Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Narasi Peradaban di Balik Makna Ḥaḍārah dan Kata-Kata yang Berkaitan Dengannya

Muhammad
Terakhir diupdate: 16 Januari 2023 15:30 3:30 pm
Muhammad
Dipublikasikan 16 Januari 2023 15:00
Bagikan
Bagikan

Haḍārah memberikan gambaran mendasar tentang unsur dan pola peradaban, menekankan pada sifat menetap masyarakat, sebagai lawan nomaden  

Oleh: Dr Alwi Alatas

Hidayatullah.com | DALAM Bahasa Arab, setidaknya ada tiga istilah yang biasanya diterjemahkan sebagai “peradaban”. Ketiga kata itu adalah ḥaḍārah, ‘umrān, dan tamaddun. Walaupun sama-sama dapat diterjemahkan sebagai peradaban, ketiga kata ini memiliki akar kata yang berbeda dan masing-masing memiliki penekanan yang berbeda secara bahasa dalam kaitannya dengan peradaban.

Penjelasan tentang masing-masing kosakata ini berikut kata-kata yang berkaitan dengannya menarik untuk ditelusuri dan dapat menambah pemahaman dasar tentang apa yang dimaksud dengan peradaban. Pada tulisan kali ini akan didiskusikan makna kata haḍārah, akar katanya dalam bahasa Arab serta perkataan yang berkaitan dengannya. Semua itu memberikan suatu gambaran, bahkan narasi, tentang muncul dan berkembangnya peradaban.

Secara bahasa, kata ḥaḍārah memiliki akar kata ḥaḍara yang antara lain bermakna “hadir” (to be present), “berpartisipasi” (to participate, to take part), “siap” (ready, prepare), “membuat” (to make, produce, manufacture), “membawa” (to bring, supply), “belajar” (to study). Selain itu, yang terutama relevan untuk kajian ini, kata haḍara juga memiliki makna “menetap” (to settle) dan “memperadabkan” (to civilize).

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Kata ḥaḍar bermakna “penduduk yang hidup menetap” (settled population), “penduduk kota” (town dwellers), atau “satu wilayah berperadaban dengan kota-kota dan desa-desa serta penduduk yang menetap” (a civilized region with towns and villages and a settled population).  Ia merupakan suatu keadaan yang berlawanan dengan gurun pasir dan padang stepa. Kata ḥāḍirah bermakna “ibu kota” (capital city, metropolis) atau kota yang merupakan pusat peradaban.

Sementara itu kata ḥaḍārah bermakna “peradaban” (civilization), “Kebudayaan” (culture), atau “keadaan menetap” (settledness, sedentariness). Adapun kata taḥaḍḍur berarti “cara hidup yang beradab” (civilized way of life) dan mutaḥaḍḍir artinya “beradab” (civilized) (Hans-Wehr, 1966: 183-185).

Secara umum, perkataan ini banyak terkait dengan makna hadir dan menetap. Aplikasinya yang penting antara lain berkenaan dengan menetapnya masyarakat di suatu tempat, sebagai lawan dari cara hidup berpindah-pindah.

Beberapa arti kata ḥaḍara di atas, seperti aktivitas manufaktur dan belajar hanya dapat dilakukan dengan baik dalam konteks kehidupan yang menetap, dan sulit diwujudkan di tengah kehidupan yang nomaden.

Menurut Ibn Manẓūr (1119H: 906-907), al-ḥaḍar bermakna khilāf al-badw atau sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan nomaden. Al-ḥāḍir adalah penduduk di perkotaan dan desa-desa (al-muqīm fī al-mudun wa al-qurā), sementara al-bādī adalah orang-orang yang tinggal di gurun pasir (al-muqīm bi-l-bādiyah).

Pengenalan terhadap makna kata-kata ini berikut lawan katanya memberikan satu pengertian yang mendasar tentang proses muncul dan berkembangnya peradaban, proses yang berkaitan dengan sifat menetap masyarakat di lingkungan geografis tertentu.

Masyarakat di masa lalu, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Khaldūn, berkembang dari pola hidup nomaden ke pola hidup menetap.

Ibn Khaldūn menjelaskan bahwa cara hidup masyarakat dipengaruhi oleh mata pencahariannya dan mereka perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya sebelum dapat memperoleh kekayaan dan kemewahan, tentu lewat wujudnya kerja sama dan organisasi sosial-ekonomi. Kemudian ia menerangkan:

Mereka yang hidup dari pertanian atau peternakan tidak dapat menghindari panggilan padang pasir, karena hanya itu yang menawarkan ladang luas, hektar, padang rumput untuk hewan, dan hal-hal lain yang tidak ditawarkan oleh daerah pemukiman. Oleh karena itu perlu bagi mereka untuk membatasi diri di padang pasir [dan hidup sebagai orang-orang Badui, pen]. Organisasi sosial dan kerja sama mereka untuk kebutuhan hidup dan peradaban, seperti makanan, tempat tinggal, dan kehangatan, tidak membawa mereka melampaui tingkat penghidupan yang subsisten, karena ketidakmampuan mereka (untuk menyediakan) apa pun di luar (benda-benda) itu. Perbaikan kondisi mereka selanjutnya dan penghimpunan lebih banyak kekayaan dan kenyamanan daripada yang mereka butuhkan, menyebabkan mereka beristirahat dan bersantai. Kemudian, mereka bekerja sama untuk hal-hal di luar kebutuhan (dasar). Mereka menggunakan lebih banyak makanan dan pakaian, dan bangga akan hal itu. Mereka membangun rumah-rumah besar, dan menata kota-kota untuk perlindungan. Ini diikuti dengan peningkatan kenyamanan dan kemudahan, yang mengarah pada pembentukan kebiasaan mewah yang sangat berkembang…. Di sini, sekarang, (kita memiliki) orang-orang yang hidup menetap (sedentary people). “Masyarakat yang menetap” berarti penduduk kota dan negara, beberapa di antaranya menjadikan kerajinan sebagai cara mencari nafkah, sementara beberapa lainnya memilih perdagangan. Mereka berpenghasilan lebih banyak dan hidup lebih nyaman daripada orang-orang Badui, karena mereka hidup pada tingkat di atas kebutuhan (dasar), dan cara mereka mencari nafkah sesuai dengan kekayaan mereka. (Ibn Khaldūn, 1958: I/249-250)

