Hidayatullah.com – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, menegaskan pentingnya penguatan tiga jenis ukhuwah yakni ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah sebagai dasar menjaga persatuan umat dan bangsa. Hal itu ia sampaikan dalam sebuah forum internal MUI saat memaparkan peran lembaga tersebut dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.
Menurut Kiai Ma’ruf, ukhuwah islamiyah harus diperkuat sebagai fondasi. Penguatan tersebut, katanya, akan berdampak pada kokohnya ukhuwah wathaniyah, yaitu persaudaraan sesama warga negara, serta ukhuwah insaniyah, persaudaraan seluruh umat manusia. “Ini bagian dari tugas Majelis Ulama untuk menjaga umat,” ujar Wakil Presiden RI ke-13 di pembukaan, Munas MUI ke-11 yang berlangsung di Mercure Convention Center Ancol, Kamis (20/11/2025).
Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa MUI melalui berbagai program terus berupaya memberdayakan umat agar tidak menjadi beban negara dan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar. Ia menekankan bahwa kesejahteraan umat Islam, sebagai kelompok terbesar dalam jumlah penduduk Indonesia, berpengaruh langsung pada kesejahteraan bangsa.
“Kalau umat sejahtera, bangsa ini ikut sejahtera. Kalau umat tidak sejahtera, maka bangsa ini juga tidak sejahtera,” katanya. Karena itu, MUI melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi umat, yang menjadi bagian dari peran MUI sebagai Khadimul Ummah atau pelayan umat.
Mitra Pemerintah dengan Prinsip Membantu dan Meluruskan
Dalam kapasitas MUI sebagai Shadiqul Hukumah atau mitra pemerintah, Kiai Ma’ruf menjelaskan bahwa hubungan tersebut dijalankan dengan prinsip yang pernah disebut Sayyidina Abu Bakar saat menjadi khalifah. “Apa yang baik, bantu saya. Apa yang tidak baik, luruskan saya,” kutipnya.
Ia menegaskan bahwa MUI menerapkan prinsip membantu pemerintah dalam hal-hal yang positif dan memberikan pelurusan atas hal-hal yang dinilai tidak baik. Namun, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa MUI tidak menggunakan istilah kritik dalam memberi masukan kepada pemerintah. “Yang digunakan adalah tausiyah. Karena tausiyah itu nasihat dari yang mencintai kepada yang dicintai,” jelasnya. Ia menambahkan, apabila MUI memberi tausiyah, itu menandakan kecintaan kepada pemerintah.
Kiai Ma’ruf menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintahan berada pada jalur yang tepat sehingga besar kemungkinan MUI tidak perlu sering memberikan tausiyah.
Dalam pemaparannya, Kiai Ma’ruf juga menyoroti pentingnya pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan pemanfaatan kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal tersebut, menurutnya, sejalan dengan ajaran Islam agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang kaya.
Ia menilai pembangunan ekonomi yang hanya mengalir dari atas ke bawah (top-down) tidak efektif karena sering tidak membawa manfaat ke masyarakat bawah. Karena itu, MUI mendorong pembangunan ekonomi yang bergerak dari bawah, yang pernah ia gagas sebagai arus baru ekonomi Indonesia pada 2017.
Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa semangat tersebut selaras dengan pandangan Presiden Prabowo. Ia mengatakan para pendiri bangsa akan bangga apabila pasal tersebut dijalankan sepenuhnya, dan sebaliknya akan kecewa bila ada upaya melemahkan atau menghapusnya dari konstitusi.
Di akhir pernyataannya, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa MUI dengan lebih dari 80 ormas Islam di dalamnya siap mendukung penuh kebijakan dan program pemerintah yang bertujuan memberdayakan dan mensejahterakan rakyat.
“Majelis Ulama Indonesia akan mendukung program pemerintah dalam rangka memajukan dan memakmurkan Indonesia, termasuk pelaksanaan Pasal 33 secara penuh,” tegasnya. Dengan dukungan tersebut, Kiai Ma’ruf berharap kemerdekaan benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh rakyat Indonesia.*Azim Arrasyid




