Hidayatullah.com—Di tengah gelombang besar kecerdasan buatan (AI) yang mengguncang hampir seluruh sektor kehidupan, filsafat justru menemukan kembali urgensinya. Bukan sekadar ilmu usang di tengah era teknologi, filsafat justru menawarkan fondasi reflektif yang krusial dalam menghadapi tantangan zaman yang kian pragmatis dan terotomatisasi.
Hal ini mengemuka dalam diskusi podcast antara Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syifa Amin Widigdo, dan cendekiawan muslim, Dr. Syamsuddin Arif, yang tayang di kanal Wonderhome Library pada Sabtu (26/07/2025).
Dalam dialog tersebut, Syamsuddin Arif menegaskan bahwa mempertanyakan kegunaan filsafat secara empiris, khususnya dalam konteks warisan tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, mencerminkan ketidakpahaman terhadap klasifikasi ilmu.
Mengutip Syahrastani dalam Al-Milal wa an-Nihal, Arif menjelaskan bahwa ilmu terbagi menjadi dua: ilmu praktis (know how) yang berorientasi pada tindakan, dan ilmu teoritis (know what & know why) yang bertujuan murni untuk mengetahui kebenaran.
“Filsafat adalah ilmu teoritis. Ia tidak ditujukan untuk langsung dipakai, tetapi untuk membentuk cara berpikir yang benar,” ujar Arif. “Ini soal knowing the truth, bukan sekadar knowing the good.”
Pentingnya Berpikir Abstrak di Era Teknologi
Menurut Arif, kemampuan berpikir abstrak yang dilatih melalui filsafat merupakan pilar dasar bagi kemampuan analitis manusia—kemampuan yang tidak bisa direplikasi oleh AI. Sebagaimana matematika tak hanya berguna untuk menghitung, filsafat melatih manusia memahami esensi, makna, dan nilai dari realitas.
Syifa Amin menambahkan bahwa semua cabang keilmuan, pada akhirnya, memiliki dimensi teoritis. Bahkan bidang sepraktis matematika, jika ditelusuri, akan sampai pada tataran ide dan abstraksi tinggi.
“Matematika dipakai untuk jual beli, ya. Tapi dalam kuliahnya, kita belajar logika, teori bilangan, dan konsep abstrak. Filsafat pun demikian,” jelas Syifa.
Ketimpangan Epistemik di Dunia Islam
Diskusi ini juga menyinggung problem ketimpangan antara ilmu praktis dan teoritis dalam masyarakat Muslim modern. Syamsuddin Arif menyoroti kebijakan pembangunan di dunia Islam yang cenderung berat sebelah pada aspek teknis dan industri.
Ia menyayangkan dominasi pendekatan link and match antara kampus dan industri, yang seringkali mengabaikan pendidikan sebagai ruang pembentukan jiwa dan akal budi.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Tapi sekarang, kita hanya sibuk membangun badan,” keluh Arif.
Ia mencontohkan Jerman dan Uni Eropa yang tetap mengalokasikan dana riset untuk manuskrip-manuskrip kuno, termasuk karya-karya teologi dan filsafat Islam.
Menurutnya, ini adalah bentuk kesadaran bahwa pembangunan manusia memerlukan pengembangan aspek spiritual dan intelektual, bukan hanya teknis.
Melampaui Eurosentrisme: Membela Filsafat Islam
Di akhir diskusi, Syifa Amin mengangkat isu kritik terhadap keberadaan filsafat Islam, yang dianggap tidak otentik oleh mazhab filsafat analitik.
Syamsuddin Arif menjawab bahwa ini adalah bentuk eurosentrisme intelektual. Menurutnya, menolak keberadaan filsafat Islam hanya karena tidak berakar dari Plato atau Aristoteles adalah sikap ahistoris dan sempit.
“Filsafat Hindu, filsafat Buddha, dan filsafat Islam—semuanya valid. Filsafat bukan milik satu bangsa atau benua,” tegas Arif.
Keduanya sepakat bahwa umat Islam membutuhkan lembaga-lembaga yang berani membangun kembali khazanah keilmuan klasik. Syamsuddin Arif bahkan menyampaikan visinya mendirikan pusat studi pascasarjana yang khusus mendalami filsafat Islam secara mendalam dan profesional.
“Ability without opportunity is useless, and opportunity without ability is valueless,” kutip Arif dari Prof. Syed Naquib al-Attas.
Menjaga Nalar di Tengah Disrupsi
Melalui dialog yang penuh kedalaman ini, terang bahwa filsafat bukanlah ilmu yang “ketinggalan zaman.” Justru di tengah era AI, filsafat menjadi kompas moral dan epistemik yang dibutuhkan agar manusia tidak terjebak dalam kepungan teknologi tanpa arah.
Filsafat menawarkan ruang kontemplasi, membentuk daya nalar, dan menjaga agar manusia tetap menjadi makhluk berakal, bukan sekadar operator dari mesin-mesin canggih.
Melalui perbincangan ini, menjadi jelas bahwa filsafat memegang peranan krusial di era disrupsi AI. Justru di tengah kecenderungan teknokratis yang membebani manusia dengan kecakapan teknis semata, filsafat hadir sebagai penuntun refleksi.
Filsafat, dengan demikian, adalah “upaya memanusiakan manusia” (to humanize human being), memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengikis esensi kemanusiaan kita.*




