Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
BeritaWawancara

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah

Ahmad
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2023 16:37 4:37 pm
Ahmad
Dipublikasikan 14 Oktober 2023 17:10
Bagikan
Associate Professor di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al Banna Choiruzzad
Bagikan

Associate Professor di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al Banna Choiruzzad, menampik ada ‘hubungan’ Hamas dengan Syiah – Iran

Hidayatullah.com | SERANGAN Brigade Izzuddin Al-Qassam, salah satu sayap milisi pejuang kemerdekaan Palestina yang dimiliki Hamas menyerbu secara mendadak kantong dan pos militer ‘Israel’ hari Sabtu (7/10/2023). Serangan yang mengagetkan pihak penjajah melahirkan banyak spekulasi –bahkan sampai mengarah tuduhan—buruk kepada para mujahidin.

Belum lama ini, kanal YouTube ASUMSI, mewawancarai Associate Professor di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al Banna Choiruzzad, PhD. Dalam wawancanya dengan CEO ASUMSI, Pangeran Siahaan, alumni PPSDMS angkatan kedua yang pernah memenangkan The 39th St Gallen Symposium –acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda—yang berlangsung di Swiss tahun 2009, menolak asumsi dan tuduhan ada keterlibatan Iran dalam serangan yang dilakukan para mujahidin. 

Wawancara ini merupakan resume obrolan bertema “Perang ‘Israel’-Hamas Meletus, Kedamaian Dunia Terancam Putus” di kanal tersebut ditambah wawancara tambahan kepada yang bersangkutan.

Bahwa untuk menegaskan kepemimpinan Palestina itu kan sekarang masih di Gaza itu hamas, di Tepi Barat itu Fatah . Bahwa memang the leader of Palestine itu ya Hamas,  apa pandangan Mas Sofwan?

Baca Juga

Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’
Apa itu Project Panama? Mengapa Anthropic Menghancurkan Buku-Buku Langka Demi Melatih AI
Netanyahu Yakin Pasukan Elite ‘Israel’ akan Membebaskannya Jika Ditahan di Luar Negeri
Setelah Palestina, Kini Suriah Jadi Sasaran Pencurian Tanah Pemukim Yahudi ‘Israel’
Amankan Laut Merah dari Houthi, Arab Saudi Galang Koalisi Internasional

Ya, pertama soal Iran  Kalau kita lihat memang ada beberapa spekulasi, termasuk dari media Amerika Serikat yang mengatakan bahwa  serangan ini direncananakan di Iran, dengan mengklaim ini sumber A1.   Namun para ahli secara umum relatif skeptis dengan laporan tersebut.

Karena tidak ada bukti yang relatif kuat untuk menunjukkan bahwa Iran di serangan ini.  Kalau kita lihat, Iran sebenarnya juga agak kaget juga.  Dan kalau kemudian Iran terpaksa ikut turun, itu risikonya sangat tinggi, karena harus melibatkan Hizbullah.

Hizbullah itu crown in the jewel-nya milisi-milisi yang dibangun oleh Iran.  Apakah dia siap, misalnya mengambil risiko Hizbullah turun, yang nanti bisa menang tapi bisa kalah.  Tapi kalau kalah, dia (Iran) akan kehilangan aset yang sangat penting di kawasan. 

Jadi risikonya mungkin cukup besar untuk Iran. Banyak yang melihat Iran mensyukuri ini (serangan Hamas, red).  Iran melihat ini sebagai perkembangan yang mungkin bisa dimanfaatkan situasi,  walaupun memunculkan risiko bagi Iran. 

Namun yang lebih mungkin, Iran bukan aktor utama di belakang Hamas. Menurut saya, kemungkinan paling besar memang ini adalah inisiatif dari faksi-faksi di dalam Palestina sendiri, utamanya Hamas  yang melihat bahwa status quo itu tidak menguntungkan. 

Status quo-nya adalah menunggu, dan membiarkan perluasan pemukiman haram (ilegal) tanpa bisa ngapa-ngapain.  Apalagi perluasan disertai dengan kekerasan-kekerasan sistematis yang terus-menerus. Termasuk beberapa waktu terakhir yang ada pemicunya di sekitar Masjid Al-Aqsha . Makanya namanya Taufan Al-Aqsha  (Badai Al-Aqsha).

