Hidayatullah.com– Kawasan jalan Brick Lane di London, Inggris, yang terkenal dengan seni jalanan berupa lukisan dan coretan di dinding-dindingnya, dihebohkan dengan kemunculan slogan politik pemerintah komunis Beijing dalam aksara China.
Video online menunjukkan sekelompok orang menyemprotkan cat dan menuliskan karaklter Cina merah besar dengan latar belakang putih pada malam di akhir pekan kemarin, lansir BBC Senin (7/8/2023).
“Nilai-nilai inti sosialis”, yang ditulis dalam 12 kata dua-karakter aksara China, merupakan beberapa slogan politik Partai Komunis China paling umum di bawah pemerintahan Presiden Xi Jinping. Tulisan seperti itu mudah dijumpai di berbagai tempat dan kawasan di negeri Tiongkok.
Slogan tersebut, pertama kali diungkap oleh Hu Jintao pendahulunya Xi Jinping pada 2012, terdiri dari kata-kata yang berarti kemakmuran, demokrasi, kesopanan, keharmonisan, kebebasan, kesetaraan, keadilan, supremasi hukum, patriotisme, dedikasi, integritas, dan persahabatan.
Wang Hanzheng, alias Yi Que salah satu pembuat grafiti di Brick Lane itu, mengklaim tulisan itu tidak memiliki banyak arti politik.
Lewat akun Instagram, dia mengatakan bahwa slogan itu ditilis untuk memicu reaksi publik apabila dituliskan di lingkungan yang berbeda.
Wang kepada BBC mengatakan bahwa “tidak diragukan” bahwa kata-kata dalam 24 karakter China itu “bukan hanya tujuan yang ingin dicapai oleh China tetapi juga dunia secara umum.
Slogan yang ditorehkan di Brick Lane tersebut memicu perdebatan daring perihal apakah itu termasuknkarya seni jalanan atau ekspresi pandangan politik dan bagaimana keduanya berinteraksi.
Menyusul tulisan berwarna merah menyala itu, dinding tersebut menjadi ajang kritik terhadap pemerintah China.
Sejumlah orang menambahkan kata “no” (tidak) di depannya, atau menorehkan pesan atau gambar lain dengan cat semprot di atasnya. Sebuah gambar yang dilukis hari Sabtu menampilkan tiket denda £800 dilengkapi dengan keterangan bahwa grafiti dan flyposting merupakan tindak pelanggaran hukum.
Sebagian orang merasa kesal karena aksara China itu menutupi karya seorang seniman jalanan terkenal yang sudah wafat
Wang mengakui reaksi yang diterimanya disebabkan grafiti itu lebih intens dari yang dia duga. Dia mengatakan kepada BBC bahwa informasi pribadinya telah disebarluaskan ke publik tanpa persetujuannya dan orang tuanya menjadi korban pelecehan.*




