Hidayatullah.com— Wacana tentang kebenaran kembali mendapat sorotan dalam ceramah Prof. Dr. Syamsuddin Arif. Ia menegaskan bahwa manusia sejak era purba hingga kini terus membicarakan kebenaran, namun ironisnya masih banyak yang tidak memahaminya. Dalam konteks era post-truth, menurutnya muncul pertanyaan-pertanyaan yang merelatifkan realitas dan mengguncang keyakinan.
“Manusia berbicara tentang kebenaran di mimbar, di jalanan, bahkan di laboratorium, tetapi banyak yang justru aktif menguburnya di lembah kebohongan,” ujar Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ini dalam “Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS” yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Membongkar Struktur Kebenaran
Mengawali penjelasannya, salah satu penggagas lahirnya Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) memaparkan bahwa kebenaran memiliki tiga elemen pembentuk, yaitu truth bearer (penyandang kebenaran), truth value (nilai benar–salah), dan truth maker (penentu kebenaran). Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan realitas sebagai jangkar utamanya.
Ia kemudian menyoroti munculnya kekacauan berpikir yang disebut sebagai liberalisme pemikiran. Menurutnya, kekacauan ini terjadi ketika manusia mulai bermain-main dengan truth claim hingga menciptakan paradoks seperti false truth atau true lies, serta pernyataan bahwa kebenaran itu unknowable.
“Inilah yang menjadi benih agnostisisme,” katanya.
Fondasi Kebenaran dalam Pandangan Islam
Merujuk pada definisi Ibnu Sina dalam Asy-Syifā’, Syamsuddin menjelaskan bahwa pandangan dunia Islam menawarkan struktur kebenaran yang tidak relatif. Ia menyebut tiga kategori kebenaran.
Pertama, al-haqq (kebenaran ontologis), yaitu kebenaran objektif yang independen dari pengakuan manusia. “Allah adalah Al-Haqq. Kematian itu haqq, Surga itu haqq. Ia tidak menunggu kita percaya untuk menjadi benar,” jelasnya.
Kedua, as-shidq (kebenaran logis/epistemologis), yakni kesesuaian antara ucapan atau pikiran dengan kenyataan.
Ketiga, as-shawāb (kebenaran praktis/metodologis), yaitu kebenaran yang dicapai melalui cara yang benar.
Sumber Ilmu: Melampaui Empirisisme Barat
Syamsuddin kemudian menguraikan sumber ilmu menurut ‘Aqāid an-Nasafī. Menurutnya, kalimat wa asbāb al-‘ilmi li al-khalqi tsalātsatun menunjukkan bahwa terdapat tiga sebab ilmu bagi manusia, sekaligus membantah gagasan empirisisme Barat yang membatasi kebenaran pada apa yang dapat dilihat mata.
Ia menjelaskan dua kategori besar sumber pengetahuan. Pertama, ilmu kasbī (hasil usaha), yang dibagi;Al-Hawāss as-salīmah (indera yang sehat) — empirical truth, al-khabar ash-Shādiq (kabar yang benar) — testimonial truth, dan al-‘aql as-salīm (akal yang sehat) — logical truth.
Kedua, ilmu wahbī (pemberian ilahi), yakni ilhām atau intuisi — inspirational truth. “Empiris itu penting, tapi tidak cukup. Banyak hal yang kita ketahui tidak melalui indera, termasuk sejarah para nabi,” ujarnya.
Pengetahuan sebagai Kebenaran
Menutup ceramahnya, Prof. Syamsuddin mengutip filsuf analitik John Austin yang menyatakan bahwa seseorang disebut mengetahui sesuatu jika hal itu benar. Tidak dikenal istilah mengetahui yang salah.
“Jika salah, itu bukan pengetahuan, tetapi kekeliruan atau dugaan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam Islam, pengetahuan identik dengan kebenaran. “Mencari ilmu berarti mencari al-haqq. Dalam Islam, knowledge dan truth tidak terpisahkan,” tutup fisful muda yang menguasai banyak bahasa ini.*




