Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pendiri Telegram Bilang Terpaksa Pindah ke Dubai dan FBI Minta Dibuatkan ‘Pintu Belakang’

Ama Farah
Terakhir diupdate: 18 April 2024 16:23 4:23 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 18 April 2024 15:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Pavel Durov mengaku terpaksa memboyong dirinya dan media sosial Telegram ke Dubai karena mendapatkan tekanan dari Rusia dan mengatakan bahwa salah satu programmernya dirayu FBI untuk membuat ‘pintu belakang’ masuk ke platformnya, dalam wawancara langka dengan jurnalis ternama Amerika Serikat Tucker Carlson.

Durov mengatakan dia meninggalkan Rusia menuju Dubai pada 2017 supaya tidak terjebak dalam pertempuran politik, setelah Kremlin memaksa untuk menyerahkan data pribadi para pengunjuk rasa pro-demokrasi Ukraina 2013.

“Saya lebih memilih untuk bebas daripada menerima perintah dari siapapun,” kata Durov, dalam wawancara selama satu jam yang diunggah di kanal YouTube Carlson hari Rabu (17/4/2024) seperti dilansir The Moscow Times.

Selama demonstrasi massal 2011-2012 yang memprotes pemilu legislatif Rusia yang dianggap ‘dicurangi oleh rezim’, Durov mengatakan dirinya menolak perintah dari penguasa untuk melumpuhkan komunitas oposisi di VKontakte, platform media sosial mirip Facebook yang ikut didirikannya pada 2007.

Durov lebih lanjut mengatakan bahwa pada 2013 Rusia meminta hal serupa semasa aksi protes Euromaidan yang dilakukan oleh orang Ukraina.

Baca Juga

Roberto Carlos Bantah Jadi Mualaf, tapi Akui sedang Mempelajari Islam
Sentuhan AI vs ‘Rasa’ Manusia: Mengapa Fotografer Profesional Kurang Menyarankan AI Generated Image?
Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional
Presidium BMIWI Tegaskan Sikap Penolakan terhadap Gerakan LGBT
BMIWI Gelar Seminar Kemerdekaan, Angkat Isu Ketahanan Keluarga dan Solidaritas Palestina-Sudan

“Respon kami kala itu, ‘Tunggu dulu , ini negara lain. Kami tidak akan mengkhianati para pengguna Ukraina karena Anda meminta kami untuk melakukannya,” kata Durov kepada Carlson. “Kami memutuskan untuk menolak dan keputusan itu juga mengecewakan bagi pemerintah Rusia.”

Tekanan-tekanan dari Kremlin itu membuatnya harus memilih untuk tunduk atau mundur dari jabatan CEO Vkontakte dan hengkang dari Rusia.

“Saya memilih yang terakhir,” kata Durov, yang berpindah-pindah tempat ke Berlin, London, Singapura dan San Francisco — di mana dia pernah jadi korban perampokan setelah bertemu dengan mantan CEO dan pendiri Twitter Jack Dorsey — sebelum akhirnya bermukim di Dubai.

VKontakte kemudian jatuh ke tangan kendali para miliarder yang dekat dengan Kremlin, dan sekarang dipimpin oleh putra dari salah satu orang dalam Kremlin.

Durov menampik kekhawatiran bahwa Telegram, yang sangat populer di negara-negara berbahasa Rusia, dikontrol oleh negara Rusia dan mengatakan bahwa para kompetitornya di Barat sengaja menebarkan rumor itu karena takut dengan perkembangan pesat Telegram.

Dia juga mengklaim bahwa FBI berusaha secara diam-diam merekrut seorang staf yang ikut menggarap Telegram supaya membuat backdoor, pintu belakang rahasia untuk masuk ke platform Telegram saat kunjungannya terakhir belum lama ini ke Amerika Serikat.

Durov memperkirakan bahwa Telegram, yang sekarang memiliki 900 juta pengguna aktif, akan melampaui 1 miliar pengguna bulanan aktif dalam kurun satu tahun. Aplikasi yang mengklaim sebagai alat komunikasi yang aman itu tidak menggunakan  end-to-end encryption.

Wawancara dengan Durov itu menandai debut kanal Telegram untuk Tucker Carlson Network.

Tucker Carlson memiliki karir panjang sebagai jurnalis televisi di Amerika Serikat. Dia pernah bekerja untuk CNN, PBS, MSNBC dan Fox News mulai 2009 sampai 2023 ketika dipecat. Pada bulan Februari, Carlson mewawancarai Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, tindakan yang tidak akan pernah dilakukan oleh kebanyakan jurnalis media arus utama Barat.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:DurovrusiaTelegramTucker Carlson
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aksi Balas Dendam Iran dan Cara Netanyahu Alihkan Kekalahannya di Gaza
Tulisan selanjutnya Paus Fransiskus ke Indonesia PBNU Sambut Baik Rencana Kedatangan, Paus Fransiskus Ke Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Persatuan Ulama Muslim Internasional Sambut Pakta Pertahanan Mekkah, Serukan Aliansi Umat Islam

Berita
19 Agustus 2026 06:00
Portugal Melarang Burqa
Uni Emirat Tetapkan Libur Maulid Nabi 1448 Hijriyah Tanggal 28 Agustus
Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional
7.968 Rumah dan 744 Fasum Rusak Akibat Gempa di NTT

Terbaru

  • Roberto Carlos Bantah Jadi Mualaf, tapi Akui sedang Mempelajari Islam
  • Sentuhan AI vs ‘Rasa’ Manusia: Mengapa Fotografer Profesional Kurang Menyarankan AI Generated Image?
  • Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional
  • Presidium BMIWI Tegaskan Sikap Penolakan terhadap Gerakan LGBT
  • BMIWI Gelar Seminar Kemerdekaan, Angkat Isu Ketahanan Keluarga dan Solidaritas Palestina-Sudan
  • Iran Bidik Aset AS di Eropa Jika Trump Perluas Konflik
  • Kemenhaj Usulkan BPIH 2027 Sebesar Rp107,34 Juta per Jamaah
  • 1.300 Dapur MBG Ditutup, DPR Tegaskan Keselamatan Anak Jangan Pernah Jadi Kompromi
  • LBH Hidayatullah Berikan Edukasi Hukum di Lapas Kembang Kuning Nusakambangan
  • Kiai Cholil Nafis Ajak Umat Islam Tak Terlena Medsos dan Kembali Membaca Buku

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Iran Bidik Aset AS di Eropa Jika Trump Perluas Konflik

20 Agustus 2026 19:37
Berita

Kemenhaj Usulkan BPIH 2027 Sebesar Rp107,34 Juta per Jamaah

20 Agustus 2026 18:04
Berita

1.300 Dapur MBG Ditutup, DPR Tegaskan Keselamatan Anak Jangan Pernah Jadi Kompromi

20 Agustus 2026 15:00
Berita

LBH Hidayatullah Berikan Edukasi Hukum di Lapas Kembang Kuning Nusakambangan

20 Agustus 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?