Dalam pemaparan di atas Ibn Khaldūn menjelaskan tentang proses berkembangnya masyarakat dari kehidupan nomaden ke kehidupan menetap, dari mata pencaharian yang subsisten kepada kehidupan yang lebih makmur dan berlimpah di perkotaan.

Pada salah satu sub-bab, Ibn Khaldūn (1958: I/252) menegaskan bahwa “orang-orang Badui lebih dulu [ada] daripada orang-orang yang hidup menetap” dan “Gurun pasir adalah basis dan reservoir peradaban dan kota-kota.”

Sejumlah kajian akademik mendukung penjelasan ini. Manusia mulai hidup menetap dalam pemukiman-pemukiman yang permanen beberapa ribu tahun sebelum masehi. Pemukiman-pemukiman ini kemudian berkembang menjadi kota, negara-kota (city-state) dan akhirnya imperium.

Ada banyak contoh kota yang muncul di peradaban-peradaban lama: Uruk, Memphis, Harappa, Athena, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain, peradaban (ḥaḍārah) berkembang seiring dengan muncul dan tumbuhnya masyarakat yang hidup menetap (ḥaḍar).

Semua peradaban ini bermula dan berkembang di sekitar air (sungai atau mata air). Mesopotamia bermakna peradaban yang berada di antara dua sungai, Eufrat dan Tigris. Peradaban Mesir Kuno disebut sebagai hadiah dari Sungai Nil.

Mohenjo-daro dan Harappa berkembang di sekitar Sungai Indus dan kota-kota awal di Cina tumbuh di sekitar sungai-sungai utama di kawasan itu (Scarre & Fagan, 2016).

Walaupun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi muncul dan berkembangnya peradaban, air merupakan unsur yang sangat penting bagi dimulainya kehidupan menetap. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan karenanya juga bagi peradaban.

Pertanian dan peternakan yang merupakan mata pencaharian dasar bagi suatu peradaban tidak mungkin bertahan tanpa suplai air yang mencukupi.

Menariknya, beberapa turunan kata ḥaḍara juga memiliki kaitan dengan air. Salah satu makna kata al-maḥḍar, misalnya, merujuk kepada air, dalam hal ini air yang mengalir secara berterusan.

Demikian pula dikatakan bahwa “setiap orang yang turun ke tempat air yang mengalir tanpa henti dan tidak berpaling darinya pada musim dingin atau musim panas, maka ia disebut sebagai ḥāḍir”. Kata yang terakhir ini juga digunakan bagi mereka yang tinggal di dekat sumber air (al-muqīm ‘ala-l-mā’) dan lawan katanya adalah musafir (al-musāfir). Dan juga dikatakan “Bani Fulan menetap (ḥāḍir) di sumber air ini dan itu” (Ibn Manẓūr, 1119H: 907).

Makna dari kata-kata yang berkaitan dengan ḥaḍārah di atas memberikan gambaran mendasar tentang unsur dan pola peradaban, setidaknya di fase-fase awal kemunculannya. Perkataan ḥaḍārah yang memiliki arti peradaban menekankan pada sifat menetap dari suatu masyarakat, sebagai lawan dari cara hidup nomaden atau berpindah-pindah.

Masyarakat yang menetap ini biasanya berkembang di sekitar sumber air yang mengalir secara terus menerus, yaitu di sekitar sungai atau mata air, yang dapat memberikan dukungan bagi tumbuhnya populasi yang padat. Pemukiman ini akhirnya membesar menjadi kota dan pusat peradaban. Wallahu a’lam./Kuala Lumpur,22 Jumadil Akhir1444/ 15 Januari 2023

Penulis adalah staf akademik di International Islamic University Malaysia (IIUM)

Daftar Pustaka

Hans-Wehr. 1966. A Dictionary of Modern Written Arabic. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.

Ibn Khaldūn. 1958. The Muqaddimah: An Introduction to History, Vol. I (Trans. Franz Rosenthal). New York: Bollingen Foundation.

Ibn Manẓūr. 1119H. Lisān al-‘Arab. Kairo: Dār al-Ma’ārif.

Scarre, Chris & Fagan, Brian. 2016. Ancient Civilizations. London & New York: Routledge.

Redaktur: Muhammad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ḥaḍārahnomadenperadaban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lebih dari 80.000 Orang Lakukan Aksi Protes Pemerintahan yang Diusulkan Netanyahu
Tulisan selanjutnya Granat Tidak Sengaja Meledak, Tentara ‘Israel’ Tewas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?