Hidayatullah.com— Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pemilih muda di Inggris menyatakan pandangan negatif terhadap keberadaan “negara palsu’ Israel.
Hasil jajak pendapat media UnHerd, yang didasarkan pada data riset dari lembaga Focaldata, menemukan bahwa sekitar 54 persen responden berusia 18–24 tahun menyepakati pernyataan bahwa “Israel seharusnya tidak ada”.
Hanya 21 persen yang menyatakan tidak setuju dengan pernyataan ini. Survei ini melibatkan lebih dari 1.000 pemilih Inggris, demikian dikutip laman resmi UnHerd.
Temuan ini menjadi sorotan publik karena menggambarkan pergeseran opini di kalangan generasi muda Inggris terhadap isu geopolitik Timur Tengah.
Dalam survei yang sama, responden muda juga diminta menyebut pihak yang lebih bertanggung jawab atas genosida Gaza. Sekitar 50 persen menyalahkan pemerintah Israel.
Direktur Riset Focaldata, yang tidak disebutkan namanya dalam publikasi awal hasil polling, mengatakan bahwa tren opini ini menunjukkan bagaimana eksposur terhadap informasi konflik internasional melalui internet dan media sosial memengaruhi cara pandang generasi muda.
Menurut data UnHerd, konten yang berkaitan dengan genosida Gaza dan dampaknya tersebar luas di platform seperti Instagram dan TikTok, dengan satu grafik yang menunjukkan fokus ke Rafah dibagikan lebih dari 44 juta kali di Instagram.
Pengamat politik internasional di University College London (UCL), Dr. Emily Carter, menyatakan kepada media bahwa hasil survei ini tidak bisa dipandang terpisah dari konteks geopolitik global yang sedang berlangsung, terutama genosida Israel di Gaza yang telah menarik perhatian besar di seluruh dunia dan memobilisasi opini kaum muda melalui media digital.
“Ketidakpercayaan terhadap narasi tradisional tentang konflik bisa tumbuh cepat di antara generasi yang sangat aktif di media sosial,” tulis Carter.
Carter tidak terlibat langsung dalam survei ini tetapi mengomentari tren opini publik secara umum.
Survei UnHerd ini berkaitan dengan kecenderungan lebih luas dalam opini publik internasional terhadap konflik Israel–Palestina.
Middle East Monitor melaporkan bahwa survei yang sama menunjukkan minat tinggi generasi muda Inggris terhadap berita Gaza dibandingkan dengan konflik lain seperti Rusia–Ukraina atau ketegangan AS–China.
Namun, penting dicatat bahwa temuan ini tidak menggambarkan pandangan seluruh populasi Inggris.
Survei lain dari lembaga berbeda seperti YouGov dan More in Common menunjukkan bahwa dukungan terhadap penjajah tetap bervariasi di seluruh demografi dan isu-isu yang berkaitan dengan aksi genosida ini.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Inggris menanggapi hasil survei ini secara langsung. Pemerintah biasanya mengacu pada kebijakan luar negeri yang konsisten, yang mencakup dukungan terhadap dua negara (two-state solution), sebuah solusi yang tidak pernah diinginkan bangsa Palestina sendiri.*




