Hidayatullah.com – Armada Global Sumud atau Global Sumud Flotilla, yang mengangkut bantuan kemanusiaan darurat untuk Gaza, telah tiba di Tunisia setelah berlayar selama beberapa waktu dari Barcelona. Pemberhentiannya di Tunisia merupakan perhentian terakhir sebelum menuju Gaza.
Terdiri dari 50 kapal dari setidaknya 44 negara yang masing-masing membawa sekitar setengah ton bantuan, akan bertemu dengan kapal-kapal peserta lainnya selama beberapa hari ke depan.
Jurnalis Mauricio Morales, yang berada di salah satu kapal, mengatakan bahwa semangat juang mereka tinggi saat armada mendekati ibu kota, Tunis. Armada tersebut singgah di Menorca untuk perbaikan setelah badai, di mana Morales juga mengonfirmasi bahwa armada sempat terpaksa kembali karena cuaca buruk.
Kedatangan armada Global Sumud mendapat sambutan meriah dari kapal-kapal lokal dan polisi. Mereka menyambut dengan meneriakkan “Viva Palestina” dan mengibarkan bendera Palestina.
Armada tersebut berencana untuk berlabuh, setelah mengurus dokumen yang diperlukan, selama dua hari untuk mengisi persediaan makanan dan air sebelum berangkat ke Gaza pada 10 September, yang diperkirakan akan memakan waktu lebih dari seminggu untuk mencapainya.
Para relawan dari seluruh Eropa dan dunia Arab berada di atas armada bantuan terbesar saat puluhan kapal berangkat dari pelabuhan selatan Tunisia dalam rangka menunjukkan solidaritas.
Termasuk Greta Thunberg, yang berada di kapal misi bantuan Madleen, dan cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela.
Penjajah ‘Israel’ berencana untuk menangkap awak kapal dan menempatkan mereka di penjara Ketziot dan Damon, sesuai rencana Menteri Keamanan Nasional ‘Israel’ ekstremis, Itamar Ben-Gvir.
Armada ini dinamai berdasarkan konvoi yang dicegat oleh pasukan yang terkait dengan panglima perang Libya Khalifa Haftar di dekat Sirte dan terpaksa kembali.
Misi bantuan sebelumnya telah diblokir oleh pasukan ‘Israel’, termasuk Handala, Marmara Blue, dan Madleen, di mana angkatan laut secara ilegal mencegat kapal-kapal tersebut dan menahan serta mendeportasi awak kapal.
Armada tersebut berlayar karena pemblokiran bantuan kemanusiaan oleh ‘Israel’ telah menyebabkan kelaparan parah yang telah menewaskan sedikitnya 387 warga Palestina, termasuk 138 anak-anak.
Diperkirakan 900.000 anak di Gaza saat ini menderita kelaparan, dan sedikitnya 700.000 mengalami kekurangan gizi klinis.*




