Hidayatullah.com – Asosiasi Pelatih Italia (AIAC) atau biasa disebut Assoallenatori telah menulis surat resmi yang mendesak agar ‘Israel’ diskors dari kompetisi internasional karena perang di Gaza. Surat tersebut mendesak Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), mengajukan permohonan resmi ke UEFA dan FIFA.
“Setelah rapat internal, arahan nasional Assoallenatori dengan suara bulat sepakat untuk mengirimkan surat dan permohonan kepada Presiden FIGC Gravina dan seluruh otoritas Federal, karena sepak bola Italia harus mengambil sikap yang berpihak pada rakyat Palestina dan meminta UEFA dan FIFA agar Israel ditangguhkan sementara dari kompetisi internasional,” tulis Presiden AIAC Renzo Ulivieri.
Asosasi pelatih dari seluruh divisi sepak bola Italia itu menegaskan bahwa penangguhan ‘Israel’ bukan sekedar simbolis, tetapi keharusan moral.
“Ini bukan sekadar isyarat simbolis, tetapi pilihan yang diperlukan, yang menanggapi keharusan moral, yang dianut oleh seluruh dewan direksi,” imbuh Ulivieri.
Desakan tersebut disampaikan menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Italia dan ‘Israel’. Tim Azzurri akan menghadapi ‘Israel’ di Grup I, di lapangan netral Debrecen pada 8 September, kemudian menjamu mereka di Stadion Friuli di Udine pada 14 Oktober.
Protes di tribun penonton dan tindakan pengamanan ketat telah dilakukan saat terakhir kali Italia menghadapi ‘Israel’, yang juga berlangsung di Udine pada Oktober 2024.
Sejak itu, situasi di Gaza memburuk secara drastis, dengan peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang “kelaparan” dan blokade truk bantuan.
Wakil Presiden Giancarlo Camolese juga berbicara kepada kantor berita ANSA atas nama Asosiasi Pelatih.
“Orang-orang mungkin ingin kami diam dan bermain, lalu berpaling, tetapi kami rasa itu tidak benar.”
Situasi ini juga diperparah dengan kematian Suleiman al-Obeid, yang dikenal sebagai Pele-nya Palestina, baru-baru ini. Bintang Liverpool, Mo Salah, bertanya kepada FIFA mengapa alasan kematiannya tidak disebutkan dalam penghormatan.
“Dunia sedang bergejolak. Banyak orang menderita seperti orang Palestina. Ketidakpedulian tidak dapat diterima,” tambah Wakil Presiden Assoallenatori, Francesco Perondi.
Penjajah ‘Israel’ telah membunuh lebih dari 62.000 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Kampanye militer telah menghancurkan daerah kantong tersebut, dan menyebabkan kematian akibat kelaparan.*




