Hidayatullah.com – Pavlo Lapshyn, yang dipenjara karena terbukti membunuh seorang lansia Muslim bernama Mohammed Saleem, ditemukan tewas di ruang selnya. Lapshyn sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup.
“Pavlo Lapshyn meninggal pada 23 September 2025 di HMP Wakefield. Sebagaimana semua kematian dalam tahanan, Ombudsman Penjara dan Masa Percobaan akan menyelidikinya,” ujar juru bicara Layanan Penjara Inggris kepada 5Pillars pada Selasa (23/09/2025).
Maz Saleem, putri dari Mohammed Saleem, mengatakan sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya dan kemanusiaan, dirinya memilih untuk memaafkan Lapshyn. Maz bahkan mendoakan keluarga Lapshyn.
“Ini bukan untuk membenarkan perbuatannya — tindakannya sangat salah, dan ia menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Namun, saya percaya menyimpan kebencian tidak akan menguntungkan siapa pun. Ia adalah putra seseorang, dengan orang tua lanjut usia di Dnipropetrovsk, Ukraina. Doa saya menyertai keluarganya di masa sulit ini,” kata Maz.
Ia meminta masyarakat untuk menghormati ayahnya untuk bersatu melawan perpecahan yang berupaya disebarkan ideologi-ideologi ekstrem.
“Apa yang diperjuangkan Pavlo Lapshyn — kebencian, ekstremisme, dan rasisme — bertolak belakang dengan semua yang diyakini komunitas kita, dan kita harus terus memperjuangkan pengampunan, keadilan, dan perdamaian.”
“Semoga mereka berdua beristirahat dengan damai. Innalillahi wainna Ilaihi rojiun,” tutup Maz dalam pernyatannya.
‘Perang Ras’
Lapshyn, kini berusia 37 tahun, adalah seorang teroris neo-Nazi Ukraina yang melakukan serangkaian serangan bermotif rasial di Britania Raya pada tahun 2013.
Berasal dari Dnipro (sebelumnya Dnipropetrovsk), Ukraina, ia adalah seorang mahasiswa teknik berpendidikan tinggi dengan sejarah ekstremisme sayap kanan.
Lapshyn dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan masa hukuman minimal 40 tahun atas tuduhan pembunuhan dan merencanakan peledakan.
Pada tahun 2013, Lapshyn memenangkan juara ketiga dalam kompetisi program pertukaran internasional, dan mendapatkan penempatan kerja sementara di Delcam, sebuah perusahaan perangkat lunak di kawasan Small Heath, Birmingham (sebuah kawasan dengan populasi Muslim yang signifikan). Ia tiba di Britania Raya pada tanggal 24 April 2013 dengan visa kerja dan tinggal di akomodasi yang disediakan perusahaan.
Terinspirasi oleh pengeboman Boston Marathon awal tahun itu, Lapshyn melancarkan kampanye kekerasan selama dua bulan yang bertujuan memicu ketegangan rasial antara supremasi kulit putih dan komunitas Muslim. Ia dilaporkan bertindak sendiri, tanpa terikat dengan kelompok terorganisir mana pun, dan dengan cermat merencanakan serangannya menggunakan keterampilan teknisnya untuk membuat alat peledak rakitan (IED).
Pada 29 April 2013 — hanya lima hari setelah tiba — Lapshyn menikam Mohammed Saleem, seorang Muslim berusia 82 tahun, seorang kakek dari 22 cucu dan anggota masyarakat yang dihormati, hingga tewas di Small Heath, Birmingham.
Saleem sedang berjalan pulang setelah salat magrib di masjid setempat, menggunakan tongkat jalan karena kesehatannya yang buruk. Lapshyn mendekat dari belakang dan menimbulkan luka tusuk yang fatal di leher dan dada. Pembunuhan itu digambarkan sebagai tindakan kebencian rasial yang acak dan oportunistik.
Antara Juni dan Juli 2013, Lapshyn menanam dan meledakkan tiga bom rakitan di dekat masjid-masjid di West Midlands:
21 Juni: Ledakan di luar Masjid Pusat Wolverhampton (tak lama setelah salat Jumat; tidak ada korban luka karena kesalahan waktu).
12 Juli: Ledakan di dekat Masjid Ghausia di Walsall.
18 Juli: Sebuah bom meledak di dekat Masjid Bilal di Tipton.
Bom-bom tersebut berupa pipa yang diisi dengan paku, sekrup, dan bahan peledak, yang dirancang untuk menimbulkan korban jiwa yang maksimal. Polisi yakin Lapshyn merencanakan serangan agar bertepatan dengan waktu salat, tetapi melakukan kesalahan dalam penjadwalan, sehingga mencegah kerusakan massal. Ia mengamati lokasi-lokasi menggunakan transportasi umum dan membeli bahan-bahan secara daring dan dari toko-toko.
Tindakan Lapshyn diselidiki sebagai potensi terorisme sejak awal, dengan Kepolisian West Midlands menghubungkan pembunuhan yang belum terpecahkan tersebut dengan pengeboman melalui rekaman CCTV dan bukti forensik. Ia ditangkap pada 18 Juli 2013, setelah mencoba meledakkan bom lain.
Lapshyn mengaku bersalah pada 21 Oktober 2013 atas pembunuhan, rencana peledakan, dan tindak pidana yang diperburuk secara rasial. Di Pengadilan Pidana Pusat di London, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan masa hukuman minimal 40 tahun pada 25 Oktober 2013.
Bukti pengadilan mengungkapkan adanya materi neo-Nazi di komputernya, termasuk manifesto dan propaganda sayap kanan. Ia menyatakan keinginannya untuk mengobarkan “perang ras” melawan Muslim.*




