Hidayatullah.com– Aceh mencatat lonjakan tajam kasus HIV/AIDS sepanjang tahun ini. Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Aceh, sebanyak 348 orang terdiagnosis positif HIV sepanjang 2024, meningkat dibanding 2023 yang sebanyak 123 kasus pada enam bulan pertama.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar SpOG, menyampaikan kepada wartawan pada 15 Juli lalu bahwa peningkatan ini terutama disebabkan oleh dua hal: praktik hubungan sejenis di kalangan laki-laki dan “suami jajan”—yakni pria menikah yang memiliki hubungan seksual di luar komitmen pernikahan. Menurutnya, hal ini meningkatkan risiko penularan ke istri dan anak-anak mereka.
“Salah satu potensi HIV paling besar adalah hubungan sejenis laki-laki (gay). Banyak juga kasus terjadi karena suami banyak jajan di luar sehingga menularkan kepada istri, bahkan bisa diturunkan ke anak,” ujar dr. Munawar saat bersilaturahmi ke PWI Aceh baru-baru ini.
Munawar menambahkan, masuknya pendatang dari wilayah lain juga berkontribusi, namun pihaknya terkendala dalam melakukan skrining karena regulasi HAM
Data rinci dari Kota Banda Aceh menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2021 tercatat 84 kasus baru, naik menjadi 88 pada 2022, dan melonjak hingga 566 kasus pada 2024, dikutip RRI.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Musriadi, menyebut kepedulian terhadap kelompok LGBT menjadi urgen. “Yang sangat kita sayangkan… hari ini yang didominasi adalah laki‑laki dengan laki‑laki,” katanya dikuti dprk.bandaacehkota.go.id.
Musriadi juga mendukung upaya Pemerintah Kota Banda Aceh melakukan razia dan edukasi masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor..
Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh melalui Tgk. Syibral Malasyi mendesak pendekatan agama lebih intensif. Ia menilai praktik LGBT yang dianggap menyimpang harus mendapat perhatian serius dari ulama dan dai. “Pendidikan akhlak dan nilai keislaman harus diperkuat… Penyimpangan ini tidak boleh dibiarkan meracuni generasi muda Aceh,” ujarnya.
Wakil Ketua MPU lainnya, Tgk. H. Faisal Ali, mendesak pemerintah dan masyarakat agar bersatu mencegah penyebaran HIV melalui pendekatan preventif dan edukatif. “Pencegahan dan edukasi harus dilakukan secara terus‑menerus. Masyarakat harus diberikan pemahaman yang benar tentang bahaya HIV/AIDS dan cara mencegahnya,” tegasnya.*




