Hidayatullah.com – Ratusan warga Taiwan pada Ahad menggelar aksi demonstrasi mengecam bantuan pemerintah ke sebuah pusat kesehatan permukiman ‘Israel’ di Tepi Barat yang diduduki, menurut laporan Anadolu.
“Taiwan senang mengatakan ‘Taiwan Bisa Membantu’,” ujar salah satu pendukung Palestina Aurora Chang di depan massa. “Tapi saat ini, kami sedang membantu negara yang melakukan genosida!”
Demonstrasi terbaru dipicu setelah Israel Ganz, ketua organisasi komunitas permukiman (Dewan Yesha), membagikan di media sosial bahwa perwakilan Taipei di Tel Aviv, Abby Lee, bulan lalu menjanjikan dukungan kepada Pusat Medis Nanasi, bagian dari Dewan Regional Binyamin di utara Yerusalem.
Para demonstran menuntut pemerintah Taiwan menghentikan semua bantuan keuangan kepada ‘Israel’, yang telah membunuh lebih dari 60.000 warga Palestina di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, dan “mengakui keterlibatannya dalam kelaparan yang sedang berlangsung di Gaza.”
Sebuah pernyataan mengatakan bahwa pendanaan apa pun untuk klinik tersebut “sama saja dengan melegitimasi dan mempertahankan sistem apartheid Israel—sebuah pelanggaran hukum internasional.”
Namun, Kementerian Luar Negeri Taiwan telah membantah janji semacam itu.
Dikatakan bahwa kunjungan Lee pada bulan Juli hanya untuk “menjajaki kerja sama medis” dan mencatat sumbangan sebesar $500.000 yang diberikan Taiwan tahun lalu kepada pengungsi Palestina melalui LSM Mercy Corps.
Hubungan Taiwan, yang tidak mengakui Palestina, dengan entitas zionis ‘Israel’ semakin erat sejak perang Gaza meletus hampir dua tahun lalu.
Taiwan telah meluncurkan kelompok persahabatan parlemen, menyumbangkan $500.000 untuk patroli medis ‘Israel’, membuka program kerja-liburan timbal balik, serta mendorong kerja sama teknologi dan perdagangan.
Aliansi Taiwan untuk Palestina Merdeka, bersama dengan kelompok hak asasi manusia lainnya seperti Aliansi Taiwan untuk Hak Asasi Manusia dan Asosiasi Pekerja Internasional Taiwan, mengatakan beberapa perusahaan Taiwan memasok komponen yang digunakan dalam sistem persenjataan Amerika dan ‘Israel’, sebuah tuduhan yang belum dijawab secara terbuka oleh para pejabat.*




