Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Idealnya, Kita Semua Menggapai Ahsanu Amala

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Juni 2014 14:28 2:28 pm
Ahmad
Dipublikasikan 2 Juni 2014 14:28
Bagikan
Bagikan

SUNGUH di luar dugaan apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf. Bagaimana tidak, dalam kondisi tidak memiliki apa-apa ia menolak tawaran yang sangat menggiurkan dari saudara seimannya Sa’ad bin Rabi’ dari kalangan Anshor.

Ia justru meminta sesuatu yang kurang bisa dimengerti orang pada umumnya. Kepada Sa’ad bin Rabi’ ia hanya minta agar ditunjukkan dimana pasar.

Lantas apa yang dilakukan sahabat Nabi yang kemudian menjelma sebagai saudagar Muslim yang kaya raya itu?
Ia berdagang, memulai segalanya dari nol dan dengan bekal keimanannya ia menempa diri dalam keseharian untuk meraih sukses besar bagi kehidupan diri dan utamanya umat Islam.

Tidak banyak memang riwayat yang menjelaskan perihal bagaimana Abdurrahman bin Auf dalam berdagang. Tetapi dari perspektif logika kita bisa telusuri hal itu sebagai berikut.

Pertama, kejujuran. Sangat tidak mungkin Abdurrahman bin Auf akan menjelma menjadi saudagar besar tanpa kejujuran. Apalagi, ia di Madinah hanya sebagai seorang pendatang, yang tidak memiliki modal apa pun, selain kompetensi dan tentunya kejujuran.
Dari mana Abdurrahman bin Auf belajar kejujuran? Dari siapa lagi jika bukan Rasulullah. Bukankah Rasulullah awalnya juga seorang pedagang yang tidak memiliki modal? Akan tetapi dengan kejujuran, beliau bisa menjelma menjadi seorang pedagang besar, sukses dalam dunia bisnis dan perniagaan.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Kedua, kesungguhan. Seperti jamak dipahami bahwa di masa Nabi tak ada satu pun sahabat Nabi yang tidak memiliki kesungguhan. Semua sahabat sangat terlihat kesungguhannya dalam dunia yang mereka tekuni.

Abdurrahman bin Auf bersungguh-sungguh dalam bisnis dan perniagaan. Zaid bin Tsabit bersungguh-sungguh dalam merekam dan menuliskan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Abu Hurairah bersungguh-sungguh dalam menghafalkan dan meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Jadi, hampir tidak mungkin kebaikan, apalagi ahsanu amala bisa diwujudkan dalam diri seorang Muslim tanpa yang namanya kesungguhan.

Ketiga, semua dilakukan tidak semata hanya untuk diri dan keluarga, tetapi nasib dan masa depan umat Islam. Bayangkan Abdurrahman bin Auf ada di samping kita, lalu kita bertanya, “Apa yang memotivasi Anda wahai Abdurrahman bin Auf sehingga Anda menjelma menjadi saudagar Muslim?”

Mungkin, beliau menjawab sederhana, “Motivasiku hanya satu, yakni apa yang bisa aku berikan untuk merubah nasib dan masa depan umat Islam di masa Rasulullah.”

Dan, seperti dicatat dalam sejarah, Abdurrahman bin Auf memang sangat dermawan. Hasil dari perniagaannya ia salurkan untuk menyantuni para veteran perang Badar, para janda Rasulullah, dan memberi makan anak yatim dan fakir miskin di Madinah.
Menariknya lagi, ternyata Abdurrahman bin Auf sukses membangun bisnisnya setelah ia merasakan suka duka menjadi Muslim sejak di Makkah bersama Rasulullah. Ia bahkan ikut berangkat hijrah ke Habasyah dan Perang Badar.

Dari sekelumit kisah Abdurrahman bin Auf ini kita dapat menarik makna terdalam dari apa yang Allah sebutkan sebagai ahsanu amala dalam Al-Qur’an. Apabila sahabat-sahabat Nabi memiliki komitmen tinggi sampai pada derajat ahsanu amala, maka selayaknyalah kita sebagai pengikut Rasulullah juga memiliki komitmen yang sama.

Makna Ahsanu Amala hanya memiliki satu makna yakni yang paling baik amalannya. Dan, tujuan Allah menghadirkan manusia di muka bumi ini dengan segala ketetapan-Nya tidak lain dan tidak bukan untuk memastikan siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalnya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS: Hud [11]: 7).

Dengan demikian, seorang Muslim itu tidak lagi sebatas menempa diri hanya untuk prestasi pribadi, lebih jauh dari itu adalah kontribusi berarti bagi kelangsungan hidup dan masa depan umat Islam.

Oleh karena itu, seorang Muslim itu tidak boleh patah semangat apalagi patah arang. Sebaliknya justru terus mampu membakar semangat juangnya untuk menjadi pribadi terbaik dan bermanfaat bagi sesama.

Soal hari ini masih hidup dalam kesulitan dan kekurangan, semua itu tidak boleh menjadi alasan kita hidup dengan mementingkan diri sendiri. Sebab hidup yang demikian adalah hidup yang tidak bermakna. Apalagi kalau ternyata kehidupan kita sudah lebih dari mencukupi. Menggapai derajat ahsanu amala mestinya kian jadi kebutuhan utama.

Bukti Keimanan dan Realisasi Berilmu

Muslim yang memiliki tekad menggapai ahsanu amala bisa dikatakan sebagai Muslim yang benar-benar ingin secara tulus membutkitkan keimanannya sebagai wujud amaliah dari ilmu yang dipahaminya. Sebab, ilmu tanpa amal adalah sia-sia.
Ibn Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sekiranya ilmu itu bermanfaat tanpa amal, Allah tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab, dan jika ilmu itu bermanfaat tanpa ikhlas, Allah tidak akan mencela orang-orang munafik.”

Dengan kata lain, ahsanu amala adalah cara Allah menjauhkan setiap Muslim dari sifat buruk yang membahayakan kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, daripada sibuk melakukan hal-hal yang belum jelas manfaatnya, alangkah sangat baik jika setiap Muslim menempa diri sedemikian rupa untuk sampai pada derajat ahsanu amala, apapun status dan profesinya.

Semoga Allah senantiasa menuntun diri kita semua untuk mampu menjadi Muslim yang memiliki kejujuran, kesungguhan dan kepedulian terhadap nasib dan masa depan umat Islam, sehingga kita bisa mewujudkan ahsanu amala itu dalam setiap hari-hari yang kita lalui. Aamiin.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden SBY: TNI-Polri Harus Netral atau Mundur
Tulisan selanjutnya Syiah Internasional, Gay dan Waria dukung Jokowi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?