Hidayatullah.com– Ribuan warga Suriah turun ke jalan pada Jumat (19/7/2025) di berbagai kota termasuk Damaskus, Aleppo, dan Tartus, dalam unjuk rasa besar-besaran mendukung rakyat Palestina di Gaza dan mengecam kejahatan agresi Israel yang telah berlangsung lebih dari sembilan bulan. Aksi ini juga disertai dengan seruan untuk membuka front perlawanan dan menyerukan jihad melawan entitas Zionis.
Di Damaskus, massa memadati alun-alun pusat kota sambil membawa bendera Palestina, bendera Suriah, dan spanduk yang bertuliskan “Jihad adalah jalan kemenangan”, “Gaza tidak sendiri”, dan “Buka front Golan sekarang juga”. Para peserta meneriakkan takbir dan slogan anti-Israel, sembari menyerukan agar dunia Arab tidak tinggal diam terhadap genosida yang sedang terjadi di Gaza.
Sejumlah tokoh ulama, akademisi, dan perwakilan organisasi rakyat menyampaikan orasi yang menekankan bahwa Suriah, sebagai bagian dari poros perlawanan, memiliki kewajiban moral dan agama untuk berdiri bersama Gaza.
Mereka mendesak agar perlawanan bersenjata dibuka dari semua front termasuk Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak 1967.
Syaikh Hassan Abdel-Azim, salah satu tokoh ulama Damaskus, menyatakan bahwa membela rakyat Palestina adalah kewajiban jihad bagi seluruh umat Islam.
“Darah anak-anak Gaza adalah tanggung jawab kita. Mereka tidak butuh air mata, mereka butuh tindakan,” katanya dalam pidato di hadapan massa.
Menurut laporan kantor berita Suriah SANA dan media pro-pemerintah seperti Al-Watan, unjuk rasa yang dimotori oleh organisasi pemuda, ulama, serta tokoh masyarakat ini menegaskan dukungan penuh rakyat Suriah terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Jihad adalah satu-satunya jalan”, “Darah kami bersama Gaza”, dan “Penjajah akan hancur oleh perlawanan”.
Demonstrasi yang berlangsung damai ini diiringi pekikan takbir dan pembacaan doa qunut nazilah, serta pembakaran simbol-simbol ‘Israel’ dan bendera Amerika Serikat sebagai bentuk kemarahan atas sikap diam dunia Barat.
“Rakyat Suriah tidak akan diam melihat penjajah membantai anak-anak dan perempuan di Gaza. Kami siap berkorban seperti dulu di Quneitra dan Golan,” ujar Sheikh Abdul Latif dari Damaskus dalam orasinya yang dikutip media setempat.
Aksi solidaritas ini juga terlihat di wilayah perbatasan dekat Dataran Tinggi Golan yang kini diduduki ‘Israel’. Sejumlah massa terlihat membawa bendera Hizbullah dan bendera Palestina, menunjukkan solidaritas terhadap poros perlawanan (muqawamah) yang mencakup Iran, Hizbullah, Hamas, dan Suriah sendiri.
Pemerintah Suriah melalui juru bicara Kementerian Informasi menyatakan bahwa rakyat Suriah memiliki hak sah untuk mengekspresikan solidaritas dan mendukung perjuangan bangsa Palestina.
“Penjajah ‘Israel’ adalah sumber ketidakstabilan di kawasan. Perlawanan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami mereka,” kata pernyataan resmi tersebut.
Di tengah konflik yang masih berlangsung, panggilan jihad yang disuarakan rakyat Suriah menandai bangkitnya kembali sentimen perlawanan di Dunia Arab, khususnya di negara-negara yang selama ini berperan dalam Poros Perlawanan.
Tagar-tagar seperti #JihadForGaza, #DownWithIsrael, dan #SyriaForPalestine menjadi tren di media sosial Twitter dan Instagram Suriah.
Di Aleppo dan Tartus, aksi serupa digelar dengan massa mengutuk dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dan menyerukan boikot terhadap produk negara-negara yang mendukung agresi. Di kota-kota itu, masyarakat juga menggalang bantuan logistik untuk dikirimkan ke Palestina, termasuk obat-obatan dan makanan kering.
Media resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa aksi ini mencerminkan meningkatnya kemarahan publik terhadap kebungkaman internasional serta menegaskan kembali posisi Suriah yang tidak akan pernah mengakui entitas Zionis.
Sementara itu, Kementerian Informasi Suriah menyatakan bahwa suara rakyat adalah bagian dari tekad nasional Suriah dalam mendukung perjuangan Palestina sampai pembebasan penuh tanahnya.
Dalam pernyataan resmi, kementerian itu juga menyebut bahwa “membuka front perlawanan dari Golan adalah opsi yang semakin diperhitungkan, mengingat keganasan Israel terhadap warga sipil dan lambannya reaksi internasional”.
Aksi ini terjadi di tengah laporan eskalasi serangan penjajah ‘Israel’ ke Khan Younis dan Rafah, serta blokade total terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Rakyat Suriah yang ikut aksi menyampaikan bahwa mereka siap jika negara memutuskan membuka front militer di selatan. Sejumlah pemuda bahkan membawa spanduk bertuliskan “Daftarkan kami untuk Jihad, demi Gaza dan Al-Aqsha”.*




