Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Prof. Syamsuddin Arif Tegaskan Urgensi Melawan Relativisme Melalui Filsafat Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Desember 2025 09:43 9:43 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 Desember 2025 09:37
Bagikan
Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Prof. Dr. Syamsuddin Arif dalam “Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS” yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta
Bagikan

Hidayatullah.com— Wacana tentang kebenaran kembali mendapat sorotan dalam ceramah Prof. Dr. Syamsuddin Arif. Ia menegaskan bahwa manusia sejak era purba hingga kini terus membicarakan kebenaran, namun ironisnya masih banyak yang tidak memahaminya. Dalam konteks era post-truth, menurutnya muncul pertanyaan-pertanyaan yang merelatifkan realitas dan mengguncang keyakinan.

“Manusia berbicara tentang kebenaran di mimbar, di jalanan, bahkan di laboratorium, tetapi banyak yang justru aktif menguburnya di lembah kebohongan,” ujar Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ini dalam “Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS” yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025).

Membongkar Struktur Kebenaran

Mengawali penjelasannya, salah satu penggagas lahirnya Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) memaparkan bahwa kebenaran memiliki tiga elemen pembentuk, yaitu truth bearer (penyandang kebenaran), truth value (nilai benar–salah), dan truth maker (penentu kebenaran). Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan realitas sebagai jangkar utamanya.

Ia kemudian menyoroti munculnya kekacauan berpikir yang disebut sebagai liberalisme pemikiran. Menurutnya, kekacauan ini terjadi ketika manusia mulai bermain-main dengan truth claim hingga menciptakan paradoks seperti false truth atau true lies, serta pernyataan bahwa kebenaran itu unknowable.

Baca Juga

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

“Inilah yang menjadi benih agnostisisme,” katanya.

Fondasi Kebenaran dalam Pandangan Islam

Merujuk pada definisi Ibnu Sina dalam Asy-Syifā’, Syamsuddin menjelaskan bahwa pandangan dunia Islam menawarkan struktur kebenaran yang tidak relatif. Ia menyebut tiga kategori kebenaran.

Pertama, al-haqq (kebenaran ontologis), yaitu kebenaran objektif yang independen dari pengakuan manusia. “Allah adalah Al-Haqq. Kematian itu haqq, Surga itu haqq. Ia tidak menunggu kita percaya untuk menjadi benar,” jelasnya.

Kedua, as-shidq (kebenaran logis/epistemologis), yakni kesesuaian antara ucapan atau pikiran dengan kenyataan.

Ketiga, as-shawāb (kebenaran praktis/metodologis), yaitu kebenaran yang dicapai melalui cara yang benar.

Sumber Ilmu: Melampaui Empirisisme Barat

Syamsuddin kemudian menguraikan sumber ilmu menurut ‘Aqāid an-Nasafī. Menurutnya, kalimat wa asbāb al-‘ilmi li al-khalqi tsalātsatun menunjukkan bahwa terdapat tiga sebab ilmu bagi manusia, sekaligus membantah gagasan empirisisme Barat yang membatasi kebenaran pada apa yang dapat dilihat mata.

Ia menjelaskan dua kategori besar sumber pengetahuan. Pertama, ilmu kasbī (hasil usaha), yang dibagi;Al-Hawāss as-salīmah (indera yang sehat) — empirical truth,  al-khabar ash-Shādiq (kabar yang benar) — testimonial truth, dan al-‘aql as-salīm (akal yang sehat) — logical truth.

Kedua, ilmu wahbī (pemberian ilahi), yakni ilhām atau intuisi — inspirational truth. “Empiris itu penting, tapi tidak cukup. Banyak hal yang kita ketahui tidak melalui indera, termasuk sejarah para nabi,” ujarnya.

Pengetahuan sebagai Kebenaran

Menutup ceramahnya, Prof. Syamsuddin mengutip filsuf analitik John Austin yang menyatakan bahwa seseorang disebut mengetahui sesuatu jika hal itu benar. Tidak dikenal istilah mengetahui yang salah.

“Jika salah, itu bukan pengetahuan, tetapi kekeliruan atau dugaan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam Islam, pengetahuan identik dengan kebenaran. “Mencari ilmu berarti mencari al-haqq. Dalam Islam, knowledge dan truth tidak terpisahkan,” tutup fisful muda yang menguasai banyak bahasa ini.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-haqqHeadlineislamkebenarankebenaran relatifPost TruthrelativismeSyamsuddin Arif
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Israel’ Mengaku Tidak Akan Mundur dari Wilayah Suriah yang Dicaploknya
Tulisan selanjutnya 'Berebut Surga', Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu di Pengadilan ‘Berebut Surga’, Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu di Pengadilan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

4 Juni 2026 08:06
Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

3 Juni 2026 13:30
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?