Tidak hanya para pemukim bentrok dengan komunitas-komunitas Muslim, bahkan termasuk dengan komunitas-komunitas peziarah Kristen yang diludahi ketika mereka berpapasan dengan pemukim haram. Jadi ada kondisi yang ditandai.  Ini kalau tidak ada perubahan terhadap status quo,  kita tinggal nunggu mati saja, nunggu kepunahan saja. 

Sementara kekuatan-kekuatan kawasan malah makin mendekat dengan ‘Israel’.  Jadi harus ada sesuatu  Tapi menurut saya, faktor utamanya bukan untuk mencegah normalisasinya. 

Itu dampak yang mungkin muncul dari situ tetapi lebih pada mendisrupsi status quo.  “Kalau saya biarkan begini, saya lama-lama akan mati. Saya akan mengalami kepunahan sedikit-sedikit.  Tapi kalau saya melakukan sesuatu yang besar, yang disruptif , itu efeknya dua;  ‘Israel’ marah dan kekerasan yang lebih besar muncul sampai beneran menghabisi langsung. Atau yang kedua, kalau konteks internasionalnya tepat, kita bisa memulai proses perundingan baru,  yang mungkin membuat saya dalam posisi yang lebih adil.

Kenapa Demikian? 

Karena Perjanjian Oslo sudah tidak jalan, gagasan Two State Solution (Gagasan Dua Negara Merdeka) sudah dibuang, terutama dengan perluasan settlement (pemukiman Yahudi illegal) secara terus-menerus  Bahkan dalam Abraham Accord sudah dibicarakan soal konsesi, dimana warga Palestina boleh ada, tapi tidak boleh memiki tentara, tidak boleh ada apa, yang penting dikasih ekonomi saja,  bukan sebuah negara yang utuh. 

Jadi karena skenario yang break ini,  mereka harus membuat disrupsi yang memungkinkan ada negosiasi ulang.

Ibaratnya melempar dadu juga berarti, Mas?  Yang penting tidak diam?

Kalau menurut saya, karena kondisinya sedemikian dire (buruk) sedemikian parah tadi.  Pilihannya cuma itu, mengambil risiko yang memungkinkan mereka menegosiasikan ulang dengan ‘Israel’ tadi.  Dengan term yang lebih adil,  atau ya malah sekalian habis.  Nah ini yang kemudian kita akan lihat dalam hari-hari ini, taruhannya seperti apa.

Dari yang kita lihat secara sejarah,  negosiasi itu terjadi di beberapa kejadian waktu yang lalu.  Dalam beberapa kasus , ada teritori yang diambil dijadikan sebagai bargaining chips.  Dalam kasus sekarang ini sebenarnya tidak ada teritori yang diambil, tapi ada lebih dari 100 warga ‘Israel’  yang sekarang berada di Gaza,  apakah itu akan menjadi bargaining chips?

Saya kira salah satunya itu, tentu saja.  Tapi kenapa tidak ada wilayah tadi?  Perlu diingat, Gaza itu bukan negara.  Dia tidak punya border, tidak punya kendali penuh atas teritorinya.  Dia adalah wilayah pendudukan (terjajah, red). Sebagai wilayah pendudukan,  dalam hukum internasional, ‘Israel’ memiliki kewajiban memastikan untuk melakukan perlindungan terhadap warga yang ada di dalam pendudukan. 

Tapi yang dilakukan ‘Israel’ justru sebaliknya.  Yang ini penting untuk dipahami.  Sebagai titik awal negosiasinya. Lalu apa?  Karena dia bukan negara,  dia tidak bisa mengambil alih wilayah,  makanya yang dilakukan itu  nyerang sebentar, menduduki sebentar,  lalu dia kembali lagi. 

