Hidayatullah.com – Arab Saudi dan Qatar telah menyepakati perjanjian resmi untuk membangun jalur kereta cepat yang menghubungkan ibu kota kedua negara. Proyek kereta cepat listrik tersebut diperkirakan akan rampung pada tahun 2030.
Menurut pernyataan resmi Saudi pada Senin, “jalur kereta api penumpang listrik berkecepatan tinggi” akan menghubungkan Bandara Internasional Raja Salman di Riyadh dengan Bandara Internasional Hamad di Doha. Jalur itu juga akan melewati kota Al-Hofuf dan Dammam.
Saat ini, jalur transportasi paling cepat antara kedua kota berbeda negara itu melalui udara dan memakan waktu sekitar 90 menit.
Menurut Al-Jazeera pada Senin (08/12/2025), dengan kereta cepat perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam. Kereta tersebut dilaporkan dapat mencapai kecepatan lebih dari 300 km/jam.
Proyek ini, yang direncanakan selesai dalam enam tahun, diharapkan dapat melayani 10 juta penumpang per tahun dan menciptakan 30.000 lapangan kerja di kedua negara, imbuh pernyataan tersebut.
Perjanjian kereta cepat ditandatangani oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani saat berkunjung ke Riyadh.
Proyek dan diplomasi penting
Proyek ini dianggap salah satu proyek infrastruktur modern paling signifikan antara Arab Saudi dan Qatar yang pernah memiliki hubungan buruk beberapa tahun lalu.
Pada Juni 2017, Arab Saudi dan sekutunya, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, telah memutuskan semua hubungan diplomatik dan transportasi dengan Qatar.
Mereka menuduh Doha mendukung kelompok-kelompok seperti Ikhwanul Muslimin dan berupaya berhubungan dekat dengan rival Saudi, Iran. Tuduhan itu telah disangkal oleh Qatar.
Hubungan keduanya pulih total pada Januari 2021 setelah pertemuan antar negara di Al-Ula, Arab Saudi. Pada Desember 2021, Putra Mahkota MBS untuk pertama kalinya sejak membaiknya hubungan, melakukan kunjungan ke Doha.
Sejak itu, para pemimpin dari kedua kerajaan telah bertemu secara berkala dan bergabung untuk mendukung inisiatif diplomatik, termasuk seruan gencatan senjata dalam perang genosida Israel yang telah berlangsung lebih dari dua tahun terhadap warga Palestina di Gaza.
Riyadh juga memberikan dukungannya kepada Qatar setelah serangan pertama ‘Israel’ yang diketahui terhadap Qatar pada bulan September, yang menargetkan para pemimpin kelompok Palestina Hamas, yang tinggal di kompleks perumahan pemerintah Qatar, saat mereka berkumpul untuk membahas kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Setidaknya enam orang syahid dan empat lainnya terluka dalam serangan tersebut, termasuk anggota Hamas dan pasukan keamanan Qatar serta warga sipil.*




