Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dalam Lapar, Mereka Menolong Kita—Palestina dan Hutang Solidaritas Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2025 18:52 6:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Agustus 2025 17:46
Bagikan
Dalam lapar, mereka menolong kita—Palestina dan hutang solidaritas Indonesia
Bagikan

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Hidayatullah.com – DELAPAN dekade bukan waktu sebentar bagi sebuah bangsa untuk berdiri, tumbuh, dan belajar memaknai kemerdekaannya. Indonesia hari ini telah menapaki usia ke-80 tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Kita mengenang jasa para pahlawan, mengibarkan bendera, menyanyikan lagu perjuangan, dan merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan.

Namun di tengah gegap gempita perayaan, ada baiknya kita berhenti sejenak—merenung dalam diam. Sebab kemerdekaan Indonesia sejatinya bukan hanya buah dari keringat dan darah anak bangsanya sendiri, tapi juga terbangun dari doa-doa yang lirih, dari tangan-tangan yang tak terlihat, dan dari hati-hati tulus di tanah yang jauh, yang tak pernah lelah berharap kebaikan bagi perjuangan Indonesia.

Salah satunya datang dari Palestina. Pada tahun 1948, ketika Indonesia masih tertatih menghadapi Agresi Militer Belanda dan dunia belum sepenuhnya mengakui kedaulatan negeri ini, sebuah dukungan mengalir dari tanah yang jauh. Syekh Ali Taher, seorang tokoh Palestina, mengirimkan bantuan sebesar USD 150.000 untuk mendukung perjuangan diplomasi Indonesia. Sebuah angka yang sangat besar di zamannya—dan menjadi jauh lebih berarti karena datang dari bangsa yang saat itu, dan bahkan hingga kini, belum menikmati kemerdekaannya sendiri.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Dukungan-dukungan inilah yang membuat Wakil Presiden Bung Hatta menemui Mufti Palestina dan tokoh-tokoh Arab lainnya seusai menghadiri Konferensi Meja Bundar tahun 1949. “Beliau mengambil kesempatan itu untuk mengucapkan terimakasih kepada segala pihak yang menyokong perjuangan Indonesia sampai menang,” tulis Zein Hassan dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri.

Namun, dukungan itu tak berhenti di halaman sejarah kemerdekaan. Ia melampaui batas waktu dan terus hadir dalam bentuk kepedulian yang nyata. Jauh setelah Indonesia merdeka, Palestina tetap menunjukkan cintanya.

Ketika Yogyakarta dilanda gempa pada tahun 2006, rakyat Palestina—yang hidup di bawah penjajahan dan blokade yang menyesakkan—ikut menggalang dana untuk membantu. Di tengah perut yang lapar dan kehidupan yang serba kekurangan, mereka tetap menyisihkan apa yang mereka punya. Sebab bagi mereka, memberi bukan soal mampu, tapi soal peduli.

Ketika Sumatera Barat dilanda gempa pada tahun 2009, mereka kembali hadir—mengirimkan bantuan dari negeri yang sendiri masih terluka. Dan saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2021, mereka kembali menunjukkan kepeduliannya: mengirimkan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis Indonesia.

Padahal mereka sendiri hidup dalam kekurangan, di bawah penjajahan, di tengah krisis kemanusiaan yang tak pernah reda. Tapi bagi mereka, solidaritas bukan soal kelapangan, melainkan soal kemanusiaan. Bukan soal berapa yang bisa diberi, tapi seberapa tulus hati ikut peduli.

Kisah-kisah ini bukan sekadar fragmen sejarah yang patut dikenang—ia adalah cermin bagi kita semua. Bahwa kemerdekaan tak pernah lahir sendirian, dan bahwa solidaritas yang paling murni tak selalu datang dari mereka yang kuat, tapi justru dari hati-hati yang penuh empati, meski dalam kesempitan.

Hari ini, saat kita menikmati kemerdekaan penuh selama 80 tahun, Palestina masih berjuang untuk bebas. Mereka belum merdeka, tetapi mereka tak pernah absen untuk Indonesia —di tengah genosida, kelaparan, dan kehilangan nyawa. Dari era revolusi hingga reformasi, ada sebuah fakta yang harus terus kita renungkan: Meski belum Merdeka, Palestina tak pernah meninggalkan kita.

-Catatan dalam seminar bertajuk Peran Palestina dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Poltekkes II Kementerian Kesehatan, Jakarta pada 16 Agustus 2025.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineHUT RI ke-80palestinaPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Universitas Israel Ibrani jadi target boikot akademik Kritik Agresi Gaza, Uruguay Putuskan Hubungan Akademik dengan ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Pelatih Sepak Bola Italia Desak ‘Israel’ Dilarang Tampil di Kompetisi Internasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?