Hidayatullah.com– Kepala pemerintahan Inggris yang baru PM Andy Burnham menyetujui penggunaan pangkalan-pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan defensif terhadap Iran, sebuah kelanjutan dari kebijakan yang dibuat pendahulunya Keir Starmer.
Starmer pada hari Jumat terakhir kepemimpinannya (17/7/2026) memimpin rapat para menteri senior untuk membahas kebijakan Inggris berkaitan dengan dimulainya kembali serangan AS atas Iran awal bulan ini, menurut orang-orang yang mengetahui tentang hal tersebut, lansir Bloomberg Selasa (21/7/2026).
Para menteri dalam rapat tersebut memutuskan untuk melanjutkan kebijakan yang sudah ada bahwa pangkalan-pangkalan militer di Diego Garcia di kawasan Samudra Hindia dan RAF Fairford di Gloucestershire, England bisa dipergunakan oleh pesawat-pesawat AS dalam misi yang bertujuan untuk menangkal ancaman rudal Iran dan tempat-tempat yang dipergunakan Iran untuk menarget Selat Hormuz, menurut orang-orang tersebut.
Burnham, yang resmi menjadi perdana menteri pada hari Senin (20/7/2026), diberitahukan tentang rapat tersebut dan ia setuju dengan keputusan-keputusan yang diambil dalam pertemuan itu, imbuh orang-orang tersebut.
Bloomberg mengatakan orang-orang yang berbicara kepadanya tentang kebijakan keamanan Inggris itu meminta supaya identitas mereka tidak diungkap.
Burnham akan melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya terkait persetujuan penggunaan pangkalan-pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat, kata orang-orang tersebut. Itu artinya pangkalan-pangkalan Inggris kemungkinan besar dipergunakan untuk melancarkan sebagian operasi udara AS atas Iran beberapa hari terakhir.
Informasi ini terungkap setelah AS selama 10 hari berturut-turut menggempur Iran. US Central Command mengatakan rangkaian serangan tersebut menarget pusat-pusat komandan militer, lokasi-lokasi peluncuran roket dan pertahanan Iran.
Burnham kemungkinan akan menghadapi kritik dari sayap kiri Partai Hijau dan Liberal Demokrat, yang sama-sama menentang penggunaan pangkalan-pangkalan militer Inggris oleh AS, karena menurut mereka hal itu menjadikan Inggris terlibat dalam kejahatan perang mengingat AS juga membom target-target sipil.
Keputusan perdana menteri baru itu kemungkinan yang membuat Presiden AS Donald Trump relatif memberikan sambutan hangat tentang masuknya Burnham ke 10 Downing Street.
Burnham berbicara dengan Trump lewat telepon setelah resmi menjadi perdana menteri pada hari Senin. “Perdana Menteri memaparkan komitmen Inggris untuk mengamankan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz,” menurut informasi yang dikeluarkan kantornya.
Trump lewat media sosial besutannya Truth Social memberikan sedikit bocoran tentang pembicaraan dengan Burnham. “Kami mendiskusikan isu minyak Laut Utara, perdagangan, aliansi militer, pembersihan ranjau di Selat Hormuz, dan banyak topik lainnya. Pembicaraan telepon itu menarik, dan berjalan dengan sangat baik,” tulis Trump.*




