Hidayatullah.com– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui serangan lewat pager terhadap kelompok Hizbullah Libanon pada bulan September, kata juru bicara kantor perdana menteri Omer Dostri, hari Senin (11/11/2024).
Pada 17 September, ratusan pager yang dipakai anggota Hizbullah satu persatu meledak – sebagian besar setelah bunyi notifikasi pesan masuk – di bagian selatan Beirut dan daerah pertahanan Hizbullah lainnya. Setelah pager, menyusul keesokan harinya ledakan walkie-talkie.
Akibat ledakan pager dan walkie-talkie, total dikabarkan 39 orang tewas dan lebih dari 3.400 lainnya terluka.
Jurnalis Reuters yang melihat kondisi korban melaporkan bahwa banyak di antara mereka yang mengalami luka di bagian mata, kehilangan jari atau mengalami lubang di bagian perut. Kondisi luka mengindikasikan gawai-gawai itu berada sangat dekat dengan korban ketika meledak.
Hizbullah segera mengarahkan telunjuknya ke Israel menyusul serangan itu, tetapi pihak militer Zionis tidak pernah mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan seputar ledakan beruntun tersebut.
Belakangan kemudian media Israel melaporkan bahwa Netanyahu mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu saat rapat kabinet. Dia mengatakan kepada menteri-menterinya bahwa para pejabat tinggi pertahanan dan tokoh-tokoh politik menentang rencana serangan lewat ledakan pager tersebut, tetapi dia bersikeras untuk melakukan operasi itu.
Dua sumber yang paham soal cara kerja Hizbullah mengatakan kepada Reuters bahwa pager sengaja dipilih oleh kelompok itu supaya posisinya tidak mudah dilacak oleh Israel.
Setelah melancarkan serangan dengan cara meledakkan pager dan walkie-talkie, Israel menindaklanjutinya dengan serangan udara yang menewaskan tokoh-tokoh Hizbullah termasuk pemimpinnya, Hassan Nasrallah, dan serangan darat di bagian selatan Libanon.*