Hidayatullah.com– Partai politik dukungan militer Myanmar, Union Solidarity and Development Party, berdasarkan hasil perhitungan awal yang dikutip media unggul dalam perolehan suara pemilihan umum pertama yang digelar sejak kudeta militer 2021.
Setelah memerangi kelompok-kelompok pemberontak di seluruh penjuru negeri dan menindak keras aksi-aksi protes pro-demokrasi, junta militer mengatakan pemilu tiga tahap akan mendatangkan stabilitas politik di negara Asia Tenggara yang miskin itu.
Hasil perhitungan sementara oleh Union Election Commission (UEC) untuk 56 konstituensi menunjukkan parpol dukungan junt unggul dengan margin besar meskipun pemilik suara yang menggunakan haknya sedikit.
Perhitungan sementara yang dipublikasikan hari Jumat (2/1/2026) menunjukkan Union Solidarity and Development Party (USDP), yang dipimpin para pensiunan jenderal, memenangkan 38 dari 40 kursi di Pyithu Hluttaw atau majelis rendah parlemen Myanmar. Shan Nationalities Democratic Party, yang juga dikenal sebagai Partai Harimau Putih dan Mon Unity Party (MUP) masing-masing hanya mendapatkan satu kursi, lansir Reuters.
Sebanyak 14 dari 15 kursi di State Hluttaw dikuasai USDP, sementara Akha National Development Party mendapatkan satu kursi.Untuk majelis tinggi atau Amyotha Hluttaw, hanya satu kursi yang sudah diumumkan, yang dimenangkan oleh Wa National Party.
Tidak ada tanggal pasti kapan hasil akhir pemilu akan diumumkan, dan tidak diperkenankan untuk mengkritik hasil pemilu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejumlah negara Barat dan kelompok peduli HAM mengkritik pemilu itu karena tidak diikuti oleh partai-partai politik yang diketahui menentang junta militer.
Hari Rabu, junta mengatakan 52% pemilih atau lebih dari setengah warga yang berhak untuk memilih sudah menggunakan hak suaranya dalam pemilu tahap pertama.
Angka itu lebih rendah dibandingkan sekitar 70% yang memberikan suaranya paa pemilu 2020 dan 2015, menurut data organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat International Foundation for Electoral Systems.
Pemilu putaran kedua dijadwalkan akan digelar pada 11 Januari dan putaran ketiga tanggal 25 Januari, yang akan mencakup 265 dari 330 daerah di Myanmar, yang sebagian belum sepenuhnya berada di bawah kontrol junta.
Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian yang partainya menang telak dalam pemilu 2020, saat ini masih dalam tahanan. Partai politiknya National League for Democracy sudah dibubarkan.*




