Hidayatullah.com – Semangat perjuangan dan pemikiran Mohammad Natsir kembali disemarakkan di Kota Bandung. Forum ini menjadi wadah refleksi dan inspirasi untuk mengenal lebih dalam sosok M. Natsir. Seorang ulama, intelektual, dan negarawan yang dikenal sebagai penggagas Mosi Integral dalam mempersatukan Indonesia pasca kemerdekaan.
Kegiatan Bedah Pemikiran M. Natsir itu sekaligus menandai Deklarasi Komunitas Natsir Muda. Digelar di Pendopo Wali Kota Bandung, Jl. Dalem Kaum No. 56. Pendiri Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun, Hadi Nur Ramadhan menyambut baik inisiatif ini dan berharap komunitas tersebut menjadi wadah pembinaan generasi muda agar meneladani nilai-nilai perjuangan dan dakwah M. Natsir.
“Komunitas ini bukan sekadar forum diskusi, tapi gerakan nyata untuk membangun umat melalui ilmu dan karya. Semangat Pak Natsir harus terus hidup di kalangan muda,” ujar Hadi dalam pemaparannya, Selasa sore (14/10/2025).
Dalam forum itu, Hadi mengutip pesan M. Natsir, sebab terasa relevan dengan situasi generasi muda masa kini. “Saya menghimbau pada angkatan muda, cobalah mengadakan pertemuan, bersatu mengkaji persoalan umat secara serius, tidak usah gembar-gembor. kita harus mengintrodusir Islam melalui karya nyata (amal).” ungkap Hadi.
Hadi menyampaikan kegiatan ini sebagai langkah awal untuk melanjutkan warisan pemikiran dan perjuangan M. Natsir secara lebih terarah. “Kami ingin menghadirkan kembali sosok Pak Natsir kepada kawula muda agar semangat dakwah dan keilmuannya menjadi inspirasi nyata,” jelasnya.
Baca juga: Pesan Mohammad Natsir: Palestina Bukan Soal Tanah
Adapun, Bandung di pilih sebagai tempat lahirnya Komunitas Natsir Muda. Sebab di kota inilah M. Natsir menempuh pendidikan menengah dan berguru kepada Ahmad Hassan, ulama besar yang banyak membentuk pemikirannya. Dari Bandung pula Natsir dikenal sebagai pemuda berbudaya literasi tinggi dan berakhlak mulia.
Natsir aktif dalam Jong Islamieten Bond (JIB), organisasi kepemudaan Islam yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Meski hanya lulusan SMA, namun Natsir dianggap telah menjalani pendidikan tinggi yang sesungguhnya, memadukan intelektualisme dan aktivisme secara harmonis.
Tak hanya itu, di Bandung pula Natsir mendirikan lembaga pendidikan Islam bernama PENDIS (Pendidikan Islam), yang melahirkan banyak ulama, termasuk KH Rusyad Nurdin. Ia memilih menjadi guru tanpa bayaran, semata-mata agar generasi muda memahami agamanya dengan baik. Karena itu, Bandung dinilai tepat menjadi titik awal gerakan Natsir Muda.
Deklarasi ini menjadi tonggak lahirnya Komunitas Natsir Muda. Nantinya akan lahir di kota dan daerah lain. Komunitas ini tentu diharapkan dapat menjadi pusat gerakan intelektual dan dakwah produktif bagi generasi muda.
Acara berlangsung hangat dan khidmat. Dihadiri oleh berbagai tokoh nasional dan daerah, di antaranya Wali Kota Bandung H. M. Farhan, Miftah Faridl, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini, Ketua Umum Persatuan Islam, (Persis) Jeje Zaenudin, Influencer Erick Yusuf, Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadhan, Fatih Madini, serta A. Zaky Rahim dari keluarga M. Natsir.* Azim Arrasyid
Baca juga: Mohammad Natsir dan Politik Bebas Aktif Indonesia




