari kemenangan rakyat melawan pendudukan, normalisasi, milisi, kemiskinan, dan perbudakan,” kata Al Sadr, merujuk pada normalisasi hubungan dengan ‘Israel’.

Salah satu sikap politik kontroversial Al Sadr lainnya adalah posisinya terhadap Suriah. Ia pernah menyerukan Presiden Bashar Al Assad untuk mundur pada tahun 2017, meskipun kelompok Syiah lainnya justru mendukung Bashal al Assad.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:invasi IraqiraqMuqtada al-Sadrsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bekas Menlu AS Colin Powell Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Covid-19
Tulisan selanjutnya Ketua Umum MUI Papua Barat: Masyarakat Papua Cinta NKRI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?