Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

PM New Zealand Minta Maaf Atas Berbagai Tindak Kekerasan di Panti Sosial

Ama Farah
Terakhir diupdate: 12 November 2024 14:56 2:56 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 12 November 2024 14:54
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Perdana Menteri New Zealand Christopher Luxon secara resmi meminta maaf kepada para korban tindak kekerasan di panti-panti sosial menyusul investigasi terhadap salah satu skandal terbesar di negari kiwi itu.

Permintaan maaf itu, yang disampaikan di parlemen, dilakukan setelah muncul laporan bahwa 200.000 anak-anak dan orang dewasa yang rentan mengalami berbagai tindak kekerasan saat mereka tinggal di panti-panti sosial (panti asuhan, jompo dan lain-lain) yang dikelola pemerintah maupun lembaga-lembaga keagamaan antara tahun 1950 dan 2019.

Penyelidikan itu memperkirakan dari 655.000 orang yang pernah dirawat di berbagai panti sosial di New Zealand mulai dari tahun 1950-an, sekitar 200.000 di antaranya mengalami tindak kekerasan, dan angka sesungguhnya diduga jauh lebih besar.

Tim investigasi menemukan adanya tindakan kekerasan seksual, fisik dan mental serta penelantaran yang marak terjadi dan dilakukan secara sistematis, yang mengakibatkan para korban mengalami trauma signifikan. Tidak sedikit dari para penyintas yang kemudian menjadi gelandangan, terjerumus ke dalam kemiskinan, kecanduan, tidak dapat sekolah, bekerja dan melakukan aktivitas lain secara normal, serta kesehatan fisik dan mental mereka terganggu. Sebagian dari penyintas melaporkan bahwa mereka juga mengalami penyiksaan.

Orang-orang dari suku Maori merupakan korban terbanyak. Mereka tidak hanya mengalami tindakan kekerasan tetapi juga diputus hubungannya dengan budaya dan identitas kesukuan mereka. Tidak sedikit dari penyintas di kalangan orang Maori yang kemudian terjebak di dunia kriminalitas, menjadi anggota geng, menjadi langganan penghuni penjara dan banyak yang bunuh diri.

Baca Juga

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Para pelaku tindakan kekerasan itu termasuk petugas panti yang seharusnya merawat mereka, para tokoh dan pemuka keagamaan, pekerja sosial, dan bahkan tenaga medis.

“Saya menyampaikan permintaan maaf ini kepada semua korban atas nama pemerintahan saya dan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya,” kata Luxon pada hari Selasa (12/11/2024) seperti dilansir BBC.

Penyelidikan ini, yang digambarkan oleh Luxon sebagai penyelidikan publik terbesar dan paling rumit yang pernah dilakukan di New Zealand, memakan waktu enam tahun dan mencakup wawancara dengan ribuan korban di New Zealand.

Laporan itu mendokumentasikan berbagai macam tindak kekerasan termasuk pemerkosaan, sterilisasi paksa, serta kerja paksa.

Dari penyelidikan itu diketahui bahwa di panti-panti yang dikelola lembaga keagamaan (gereja) kasus kekerasan seksualnya jauh lebih tinggi di bandingkan yang terjadi di panti yang dikelola pemerintah. Pejabat, tokoh masyarakat dan pemuka gereja berusaha menutup-nutupi tindak kekerasan yang terjadi dengan cara memindahkan korban ke tempat lain. Tidak sedikit korban meninggal dunia sebelum mendapatkan keadilan.

Laporan tersebut memberikan lebih dari 100 rekomendasi, termasuk permintaan maaf kepada publik oleh pemerintah New Zealand.

Luxon mengatakan pemerintah akan terus berupaya menuntaskan kasus ini dan melaksanakan semua rekomendasi yang diberikan dan akan memberikan laporannya tahun depan.

Dia juga mengumumkan yang 12 November sebagai National Remembrance Day, guna menandai permintaan maaf yang disampaikan pemerintah kepada seluruh korban dan sebagai peringatan supaya skandal semacam itu tidak terjadi lagi.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:New Zealand
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PM Netanyahu Menyetujui Serangan Pager Hizbullah
Tulisan selanjutnya Yahudi Belanda Kecam Aksi Suporter ‘Israel’ yang Sebabkan Kerusuhan di Amsterdam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

3 Juni 2026 13:30
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?