Karena dia tahu kalau dia stay (tinggal) disitu tidak akan bertahan juga.  Walaupun secara kapasitas militer jauh,  pasti langsung diambil kembali.  Makanya yang dilakukan adalah  Dia (Hamas) sebisa mungkin membawa sandera atau prisoner of war.  Yang secara tradisional dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya, hal itu akan ditukarkan dengan tawanan atau tahanan Palestina di ‘Israel’.

Yang pernah kita lihat, satu tentara ‘Israel’ ditukar 1000 orang?

Ya, ya kerena ‘Israel’ sendiri seenaknya ngambil-ngambil orang, ngambil anak-anak Palestina. Kalau kita baca laporan Amnesty Internasional atau Human Right Watch, ribuan orang –termasuk anak-anak Palestina—diambil saja tanpa prosesn pengadilan. Tapi ini hanya bagian kecil saja.

Poinya, bukan soal sandera. Tapi ini soal disrupsi, ‘Israel’ akan berpikir ulang serangan ke Gaza.

Jadi sekali lagi, Hamas tidak diback-up Syiah?

“Hamas berjuang untuk kemerdekaan. Bahwa ada orang-orang lain, apapun latar belakangnya, yang cukup punya nyali untuk mendukung adalah hal lain,” ujar Sofwan.

Dengan kata lain, kalaupun ada ‘dukungan’ bukan berarti dia sama akidahnya?

Betul.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Associate ProfessorHamas dan IranHamas dan SyiahHeadlineHubungan InternasionalpalestinaShofwan Al Banna ChoiruzzadUIUniversitas Indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iran Ancam akan Ikut Memperluas Konflik jika ‘Israel’ terus Melakukan Serangan ke Gaza
Tulisan selanjutnya Melihat dari Dekat Green Energy Station, SPBU Ramah Lingkungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Krisis Identitas Berawal dari Cara Berpikir, Keluarga jadi Benteng Terakhir Peradaban

Berita
25 Juli 2026 10:49
Menag: Hasil KUII VIII Akan Jadi Program Kerja Kementerian Agama
Amankan Laut Merah dari Houthi, Arab Saudi Galang Koalisi Internasional
Komite Teknokrat Palestina Mengaku Siap Mengelola Gaza usai ‘Israel’ Mundur
MUI Siapkan Fatwa ZIS untuk Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan Pekerja Rentan

Terbaru

  • Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
  • Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’
  • Apa itu Project Panama? Mengapa Anthropic Menghancurkan Buku-Buku Langka Demi Melatih AI
  • Netanyahu Yakin Pasukan Elite ‘Israel’ akan Membebaskannya Jika Ditahan di Luar Negeri
  • Setelah Palestina, Kini Suriah Jadi Sasaran Pencurian Tanah Pemukim Yahudi ‘Israel’
  • Amankan Laut Merah dari Houthi, Arab Saudi Galang Koalisi Internasional
  • Usai Jadi Pemimpin Politik Hamas, Khalil al-Hayya Langsung Bertemu Menlu Turki
  • Angka Bunuh Diri Tentara ‘Israel’ Terus Naik, Tahun Ini Sudah 16 Tewas
  • Survei: Hampir Separuh Warga AS Dukung Penangkapan Netanyahu
  • Laznas BMH dan Baitul Wakaf Gelar Penanaman Perdana Pisang Cavendish di Sleman untuk Kemandirian Ekonomi Umat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Usai Jadi Pemimpin Politik Hamas, Khalil al-Hayya Langsung Bertemu Menlu Turki

30 Juli 2026 18:00
Berita

Angka Bunuh Diri Tentara ‘Israel’ Terus Naik, Tahun Ini Sudah 16 Tewas

30 Juli 2026 16:07
Berita

Survei: Hampir Separuh Warga AS Dukung Penangkapan Netanyahu

30 Juli 2026 13:00
Laznas BMH dan Baitul Wakaf Gelar Penanaman Perdana Pisang Cavendish di Sleman untuk Kemandirian Ekonomi Umat
Berita

Laznas BMH dan Baitul Wakaf Gelar Penanaman Perdana Pisang Cavendish di Sleman untuk Kemandirian Ekonomi Umat

30 Juli 2026 11:54
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?