Hidayatullah.com – Lebih dari 40 hari, Ibu Desi (43) bersama suami dan 3 orang anaknya terpaksa tidur di tenda pengungsian setelah rumah kayu miliknya hanyut dan terbawa arus sejauh 20 meter pada saat banjir menerjang desa Seumadam, 26 November 2025 lalu.
Tidak ada harta benda yang bisa diselamatkan. Yang tersisa hanya pakaian dibadan.
“Kami meninggalkan rumah saat air sudah setinggi pinggul orang dewasa. Yang bisa kami bawa hanya anak-anak. Mereka kami gendong sejauh 1 kilometer ke daerah dataran tinggi dalam kondisi hujan deras. Waktu itu, menjelang maghrib dan gelap gulita. Sepanjang jalan kami menangis dan ketakutan”, kenang Bu Desi dengan suara tangis yang pecah menceritakan kejadian tersebut.
Kondisi itu menyisakan trauma dan kesedihan yang mendalam bagi Bu Desi dan keluarganya. Bahkan beberapa kali ia mengalami drop dan sakit.
“Mungkin karena kurang tidur, sebab setiap melihat anak-anak tidur kedinginan di tenda, saya tidak kuat untuk tidak menangis, terang bu Desi.
Sedih karena disaat yang sama, kami tidak tahu dan bahkan belum bisa membayangkan, bagaimana cara untuk bisa merakit kembali puing-puing rumah kami yang tersisa.
Kami sangat ingin memperbaiki rumah kami, setidaknya anak-anak tidak harus kedinginan lagi di tenda. Namun, jangankan untuk beli material, makan pun kami masih bergantung dari bantuan orang lain” ungkap Ibu 3 anak ini dengan sesekali mengusap pipinya yang basah.
Jamal (45), Imam dusun setempat pun menceritakan bahwa diantara warga yang terdampak banjir di kampungnya, keluarga Bu Desi merupakan salah satu yang sangat rentan secara ekonomi.
“Keluarga Bu Desi ini merupakan salah satu yang sangat rentan ekonominya. Rumah mereka yang hanyut ini pun sebelumnya pernah direnovasi dari bantuan sosial karena kondisinya yang tidak layak. Dan sekarang kondisinya lebih parah lagi. Saat kami tawarkan untuk merelokasi rangka rumah ke posisi semula (setelah terseret banjir) pun, mereka belum siap, dengan alasan khawatir gak bisa dibangun karena beli paku pun belum ada biaya, ungkapnya.
Menjadi Penerima Program Recycle House BMH
LAZNAS BMH melalui program Recycle House mulai melakukan rehabilitasi rumah-rumah warga yang terdampak banjir di kabupaten Aceh Tamiang.
Sebanyak 100 unit rumah dengan kondisi rusak berat, menjadi prioritas program di tahap 1 ini. Alhamdulillah, 3 rumah diantaranya telah mulai kita kerjakan hari ini, termasuk Rumah Bu Desi, ungkap Syamsuddin, Direktur Program dan Pendayagunaan BMH yang mengawal langsung impementasi program tersebut di Desa Seumadam, 6 November 2026.
Menurut Syamsuddin, Program Recycle House ini digerakkan berbasis partisipasi warga dengan skema padat karya dan memaksimalkan potensi sumber daya yang tersedia di lokasi, termasuk material rumah terdampak yang masih layak untuk digunakan.
Kami ingin melakukan rehabilitasi rumah ini dilakukan secara cepat, efisien dan memberdayakan.
Alhamdulillah, inisiatif ini disambut sangat baik oleh stakeholders BMH, termasuk warga yang ikut gotong royong membantu program ini berjalan.*




