Hidayatullah.com— Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, hari Kamis (30/7/2026), menegaskan bahwa keamanan Mesir sangat besar artinya bagi Teheran, seraya membantah bahwa pihaknya sebagai pelaku serangan atas pelabuhan Damietta.
“Mesir merupakan teman dan mitra penting di kawasan ini, dan keamanannya merupakan hal yang teramat penting bagi kami,” tegas Araghchi lewat platform X.
Komentarnya itu disampaikan menyusul serangan drone yang menarget kapal-kapal yang berlabuh di Damietta, yang menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya peperangan antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku terang-terangan sebagai pelakunya.
Diplomat paling senior Iran itu juga mengingatkan supaya dunia waspada akan operasi licik Israel, menyinyalir serangan drone atas Damietta dilakukan oleh negara Zionis Yahudi itu.
“Kita semua harus waspada terhadap makar-makar Israel dan operasi false flag yang dirancang untuk melemahkan perdamaian regional. Ancaman itu jelas, bersifat timbal balik, dan diliputi rasa takut akan solidaritas Muslim,” tegasnya seperti dilansir Al Arabiya.
Operasi false flag (bendera palsu) merupakan operasi yang dilakukan oleh satu pihak yang sengaja dirancang supaya dikira dilakukan oleh pihak lain. Operasi jenis ini kerap dilakukan untuk tujuan adu domba atau memperkeruh konflik.
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada hari Kamis (30/7) memperingati bahwa konflik Timur Tengah saat ini sedang menghadapi eskalasi serius, setelah sebuah drone menghantam kapal tanker gas milik perusahaan Amerika Serikat yang berlabuh di Damietta.
Menurut jur bicara kepresidenan, dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, al-Sisi “menegaskan perlunya Mesir, Spanyol, Eropa dan masyarakat internasional untuk bekerja sama untuk meredam eskalasi itu.”*




