Hidayatullah.com— Sejumlah anggota Partai Demokrat Amerika Serikat mulai menjauh dari kelompok lobi Yahudi paling berpengaruh di Washington, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), di tengah menurunnya dukungan publik terhadap ‘Israel’ dan meningkatnya kritik atas genosida di Gaza.
Dalam laporan Mondoweiss, media pro-hak kebebasan Palestina yang didiran wartawan keturunan Yahudi-AS mengumumkan bahwa ia akan mengembalikan semua sumbangan politik yang pernah diterima dari AIPAC dan menolak dukungan kelompok tersebut ke depan.
“Dalam beberapa tahun terakhir, AIPAC terlalu dekat dengan pemerintahan Netanyahu. Saya tetap teman ‘Israel’, tapi bukan teman pemerintahnya yang sekarang. Karena itu saya memutuskan untuk mengembalikan donasi yang saya terima dan tidak akan menerima dukungan mereka,” demikian anggota Kongres Seth Moulton dari Massachusetts dalam pernyataannya, Kamis (16/10/2025).
“Pernyataan Moulton adalah bentuk penyerahan diri terhadap tekanan ekstrem. Ia meninggalkan teman-temannya demi mencari perhatian,” kata juru bicara AIPAC, Marshall Wittmann, ditulis jurnalis Mondoweiss Michael Arria.
Langkah Moulton mengejutkan banyak pihak karena selama ini ia dikenal sebagai politisi pro-’Israel’. Ia mendukung Undang-Undang Kesadaran Antisemitisme dan mengecam kampusnya, Harvard, karena pernyataan mahasiswa yang mengkritik kebijakan ‘Israel’.
Namun, kini ia menjadi politisi Demokrat keempat yang menolak dana dari AIPAC setelah sebelumnya langkah serupa diambil oleh Morgan McGarvey (Kentucky) , Valerie Foushee (Carolina Utara) , dan Deborah Ross (Carolina Utara) .
Perubahan sikap ini terjadi di tengah merosotnya dukungan publik terhadap ‘Israel’. Menurut survei New York Times–Siena University pada September lalu, hanya 34 persen pemilih AS yang mendukung ‘Israel’, turun dari 47 persen setelah 7 Oktober 2023.
Media tersebut menyebutnya sebagai “pembalikan besar dalam opini publik Amerika.”
Konsultan politik Demokrat Peter Feld menilai keputusan Moulton menunjukkan bahwa AIPAC kini “radioaktif secara politik.”
Ia mengatakan kepada Mondoweiss, “Voters tidak hanya ingin politisi menolak AIPAC, tapi juga ingin mereka benar-benar menentang tindakan ‘Israel’ yang menindas rakyat Palestina.”
Pandangan serupa disampaikan oleh Eli Clifton, penasihat senior di Quincy Institute for Responsible Statecraft. Menurutnya, tren penolakan terhadap dana AIPAC bisa menjadi isu besar dalam pemilu sela 2026 , meskipun kelompok tersebut masih memiliki kekuatan finansial besar.
“Sebagian kandidat akan menolak uang AIPAC, tapi yang lain mungkin tetap menerimanya untuk membiayai kampanye mereka,” ujarnya.
Isu lobi AIPAC juga menjadi sorotan dalam kontestasi politik di Distrik ke-1 Missouri , tempat mantan anggota Kongres Cori Bush mencalonkan diri kembali setelah kalah dari Wesley Bell pada 2024. Dalam pemilihan sebelumnya, AIPAC menggelontorkan 8,5 juta dolar AS untuk mendukung Bell.
Bush menegaskan bahwa ia mencalonkan diri kembali karena ingin mewakili rakyat, bukan kepentingan donor kaya. “St. Louis pantas mendapatkan pemimpin yang tidak menunggu izin dan tidak tunduk pada penyandang dana,” ujarnya dalam video kampanye perdananya.
Analis politik Missouri Braxton Payne mengatakan kepada Jewish Insider bahwa isu Gaza dan Palestina akan menjadi tema utama kampanye Bush.
“Ada pergeseran besar dalam pandangan publik terhadap konflik di Gaza dan Palestina, dan itu akan menjadi narasi utama yang ia usung,” katanya.
Langkah sejumlah politisi Demokrat menjauh dari AIPAC mencerminkan pergeseran signifikan dalam politik AS, di mana dukungan tanpa syarat terhadap ‘Israel’ tidak lagi dianggap aman secara politik. Seiring meningkatnya kritik terhadap perang di Gaza, tekanan dari pemilih progresif dan kelompok pro-HAM tampaknya mulai mengubah arah kebijakan partai tersebut.*




